Eksperimen Berbahaya: Viral Paracetamol untuk Pupuk Cabai, Kementan Beri Peringatan Keras bagi Petani

Siti Aminah | Totonews
20 Jun 2026, 08:42 WIB
Eksperimen Berbahaya: Viral Paracetamol untuk Pupuk Cabai, Kementan Beri Peringatan Keras bagi Petani

TotoNews — Jagat maya belakangan ini dihebohkan oleh sebuah fenomena yang cukup nyeleneh sekaligus memprihatinkan di kalangan petani lokal. Sebuah unggahan video pendek mendadak viral, memperlihatkan aksi seorang petani yang nekat menggunakan obat-obatan farmasi manusia, yakni paracetamol dan vitamin B kompleks, untuk menyuburkan tanaman cabai miliknya. Praktik non-konvensional ini diklaim sebagai solusi alternatif di tengah melambungnya harga sarana produksi pertanian akibat fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kian menekan kantong para pahlawan pangan.

Tanggapan Resmi Kementerian Pertanian: Bukan Untuk Tanaman!

Merespons gelombang spekulasi yang berkembang luas di masyarakat, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian (Kementan), Muhammad Agung Sunusi, memberikan pernyataan tegas. Menurutnya, penggunaan paracetamol dan vitamin B kompleks dalam budi daya cabai sama sekali tidak direkomendasikan dan tidak memiliki dasar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan di Indonesia.

Baca Juga

Kurs Rupiah Terkapar di Level Rp 17.600: Akankah Rp 17.000 Jadi Titik Keseimbangan Baru?

Kurs Rupiah Terkapar di Level Rp 17.600: Akankah Rp 17.000 Jadi Titik Keseimbangan Baru?

Agung menilai bahwa apa yang dilakukan oleh oknum petani tersebut kemungkinan besar hanya didasari oleh pengalaman empiris pribadi yang bersifat spekulatif atau sekadar mengikuti tren tanpa dasar yang beredar di media sosial. Ia menegaskan bahwa tanaman memiliki sistem metabolisme yang jauh berbeda dengan manusia, sehingga memberikan obat-obatan manusia ke dalam ekosistem tanah adalah tindakan yang gegabah.

“Sampai detik ini, belum ada bukti ilmiah yang memadai yang menunjukkan bahwa paracetamol mampu meningkatkan produktivitas cabai secara konsisten, aman, apalagi ekonomis di skala lapangan. Oleh karena itu, praktik semacam ini tidak boleh dijadikan acuan dalam standar budi daya yang direkomendasikan pemerintah,” ujar Agung saat dikonfirmasi oleh tim TotoNews.

Baca Juga

Ditjen Pajak Bidik Peserta Tax Amnesty Jilid II: Harta yang Tak Terlapor Siap-Siap Masuk Radar Pemeriksaan

Ditjen Pajak Bidik Peserta Tax Amnesty Jilid II: Harta yang Tak Terlapor Siap-Siap Masuk Radar Pemeriksaan

Faktor Ekonomi dan Pelemahan Rupiah

Tidak bisa dimungkiri, alasan di balik munculnya inovasi “nekat” ini berakar pada persoalan ekonomi. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika memang memberikan dampak domino pada industri pertanian, terutama pada bahan baku impor untuk pembuatan pupuk dan pestisida kimia. Kenaikan biaya operasional memaksa petani untuk memutar otak, meski terkadang menempuh jalan yang berisiko.

Agung tidak menampik bahwa gejolak kurs memengaruhi harga input pertanian. Namun, ia memastikan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Upaya menjaga pasokan dan keterjangkauan harga terus dilakukan melalui koordinasi intensif dengan produsen, distributor, hingga pemerintah daerah. Tujuannya satu: memastikan petani tetap mendapatkan sarana produksi yang layak tanpa harus beralih ke metode yang membahayakan kesehatan konsumen maupun lingkungan.

Baca Juga

Strategi Cerdas Belanja Bulanan: Nikmati Diskon Melimpah di Transmart hingga 2026

Strategi Cerdas Belanja Bulanan: Nikmati Diskon Melimpah di Transmart hingga 2026

Risiko Tersembunyi: Ancaman Residu dan Kerusakan Ekosistem

Penggunaan paracetamol sebagai pengganti pupuk bukan hanya soal efektivitas, melainkan juga soal keamanan pangan jangka panjang. Kementerian Pertanian menyoroti beberapa risiko fatal jika praktik ini terus dipopulerkan:

  • Residu Farmasi: Penggunaan obat manusia secara berlebihan dapat meninggalkan residu senyawa kimia pada jaringan tanaman. Jika cabai tersebut dikonsumsi, ada kemungkinan senyawa farmasi masuk ke rantai pangan manusia secara tidak terkendali.
  • Gangguan Mikroorganisme Tanah: Tanah adalah ekosistem hidup yang dipenuhi mikroba baik. Zat kimia dalam paracetamol berpotensi membunuh atau mengganggu keseimbangan mikroorganisme yang sebenarnya berperan dalam kesuburan alami tanah.
  • Pemborosan Biaya: Alih-alih menghemat, petani justru berisiko membuang modal untuk bahan yang belum teruji manfaatnya, sementara tanaman mungkin tidak mendapatkan nutrisi esensial yang sebenarnya dibutuhkan.
  • Persepsi Keliru: Viralitas konten ini dikhawatirkan menciptakan narasi palsu bahwa obat manusia bisa menggantikan peran pupuk yang sudah melalui uji registrasi dan pengawasan ketat.

Lebih lanjut, Agung menambahkan bahwa beberapa riset internasional memang pernah mengkaji penyerapan paracetamol oleh tanaman dalam skala laboratorium. Namun, hasil riset tersebut justru menunjukkan bahwa tanaman cenderung mengakumulasi zat tersebut dalam jaringannya, yang justru menjadi sinyal kewaspadaan bagi keamanan pangan, bukan menjadi rekomendasi untuk budi daya massal.

Baca Juga

Lonjakan Harga Pertamax: Menakar Posisi BBM Indonesia di Tengah Persaingan Asia Tenggara

Lonjakan Harga Pertamax: Menakar Posisi BBM Indonesia di Tengah Persaingan Asia Tenggara

Strategi Pemerintah Menjaga Ketahanan Pangan

Untuk meredam aksi-aksi serupa di masa depan, TotoNews mencatat Kementan telah menyiapkan empat langkah strategis guna memastikan keberlanjutan sektor pertanian cabai:

Pertama, pemerintah berkomitmen mengawal distribusi pupuk bersubsidi agar benar-benar sampai ke tangan petani yang membutuhkan secara tepat sasaran dan tepat waktu. Kedua, mendorong diversifikasi dengan penggunaan pupuk organik dan pupuk hayati. Pemanfaatan bahan alami lokal diharapkan mampu menekan ketergantungan terhadap bahan baku impor yang harganya fluktuatif.

Ketiga, memperketat edukasi mengenai penggunaan pestisida dan zat pengatur tumbuh (ZPT) yang telah terdaftar secara resmi. Penggunaan produk yang memiliki izin edar menjamin bahwa zat tersebut aman bagi lingkungan dan manusia. Keempat, mengoptimalkan peran penyuluh pertanian di lapangan untuk memberikan pendampingan teknologi budi daya berbasis hasil penelitian terbaru.

Kembali ke Good Agricultural Practices (GAP)

Di akhir penjelasannya, Muhammad Agung Sunusi menekankan pentingnya bagi petani untuk tetap setia pada prinsip Good Agricultural Practices (GAP). GAP merupakan standar internasional dalam bertani yang menjamin produk yang dihasilkan aman dikonsumsi, berkualitas tinggi, dan ramah lingkungan.

“Pendekatan budi daya yang mengacu pada GAP tetap menjadi pilihan paling bijak dan aman, baik bagi petani sebagai produsen maupun bagi masyarakat luas sebagai konsumen. Jangan hanya karena ingin mengejar biaya murah, kita mengabaikan aspek kesehatan dan keberlanjutan lahan kita sendiri,” pungkasnya.

Fenomena paracetamol untuk cabai ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa edukasi literasi sains di sektor pertanian sangatlah krusial. Di tengah arus informasi media sosial yang begitu deras, verifikasi dari lembaga berwenang tetap menjadi kompas utama agar niat mencari solusi tidak berakhir menjadi polusi.

Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *