Guncangan Energi Global: India Terjepit Blokade AS di Selat Hormuz, Cadangan Minyak Hanya Tersisa 30 Hari
TotoNews — Kebijakan drastis Amerika Serikat yang memberlakukan blokade di Selat Hormuz mengirimkan gelombang kejut ke seluruh dunia, dengan India muncul sebagai salah satu negara yang paling terdampak. Negeri Bollywood tersebut kini berada di posisi terjepit, terhimpit di antara ketegangan geopolitik yang memanas dan ancaman krisis energi yang nyata di depan mata.
Keputusan blokade laut ini diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump menyusul kegagalan perundingan damai dengan Iran yang diinisiasi di Pakistan. Bagi India, langkah ini adalah hantaman telak. Ironisnya, India baru saja membuka kembali keran impor minyak dari Iran setelah tujuh tahun vakum demi menopang kebutuhan domestik di tengah carut-marutnya kondisi global, namun jalur tersebut kini justru terkunci rapat.
Kemenkeu Bidik Dana Segar Rp 12 Triliun Lewat Lelang Sukuk Negara April 2026
Simalakama Pasokan: Antara Iran dan Rusia
Analis senior dari XAnalysts, Mukesh Sahdev, menyoroti bahwa India kini menghadapi tekanan ganda yang menyesakkan. Selain kehilangan akses vital ke pasokan Iran akibat blokade, India juga harus meratapi berakhirnya masa pengecualian sanksi untuk pembelian minyak dari Rusia pada pertengahan April ini.
Sebagai importir minyak mentah terbesar ketiga di dunia, ketergantungan India sangatlah tinggi—mencapai 85% atau setara dengan 5,5 juta barel per hari dari total kebutuhannya. Sahdev menjelaskan bahwa sekitar 3 juta barel minyak yang biasanya melintasi Selat Hormuz setiap harinya kini terhenti total. Kondisi ini memaksa perusahaan kilang lokal untuk berjibaku mencari alternatif pasokan di tengah pasar yang kian kompetitif dan tidak menentu.
Danantara Caplok Saham Aplikator, Potongan Driver Ojol Resmi Dipangkas Jadi 8 Persen
Alarm Bahaya: Cadangan Hanya Cukup untuk Sebulan
Perbandingan ketahanan energi India dengan negara pesaing seperti China tampak sangat kontras. Jika China memiliki cadangan strategis yang mampu bertahan hingga 300 hari, India hanya memiliki stok penyangga sekitar 160 juta barel. Angka ini diprediksi hanya mampu bertahan selama kurang lebih 30 hari jika gangguan pasokan terus berlanjut tanpa solusi konkret.
Meski ketersediaan di SPBU domestik belum menunjukkan kelangkaan massal, dampak makroekonomi sudah mulai memberikan sinyal merah. Aktivitas sektor swasta India dilaporkan melambat ke level terendah sejak akhir 2022. Para pelaku usaha mengeluhkan ketidakstabilan pasar dan tekanan inflasi yang dipicu oleh lonjakan biaya energi serta gangguan rantai pasok. Kementerian Keuangan India bahkan telah mengeluarkan peringatan bahwa target pertumbuhan ekonomi India di angka 7,0%-7,4% kini berisiko meleset akibat guncangan ini.
Ketegangan Memuncak, Menkeu Purbaya Tuding Bank Dunia Lakukan ‘Dosa Besar’ Terkait Prediksi Ekonomi RI
Dilema Diplomasi dan Tekanan Paman Sam
Posisi India semakin sulit karena seolah ‘didikte’ oleh kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Sebelumnya, Washington sempat menuding New Delhi secara tidak langsung mendanai konflik di Ukraina melalui pembelian minyak Rusia dengan harga diskon. Demi menjaga hubungan dagang dan menghindari tarif tambahan, India sempat memangkas impor dari Rusia, namun strategi tersebut hancur seketika saat konflik Timur Tengah meletus.
“Sangat disayangkan melihat pemerintah India seolah berada di bawah kendali AS dalam menentukan sumber energinya, apakah itu dari Rusia atau Iran,” ungkap Samir Kapadia, Pimpinan Vogel Group. Di tengah situasi yang kian mendidih, Kementerian Perminyakan dan Gas Alam India berupaya meredam keresahan publik dengan menyatakan bahwa operasional kilang tetap berjalan normal dan inventaris minyak nasional masih dalam batas aman untuk jangka pendek.
Gebrakan Strategis bank bjb: Susi Pudjiastuti Resmi Ditunjuk Jadi Komisaris Utama