Kisah Inspiratif Nirin Samsudin: Membangun Kerajaan Ayam Petelur dari Nol Hingga Jadi Motor Ekonomi Desa

Rizky Ramadhan | Totonews
22 Jun 2026, 22:44 WIB
Kisah Inspiratif Nirin Samsudin: Membangun Kerajaan Ayam Petelur dari Nol Hingga Jadi Motor Ekonomi Desa

TotoNews — Di sebuah sudut tenang Kampung Cisaat, Desa Kertarahayu, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, riuh rendah suara ribuan ayam menjadi simfoni harapan bagi seorang pria bernama Nirin Samsudin. Di usianya yang menginjak 47 tahun, Nirin bukan sekadar peternak biasa; ia adalah personifikasi dari pepatah bahwa keberanian memulai dari nol yang dibarengi integritas akan membuahkan hasil manis.

Enam tahun lalu, Nirin mungkin tidak pernah membayangkan bahwa kandang kayu di samping rumahnya akan menjadi pusat perputaran ekonomi bagi warga sekitar. Memulai segalanya tanpa modal finansial yang mumpuni, pria bersahaja ini membuktikan bahwa kepercayaan adalah mata uang yang jauh lebih berharga daripada sekadar angka di rekening bank. Kini, dengan populasi mencapai 1.000 ekor ayam petelur, Nirin telah bertransformasi menjadi penggerak ekonomi kerakyatan di desanya.

Baca Juga

Sentuhan Hangat Prabowo di Ujung Utara Nusantara: Nyanyian Patriotik Menggema di Pulau Miangas

Sentuhan Hangat Prabowo di Ujung Utara Nusantara: Nyanyian Patriotik Menggema di Pulau Miangas

Berawal dari Kuli Pakan hingga Melirik Peluang Emas

Perjalanan Nirin tidak dimulai di atas karpet merah. Jauh sebelum ia memiliki ribuan ekor ayam, kesehariannya dihabiskan dengan memanggul karung-karung pakan. Bekerja sebagai pengangkut pakan ayam memberikan Nirin perspektif yang unik. Sambil menyeka keringat, ia mengamati bagaimana para peternak mengelola usaha mereka. Ia melihat alur distribusi, mempelajari karakteristik ayam, dan yang terpenting, ia mencium aroma peluang dari tingginya permintaan pasar akan telur segar.

“Dulu saya cuma angkut pakan setiap hari. Dari situ saya lihat, usaha telur ini prospeknya luar biasa. Orang butuh makan telur setiap hari, tidak ada matinya,” kenang Nirin saat berbincang hangat dengan tim jurnalis. Pengalaman empiris ini menjadi fondasi kuat saat ia akhirnya memutuskan untuk berhenti menjadi penonton dan mulai terjun ke gelanggang sebagai pemain.

Baca Juga

Tragedi Gala Dinner Washington: Donald Trump Ungkap Manifesto Anti-Kristen di Balik Aksi Cole Tomas Allen

Tragedi Gala Dinner Washington: Donald Trump Ungkap Manifesto Anti-Kristen di Balik Aksi Cole Tomas Allen

Melawan Keterbatasan: Modal Kepercayaan di Tengah Krisis

Memasuki tahun 2020, saat dunia mulai dihantam ketidakpastian ekonomi akibat pandemi, Nirin justru memantapkan hati untuk merintis usahanya sendiri. Tantangan utamanya klasik: modal. Namun, bagi Nirin, ketiadaan uang tunai bukan berarti ketiadaan jalan. Ia memutar otak dan memberanikan diri mencari pinjaman dari relasi yang mempercayainya.

Dengan modal awal sebesar Rp 60 juta, ia membangun kandang sederhana dan mengisi 700 ekor ayam. “Dua tahun pertama adalah masa perjuangan. Fokus saya hanya satu, menjaga amanah dan melunasi utang tepat waktu,” tuturnya. Dedikasi itu terbayar lunas. Kepercayaan yang ia jaga menjadi tiket baginya untuk melangkah ke level yang lebih tinggi, yakni mendapatkan akses modal usaha yang lebih profesional.

Baca Juga

Skandal Hitam di Balik Ponpes Pati: Pendiri Pesantren Jadi Tersangka Predator Seksual, Terancam 15 Tahun Bui

Skandal Hitam di Balik Ponpes Pati: Pendiri Pesantren Jadi Tersangka Predator Seksual, Terancam 15 Tahun Bui

Ekspansi Strategis Bersama KUR BRI

Setelah berhasil melunasi utang awal, ambisi Nirin untuk berkembang semakin membuncah. Ia menyadari bahwa untuk mencapai skala ekonomi yang menguntungkan, ia perlu menambah populasi ternaknya. Di sinilah Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI hadir sebagai katalisator. Nirin mengajukan pinjaman sebesar Rp 100 juta dengan tenor tiga tahun.

Dana tersebut dialokasikan secara presisi untuk memperluas area kandang dan menggenapkan populasi menjadi 1.000 ekor. Kesuksesan pengelolaan pinjaman pertama membuatnya kembali dipercaya mendapatkan kucuran dana serupa pada periode berikutnya untuk renovasi kandang dan peremajaan bibit ayam dari Tangerang. Dukungan KUR BRI ini bukan sekadar bantuan uang, melainkan bentuk pengakuan terhadap kredibilitas bisnis yang dibangun Nirin.

Baca Juga

Gema Idul Adha: Misi Kemanusiaan Presiden Prabowo Melalui Kurban 1.098 Sapi untuk Pemerataan Gizi Nasional

Gema Idul Adha: Misi Kemanusiaan Presiden Prabowo Melalui Kurban 1.098 Sapi untuk Pemerataan Gizi Nasional

Operasional Harian: Kerja Keras di Balik Butiran Telur

Mengelola 1.000 ekor ayam bukanlah perkara mudah. Setiap hari, kandang Nirin memproduksi sekitar 55 hingga 57 kilogram telur berkualitas tinggi. Menariknya, Nirin tidak perlu pusing memikirkan pemasaran. Strategi “jemput bola” justru dilakukan oleh pembeli. Warga lokal hingga pedagang dari luar wilayah rutin menyambangi rumahnya demi mendapatkan pasokan telur segar.

“Telur di sini tidak pernah menumpuk. Baru keluar dari kandang, biasanya sudah ada yang menunggu,” kata Nirin dengan nada syukur. Kepercayaan pelanggan terjaga karena telur yang dihasilkan selalu dalam kondisi prima. Namun, di balik omzet yang menggiurkan, Nirin harus telaten mengelola biaya operasional. Biaya pakan bisa menelan angka hingga Rp 19 juta per bulan, ditambah biaya operasional harian lainnya. Namun, dengan manajemen yang rapi, laba bersih yang dikantongi bisa mencapai belasan juta rupiah per bulan.

Siklus Produksi dan Pemanfaatan Limbah yang Cerdas

Nirin sangat detail dalam menjaga siklus produksi. Ia biasanya membeli bibit ayam (pullet) saat usia 13 minggu. Setelah satu bulan perawatan intensif, ayam-ayam tersebut mulai berproduksi. Masa produktif ini berlangsung hingga dua tahun. Ketika produktivitas menurun, ayam akan dijual sebagai ayam afkir. Di momen tertentu seperti menjelang Lebaran, harga ayam afkir bisa melonjak drastis, memberikan keuntungan tambahan bagi Nirin.

Tak berhenti di situ, Nirin juga menerapkan prinsip ekonomi berkelanjutan dengan memanfaatkan kotoran ayam. Setiap empat hari sekali, kandang dibersihkan. Limbah kotoran ini tidak dibuang percuma, melainkan dijual kepada para petani lokal seharga Rp 10 ribu per karung. “Petani di sini sangat senang. Buat padi atau tanaman, pupuk organik dari kotoran ayam ini sangat bagus. Jadi, dari ujung paruh sampai ujung kotoran, semuanya jadi uang,” kelakarnya.

Menjadi Mentor dan Pemasok Pakan Bagi Warga

Keberhasilan Nirin memicu efek domino di Kampung Cisaat. Terinspirasi oleh kesuksesannya, banyak tetangga yang mulai mengikuti jejaknya. Alih-alih merasa tersaingi, Nirin justru merangkul mereka. Ia membagikan ilmu secara cuma-cuma, membantu pembangunan kandang, hingga menjadi pemasok pakan berkualitas yang ia ambil langsung dari pabrik di Bantargebang.

Hingga saat ini, sudah ada sekitar tujuh lokasi peternakan baru yang tumbuh di bawah bimbingan Nirin, dengan total populasi mencapai 8.000 ekor ayam. Nirin memegang prinsip bisnis yang unik: ia enggan mengambil untung terlalu besar dari penjualan pakan ke rekan-rekan peternaknya. Bahkan saat harga pakan naik, ia seringkali menahan harga agar peternak lain tidak mengeluh. “Bagi saya, yang penting sama-sama jalan, sama-sama enak. Kalau mereka sukses, saya juga senang,” ungkapnya tulus.

Dukungan Perbankan dalam Pemberdayaan UMKM

Keberhasilan Nirin Samsudin tak lepas dari pendampingan yang konsisten dari pihak perbankan. Setia Adi, Kepala BRI Unit Setu Bekasi, menyatakan bahwa sosok seperti Nirin adalah contoh nyata bagaimana UMKM bisa naik kelas. Melalui pemberdayaan ekonomi, BRI berkomitmen untuk terus mendampingi para pelaku usaha tidak hanya dalam hal pendanaan, tetapi juga dalam hal edukasi keuangan dan pengembangan bisnis.

“Kami melihat Pak Nirin bukan hanya sebagai debitur, tapi sebagai agen perubahan di lingkungannya. Usahanya memberikan dampak nyata bagi penyerapan tenaga kerja lokal dan pemenuhan gizi masyarakat melalui ketersediaan telur,” ujar Adi. Pendampingan dari ‘Mantri’ BRI secara rutin memastikan bahwa setiap kendala yang dihadapi nasabah dapat dicarikan solusinya secara cepat dan tepat.

Masa Depan: Candu dalam Budidaya Ayam Merah

Bagi Nirin, usaha ayam petelur atau yang sering disebutnya sebagai “ayam merah” adalah sebuah pengabdian yang mencandu. Semangatnya untuk terus menambah populasi ayam tidak pernah padam. Baginya, setiap butir telur yang dihasilkan adalah bukti bahwa kerja keras yang diawali dengan niat baik dan kejujuran akan selalu menemukan jalan menuju kesuksesan.

Kisah Nirin Samsudin adalah pengingat bagi kita semua bahwa keterbatasan modal finansial bisa diatasi dengan modal sosial berupa kepercayaan. Di tangan pria dari UMKM Bekasi ini, sebutir telur tidak hanya menjadi lauk pauk, tetapi menjadi simbol kemandirian ekonomi yang mampu menginspirasi sebuah desa untuk tumbuh bersama.

Rizky Ramadhan

Rizky Ramadhan

Mantan mekanik yang beralih menjadi jurnalis otomotif. Tulisannya dikenal tajam dalam mengulas performa mesin dan tren kendaraan masa depan di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *