Ambisi Militer yang Mahal: Prediksi Biaya Perang AS Lawan Iran Berpotensi Tembus US$ 1 Triliun

Siti Aminah | Totonews
14 Apr 2026, 22:43 WIB
Ambisi Militer yang Mahal: Prediksi Biaya Perang AS Lawan Iran Berpotensi Tembus US$ 1 Triliun

TotoNews — Eskalasi ketegangan di Timur Tengah kini tidak hanya dipandang dari sudut pandang strategi tempur, melainkan juga beban finansial yang luar biasa besar. Analisis terbaru menunjukkan bahwa konfrontasi militer yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya melawan Iran diprediksi bakal menelan biaya fantastis, melampaui angka resmi yang pernah dirilis oleh otoritas keamanan negara tersebut. Diperkirakan, total pengeluaran untuk perang ini bisa menembus angka psikologis US$ 1 triliun atau setara dengan Rp 17.100 triliun.

Pandangan tajam ini datang dari Linda Bilmes, seorang akademisi senior di Universitas Harvard. Dalam sebuah diskusi mendalam, ia mengungkapkan keyakinannya bahwa ongkos riil di lapangan jauh lebih besar dari apa yang terlihat di permukaan. “Saya yakin perang melawan Iran ini akan mencapai angka US$ 1 triliun,” ungkap Bilmes, sebagaimana dilaporkan oleh kanal berita ekonomi internasional.

Baca Juga

Kemenkeu Bidik Dana Segar Rp 12 Triliun Lewat Lelang Sukuk Negara April 2026

Kemenkeu Bidik Dana Segar Rp 12 Triliun Lewat Lelang Sukuk Negara April 2026

Kesenjangan Laporan Pentagon dan Realitas Lapangan

Meskipun laporan resmi dari Pentagon kepada Kongres menyebutkan bahwa operasi gabungan AS-Israel telah menghabiskan sekitar US$ 11,3 miliar dalam kurun waktu enam hari, Bilmes menilai angka tersebut bersifat konservatif. Ada selisih signifikan antara perhitungan birokrasi dengan kondisi nyata di medan laga. Perhitungannya menunjukkan bahwa biaya jangka pendek bisa mencapai US$ 2 miliar per hari jika konflik militer ini berlangsung secara intensif selama 40 hari berturut-turut.

Anggaran tersebut mencakup berbagai aspek krusial, mulai dari pengadaan amunisi, mobilisasi pasukan secara masif, hingga penggantian aset militer yang rusak. Salah satu poin kritis yang disorot Bilmes adalah cara Pentagon menghitung kerugian. Otoritas seringkali menggunakan nilai buku lama untuk aset yang hancur, padahal biaya untuk menggantinya dengan teknologi terkini jauh lebih mahal. Inilah yang menyebabkan estimasi awal US$ 11,3 miliar sebenarnya lebih mendekati angka US$ 16 miliar dalam hitungan ekonomi riil.

Baca Juga

Strategi Berani Presiden Prabowo Hadapi Krisis Energi Global di KTT ASEAN: Diversifikasi Bukan Lagi Pilihan

Strategi Berani Presiden Prabowo Hadapi Krisis Energi Global di KTT ASEAN: Diversifikasi Bukan Lagi Pilihan

Ironi Teknologi: Rudal Mahal vs Drone Murah

Terdapat ketimpangan ekonomi yang mencolok dalam perang modern ini. AS terikat kontrak tahunan dengan raksasa industri pertahanan seperti Lockheed Martin dan Boeing untuk memproduksi rudal pencegat (interceptor). Harga per unit rudal tersebut mencapai US$ 4 juta. Ironisnya, senjata ini digunakan untuk menjatuhkan drone produksi Iran yang biaya produksinya hanya berkisar US$ 30.000 per unit.

Ketimpangan biaya ini menjadi ancaman serius bagi ekonomi global dan stabilitas fiskal AS. Jika perang berlanjut dalam jangka panjang, biaya rekonstruksi fasilitas di kawasan Teluk yang terdampak juga akan menambah beban finansial yang harus ditanggung. Saat ini saja, Gedung Putih dilaporkan telah mengajukan kenaikan anggaran pertahanan hingga US$ 1,5 triliun, sebuah angka belanja militer terbesar sejak era Perang Dunia II.

Baca Juga

Reformasi Transparansi BEI: BREN dan DSSA Terancam Terdepak dari Barisan Indeks Elit

Reformasi Transparansi BEI: BREN dan DSSA Terancam Terdepak dari Barisan Indeks Elit

Warisan Utang bagi Generasi Mendatang

Lonjakan pengeluaran militer ini dipastikan akan memperlebar jurang defisit fiskal Amerika Serikat. Sebagai konteks sejarah, perang di Irak menghabiskan biaya sekitar US$ 2 triliun pada saat utang publik AS masih berada di bawah angka US$ 4 triliun. Kini, situasinya jauh lebih mengkhawatirkan dengan total utang AS yang telah melampaui US$ 31 triliun.

“Kita mendanai perang ini melalui pinjaman dengan suku bunga yang sedang tinggi. Ini bukan hanya soal biaya operasional hari ini, melainkan beban bunga utang yang akan menghantui generasi masa depan,” tegas Bilmes. Dampak dari kebijakan fiskal yang agresif ini diprediksi akan menjadi beban permanen yang sulit terhapuskan dalam waktu singkat, mengingat akumulasi utang dari konflik-konflik sebelumnya yang masih belum terlunasi.

Baca Juga

Fenomena Saham WBSA: Baru Sejenak Melantai, Kini Terjerat Labirin Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi

Fenomena Saham WBSA: Baru Sejenak Melantai, Kini Terjerat Labirin Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi

Dengan bayang-bayang krisis yang mengintai, dunia kini menanti bagaimana langkah diplomatik diambil untuk meredam biaya perang yang tidak hanya menghancurkan infrastruktur, tetapi juga mengancam stabilitas ekonomi jangka panjang.

Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *