Drama Hukum Makan Bergizi Gratis: Elza Syarief Mundur, Sony Sonjaya Terjebak Dugaan Ketidakjujuran

Rizky Ramadhan | Totonews
18 Jun 2026, 06:43 WIB
Drama Hukum Makan Bergizi Gratis: Elza Syarief Mundur, Sony Sonjaya Terjebak Dugaan Ketidakjujuran

TotoNews — Jagat hukum Indonesia kembali diguncang oleh drama pengunduran diri salah satu pengacara kondang tanah air, Elza Syarief. Langkah mengejutkan ini diambil Elza di tengah panasnya pengusutan kasus dugaan korupsi tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang melibatkan petinggi Badan Gizi Nasional (BGN). Elza secara resmi menyatakan mundur dari posisinya sebagai kuasa hukum Sony Sonjaya, mantan Wakil Kepala BGN, setelah mencium adanya aroma ketidakjujuran yang menyengat dari kliennya tersebut.

Keputusan besar ini bukanlah tanpa alasan. Elza, yang dikenal memiliki integritas tinggi dalam membela kliennya, merasa dikhianati oleh informasi yang tidak sinkron antara pengakuan Sony dengan temuan penyidik Kejaksaan Agung. Kasus yang menyeret program strategis nasional untuk periode 2025-2026 ini kini memasuki babak baru, di mana kejujuran menjadi barang langka di tengah pusaran aliran dana haram yang merugikan negara.

Baca Juga

Skandal Transfer Pricing CPO: Kejagung Bidik 10 Raksasa Sawit Atas Dugaan Manipulasi Ekspor

Skandal Transfer Pricing CPO: Kejagung Bidik 10 Raksasa Sawit Atas Dugaan Manipulasi Ekspor

Awal Mula Kekecewaan Elza Syarief

Pada mulanya, Elza Syarief setuju untuk memberikan pendampingan hukum kepada Sony Sonjaya secara pro bono atau cuma-cuma. Alasan di balik kedermawanan profesional ini adalah keyakinan awal Elza bahwa Sony merupakan sosok pejabat yang bersih dan menjadi korban dalam carut-marut birokrasi. Namun, seiring berjalannya waktu, tabir gelap mulai tersingkap.

Informasi krusial dari Kejaksaan Agung menyebutkan bahwa Sony diduga kuat menerima aliran dana dari pihak swasta, yakni Asep Yusuf Somantri (AYS), yang merupakan orang dekatnya sendiri. Temuan ini kontradiktif dengan pernyataan Sony kepada Elza. Merasa tidak diberikan fakta yang sebenarnya, Elza memilih untuk menarik diri sejak Senin, 15 Juni lalu. Ia menegaskan bahwa dasar dari hubungan pengacara dan klien adalah kepercayaan, dan ketika kejujuran itu hilang, maka tidak ada lagi alasan untuk bertahan.

Baca Juga

Eksplorasi Sudut Jakarta: Menelusuri Jejak Bahagia Warga di Tengah Riuh Libur Panjang Akhir Pekan

Eksplorasi Sudut Jakarta: Menelusuri Jejak Bahagia Warga di Tengah Riuh Libur Panjang Akhir Pekan

“Beliau tidak jujur kepada saya. Informasi yang saya terima dari Kejaksaan justru mengungkap fakta sebaliknya. Sebagai praktisi hukum, saya tidak bisa menoleransi manipulasi fakta seperti ini,” ungkap Elza dalam sebuah wawancara eksklusif yang dirangkum oleh TotoNews. Kekecewaan ini semakin mendalam setelah muncul kabar bahwa posisi Sony sebagai Justice Collaborator (JC) kini berada di ujung tanduk.

Dua Klaster Korupsi dalam Program Makan Bergizi Gratis

Kasus yang tengah ditangani oleh Jaksa Agung Muda Bidana Khusus (Jampidsus) ini ternyata memiliki struktur kejahatan yang terorganisir. Direktur Penyidikan Jampidsus, Syarief Sulaeman Nahdi, menjelaskan bahwa terdapat dua klaster utama dalam skandal Makan Bergizi Gratis ini. Pertama adalah klaster jual beli titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dan kedua adalah klaster penggelembungan harga atau markup pengadaan barang dan jasa.

Baca Juga

Visi Keras Netanyahu dan Trump: Menghapus Total Ambisi Nuklir Iran Tanpa Kompromi

Visi Keras Netanyahu dan Trump: Menghapus Total Ambisi Nuklir Iran Tanpa Kompromi

Modus operandi yang dilakukan para tersangka tergolong rapi namun destruktif. Penentuan lokasi SPPG yang seharusnya didasarkan pada kebutuhan gizi masyarakat di berbagai daerah, justru dijadikan komoditas bisnis untuk meraup keuntungan pribadi. Sementara itu, dalam pengadaan sarana pendukung seperti motor listrik dan peralatan dapur, terjadi penggelembungan harga yang fantastis, yang secara langsung menguras anggaran negara yang seharusnya dialokasikan untuk perbaikan gizi anak-anak bangsa.

Nasib Status Justice Collaborator Sony Sonjaya

Kejaksaan Agung RI hingga kini masih melakukan penelaahan mendalam terhadap permohonan Justice Collaborator yang diajukan oleh Sony Sonjaya. Jaksa Agung Muda Pidana Khusus, Febrie Adriansyah, menekankan bahwa ada tiga pertimbangan utama sebelum memberikan status istimewa tersebut kepada seorang tersangka.

Baca Juga

Bareskrim Polri Dorong Perampasan Aset Bandar Masuk RUU Narkotika: Strategi Lumpuhkan Gurita Bisnis Haram

Bareskrim Polri Dorong Perampasan Aset Bandar Masuk RUU Narkotika: Strategi Lumpuhkan Gurita Bisnis Haram
  • Pertama, penyidik akan melihat sejauh mana kekuatan alat bukti yang sudah dimiliki saat ini tanpa keterangan tambahan dari Sony.
  • Kedua, kapasitas informasi yang diberikan Sony harus mampu membongkar pelaku yang lebih besar atau aktor intelektual di balik skandal ini.
  • Ketiga, konsistensi dan kejujuran tersangka dalam memberikan keterangan di hadapan penyidik.

“Kami tidak ingin gegabah. Posisi JC bukan hadiah, melainkan kompensasi atas kejujuran yang membantu negara. Jika faktanya tersangka masih menutup-nutupi peran pihak lain atau bahkan perannya sendiri, maka permohonan itu sulit untuk dikabulkan,” tegas Febrie di kantor BPA Kejaksaan Agung. Hal ini sejalan dengan pernyataan Elza Syarief yang menyebutkan bahwa Kejaksaan belum tentu memberikan JC kepada Sony setelah melihat kesaksian dari tersangka Asep Yusuf Somantri.

Penerapan Pasal TPPU: Mengejar Aset dan Pemulihan Kerugian Negara

Tak hanya berhenti pada pasal tindak pidana korupsi, Kejaksaan Agung juga membuka peluang lebar untuk menerapkan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dalam kasus ini. Langkah ini diambil sebagai instrumen untuk melacak kemana saja uang haram hasil korupsi tersebut mengalir. Kapuspenkum Kejagung, Anang Supriatna, menyatakan bahwa fokus utama saat ini adalah pemulihan kerugian keuangan negara.

“Kami tidak hanya ingin mempidanakan orangnya, tetapi juga merampas kembali aset-aset yang dibeli dari uang rakyat. Instrumen TPPU akan kami gunakan secara maksimal terhadap pihak-pihak yang terbukti menerima dan menyamarkan asal-usul uang tersebut,” ujar Anang. Hingga saat ini, penyidik terus mengumpulkan bukti tambahan, termasuk melakukan penyegelan terhadap gudang motor listrik yang diduga berkaitan erat dengan transaksi keuangan mencurigakan dalam proyek BGN ini.

Daftar Tersangka dan Fokus Penyidikan

Sejauh ini, Kejaksaan Agung telah menetapkan lima orang tersangka yang dianggap paling bertanggung jawab atas kegagalan tata kelola di Badan Gizi Nasional. Mereka berasal dari unsur birokrasi level atas hingga pihak swasta yang bertindak sebagai penyedia jasa. Berikut adalah daftar tersangka yang kini mendekam di balik jeruji besi:

  1. Dadan Hindayana: Mantan Kepala BGN yang diduga memberikan lampu hijau atas kebijakan yang menyimpang.
  2. Sony Sonjaya: Mantan Wakil Kepala BGN yang kini kehilangan pembelaan dari Elza Syarief.
  3. Lodewyk Pusung: Mantan Wakil Kepala BGN lainnya yang turut terseret dalam pusaran kebijakan SPPG.
  4. Asep Yusuf Somantri (AYS): Pihak swasta sekaligus orang kepercayaan Sony yang menjadi jembatan aliran dana.
  5. Andri Mulyono (AM): Komisaris PT Yasa Artha Trimanunggal yang berperan dalam pengadaan barang.

Penyidik saat ini sedang fokus merampungkan berkas perkara kelima tersangka tersebut agar bisa segera dilimpahkan ke pengadilan. Kejaksaan Agung berkomitmen agar proses hukum ini tidak mengganggu jalannya program Badan Gizi Nasional secara keseluruhan, karena tujuan mulia dari program Makan Bergizi Gratis harus tetap tercapai demi kepentingan generasi mendatang, namun dengan tata kelola yang bersih dan transparan.

Mundurnya Elza Syarief menjadi sinyal kuat bahwa kasus ini memiliki kompleksitas moral dan hukum yang tinggi. Bagi publik, ini adalah pengingat bahwa program yang membawa embel-embel kemanusiaan dan gizi pun tidak luput dari incaran para pemburu rente. TotoNews akan terus mengawal perkembangan kasus ini hingga ke meja hijau, memastikan bahwa setiap rupiah uang rakyat dipertanggungjawabkan dengan adil.

Rizky Ramadhan

Rizky Ramadhan

Mantan mekanik yang beralih menjadi jurnalis otomotif. Tulisannya dikenal tajam dalam mengulas performa mesin dan tren kendaraan masa depan di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *