Jeritan Peternak Ayam Broiler: Harga Terjun Bebas di Kandang, Kerugian Mencapai Ratusan Juta Rupiah

Siti Aminah | Totonews
14 Jun 2026, 06:42 WIB
Jeritan Peternak Ayam Broiler: Harga Terjun Bebas di Kandang, Kerugian Mencapai Ratusan Juta Rupiah

TotoNews — Sektor peternakan unggas nasional kini tengah berada di titik nadir yang mengkhawatirkan. Para peternak ayam pedaging atau broiler di berbagai daerah kini hanya bisa gigit jari melihat realita pahit di lapangan. Bagaimana tidak, harga ayam di tingkat kandang dilaporkan terjun bebas hingga menyentuh angka yang tidak masuk akal secara bisnis, meninggalkan luka finansial yang sangat dalam bagi para pelaku usaha kecil dan menengah.

Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) mengungkapkan sebuah ironi besar yang terjadi di industri pangan kita. Di saat harga kebutuhan pokok lainnya merangkak naik, harga ayam justru mengalami deflasi tajam di tingkat produsen. Saat ini, harga jual ayam hidup (live bird) hanya berkisar di angka Rp 15.500 hingga Rp 16.000 per kilogram. Angka ini jauh di bawah standar kemakmuran yang diharapkan para peternak untuk sekadar menyambung napas operasional mereka.

Baca Juga

Kabar Gembira Jelang Idul Adha: DJP Pastikan Transaksi Hewan Kurban Bebas Pajak PPN

Kabar Gembira Jelang Idul Adha: DJP Pastikan Transaksi Hewan Kurban Bebas Pajak PPN

Jurang Terjal Antara Regulasi dan Realita Pasar

Kondisi ini terasa semakin menyakitkan jika kita menilik aturan yang telah ditetapkan oleh Badan Pangan Nasional. Berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 6 Tahun 2024, harga acuan pembelian (HAP) di tingkat produsen seharusnya berada di angka Rp 25.000 per kilogram. Ada selisih hampir Rp 10.000 yang hilang menguap begitu saja, menjadi kerugian yang harus ditanggung sepenuhnya oleh peternak.

Asep Saepudin, salah satu peternak yang bernaung di bawah Permindo, membagikan keluh kesahnya. Menurutnya, kerugian ini bersifat masif. Bagi mereka yang memiliki populasi ayam dalam skala besar, angka kerugian bisa menembus ratusan juta rupiah hanya dalam satu siklus panen. “Harga masih tertahan di Rp 15.500-16.000/kg. Belum ada tanda-tanda kenaikan. Untuk populasi kecil saja, kerugian sudah mencapai puluhan juta karena setiap kilogramnya kami rugi sekitar Rp 4.000,” ungkap Asep dengan nada getir.

Baca Juga

Angin Segar Geopolitik: Harga Bitcoin Meroket di Tengah Damai AS-Iran, Sinyal Positif Bagi Pasar Kripto Global

Angin Segar Geopolitik: Harga Bitcoin Meroket di Tengah Damai AS-Iran, Sinyal Positif Bagi Pasar Kripto Global

Biaya Produksi yang Tercekik Kenaikan Pakan

Penyebab utama dari kerugian ini bukan hanya soal harga jual yang rendah, melainkan juga biaya operasional yang melambung tinggi. Sepanjang tahun 2026, komponen biaya produksi mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Salah satu yang paling mencekik adalah harga pakan ternak yang kini bertengger di kisaran Rp 8.800 hingga Rp 9.400 per kilogram.

Tak hanya pakan, harga bibit ayam atau Day Old Chick (DOC) juga ikut membebani. Ketua Umum Permindo, Kusnan, menyebutkan bahwa harga DOC final stock saat ini berada pada kisaran Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per ekor. Jika dikalkulasikan secara menyeluruh, Harga Pokok Produksi (HPP) broiler saat ini diperkirakan telah mencapai Rp 21.000 hingga Rp 22.000 per kilogram.

Baca Juga

Demi Ketahanan Energi Nasional, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Beri Sinyal Impor Minyak dari Rusia

Demi Ketahanan Energi Nasional, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Beri Sinyal Impor Minyak dari Rusia

“Artinya, peternak rakyat saat ini harus menanggung beban kerugian sekitar Rp 5.000 hingga Rp 7.000 untuk setiap kilogram ayam yang mereka hasilkan. Jika satu ekor ayam panen memiliki bobot 2 kilogram, maka kerugian per ekor mencapai Rp 10.000 sampai Rp 14.000. Bayangkan jika peternak memelihara puluhan ribu ekor, kerugiannya sangat fantastis,” jelas Kusnan merinci kondisi finansial para peternak.

Tujuh Tuntutan untuk Menyelamatkan Nasib Peternak Rakyat

Melihat kondisi yang kian kritis, komunitas peternak tidak tinggal diam. Mereka melayangkan tujuh tuntutan strategis kepada pemerintah agar ada intervensi nyata untuk menstabilkan harga dan melindungi keberlangsungan usaha peternak mandiri. Tuntutan ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang bagi industri unggas nasional.

Baca Juga

Rekor Gemilang! Neraca Dagang Indonesia Surplus 71 Bulan Beruntun, Sektor Komoditas Jadi Penyelamat Ekonomi Nasional

Rekor Gemilang! Neraca Dagang Indonesia Surplus 71 Bulan Beruntun, Sektor Komoditas Jadi Penyelamat Ekonomi Nasional

1. Akses Luas ke Ritel Modern

Peternak meminta pemerintah untuk mempermudah dan memperluas akses produk unggas rakyat masuk ke jaringan ritel modern. Mereka ingin memastikan bahwa ayam karkas segar, ayam beku, hingga telur tersedia di seluruh gerai seperti minimarket, supermarket, dan hypermarket di seluruh Indonesia tanpa hambatan birokrasi yang rumit.

2. Penyerapan oleh BUMN Pangan

Sama halnya dengan komoditas padi yang diserap oleh Bulog untuk menjaga stabilitas harga petani, peternak mendesak mekanisme serupa diterapkan pada sektor unggas. Pemerintah melalui BUMN Pangan diharapkan mampu menyerap produksi ayam saat terjadi kelebihan pasokan (oversupply) yang menyebabkan harga jatuh.

3. Integrasi Program Makan Bergizi Gratis

Salah satu harapan besar peternak adalah dilibatkannya produk mereka dalam program-program strategis pemerintah, seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Integrasi ini dianggap sebagai solusi jitu karena menciptakan pasar yang pasti dan berkelanjutan, sekaligus membantu penanganan stunting di berbagai instansi negara seperti sekolah, pesantren, hingga asrama TNI/Polri.

4. Penguatan Logistik dan Rantai Dingin

Masalah klasik peternakan adalah disparitas harga antarwilayah. Peternak mendesak penguatan dukungan logistik nasional, termasuk pengembangan rantai dingin (cold chain) dan penambahan gudang pendingin (cold storage) di berbagai wilayah. Dengan distribusi yang merata, ayam dari daerah surplus dapat dialirkan ke daerah defisit dengan biaya logistik yang efisien.

5. Pemetaan Produksi Nasional yang Akurat

Saat ini, sekitar 70% populasi ayam nasional masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Hal ini sering kali memicu tekanan harga akibat pasokan yang menumpuk di satu titik. Peternak meminta pemerintah menyusun peta produksi yang lebih akurat dan mendorong investasi peternakan baru di luar Pulau Jawa untuk menciptakan keseimbangan suplai dan permintaan.

6. Pembentukan Cadangan Protein Hewani Nasional

Konsep Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dinilai perlu diduplikasi untuk sektor protein hewani. Dengan adanya Cadangan Protein Hewani Nasional berbasis ayam dan telur, pemerintah memiliki stok yang siap didistribusikan dalam kondisi darurat pangan atau saat terjadi lonjakan harga yang meresahkan masyarakat.

7. Gerakan “Ayam Rakyat Lawan Stunting”

Sebagai bentuk kontribusi sosial, peternak siap mendukung penuh program nasional untuk menurunkan angka stunting. Melalui gerakan ini, produksi daging ayam dari peternak rakyat dapat disalurkan secara langsung kepada keluarga berisiko stunting, ibu hamil, dan kelompok rentan gizi lainnya dengan skema yang saling menguntungkan.

Harapan di Tengah Ketidakpastian

Situasi yang dialami para peternak ayam saat ini bukan sekadar masalah angka di atas kertas, melainkan menyangkut hajat hidup orang banyak. Jika kerugian ini terus berlanjut tanpa ada intervensi dari pemangku kebijakan, dikhawatirkan banyak peternak mandiri akan gulung tikar. Hal ini tentu akan berdampak pada berkurangnya pasokan protein hewani nasional di masa depan, yang ujung-ujungnya bisa memicu lonjakan harga di tingkat konsumen.

TotoNews akan terus mengawal perkembangan isu ini, memastikan suara para peternak di akar rumput terdengar hingga ke pusat kekuasaan. Sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat sangat dibutuhkan agar piring makan kita tetap terisi dengan protein ayam yang terjangkau, sembari memastikan para peternak kita tetap sejahtera dan berdaya.

Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *