Ketegangan Memuncak, Menkeu Purbaya Tuding Bank Dunia Lakukan ‘Dosa Besar’ Terkait Prediksi Ekonomi RI
TotoNews — Panggung ekonomi makro Indonesia mendadak memanas setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan kritik pedas terhadap lembaga keuangan internasional, Bank Dunia. Purbaya secara terang-terangan menyebut proyeksi terbaru yang dikeluarkan oleh World Bank tersebut sebagai sebuah kesalahan hitung yang fatal dan berpotensi merusak sentimen pasar.
Perdebatan ini bermula saat Bank Dunia merilis laporan yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7% pada tahun 2026. Angka ini dinilai sangat pesimis jika dibandingkan dengan target optimistis pemerintah dalam APBN yang dipatok pada angka 5,4%. Purbaya menilai, lembaga tersebut mengabaikan realitas di lapangan yang menunjukkan tren positif.
Tudingan Salah Hitung dan Sentimen Negatif
Purbaya tidak menahan diri dalam menyampaikan kekecewaannya. Menurutnya, indikator ekonomi pada triwulan pertama saja sudah mampu menyentuh angka 5,5% hingga 5,6%. Dengan dasar tersebut, ia merasa aneh jika Bank Dunia justru memprediksi perlambatan yang drastis.
Terobosan BTN: Proses KPR Kini Meluncur Kilat Hanya dalam 6 Hari
“Kalau rata-ratanya dipatok 4,6% atau 4,7%, berarti World Bank menganggap kita akan masuk ke jurang resesi. Saya pikir mereka benar-benar salah hitung,” ujar Purbaya dengan nada tegas di hadapan awak media di Jakarta Pusat. Ia juga menambahkan bahwa Bank Dunia telah melakukan ‘dosa besar’ karena menyebarkan sentimen negatif di tengah upaya Indonesia menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Kritik Purbaya juga menyoroti ketergantungan prediksi Bank Dunia terhadap fluktuasi harga minyak mentah dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Ia meyakini, begitu harga minyak kembali stabil, Bank Dunia akan mencabut laporannya dan merevisi kembali angka tersebut. “Saya menunggu permintaan maaf dari mereka ketika prediksi itu terbukti meleset nantinya,” tambahnya.
Gebrakan Baru Danantara: Misi Besar di Balik Akuisisi Saham Raksasa Ojol Demi Kesejahteraan Driver
Jurus Asia dan Optimisme Pemerintah
Meskipun dihujani prediksi miring, Purbaya tetap optimistis. Ia menekankan bahwa pemerintah memiliki strategi khusus yang mungkin tidak masuk dalam radar kalkulasi pengamat Barat. Ia menyebutnya sebagai strategi yang selaras dengan visi kepemimpinan nasional saat ini.
“Mungkin mereka belum paham ‘jurus-jurus Asia’ saya, atau jurus-jurus yang disiapkan oleh Pak Prabowo. Fokus kami tetap pada optimalisasi seluruh mesin ekonomi, menjaga iklim investasi, dan memastikan sistem keuangan kita siap menopang pertumbuhan,” jelasnya penuh percaya diri.
Perspektif Bank Dunia: Dampak Geopolitik Global
Di sisi lain, laporan bertajuk East Asia & Pacific Economic Update edisi April 2026 milik Bank Dunia memberikan landasan atas angka pesimis tersebut. Mereka berargumen bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah telah memicu kenaikan harga energi global secara signifikan. Hal ini dianggap menjadi beban bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, yang sensitif terhadap harga minyak.
Terinspirasi Iran, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Bidik Pajak Pelayaran di Selat Malaka
Selain faktor energi, Bank Dunia juga melihat adanya tren perlambatan di kawasan Asia Timur dan Pasifik secara umum. Mereka memproyeksikan pertumbuhan regional di luar China hanya akan mencapai 4,1%. Tekanan dari biaya energi yang tinggi dan perilaku pasar yang cenderung menghindari risiko (risk avoidance) menjadi alasan utama di balik pemangkasan angka tersebut.
Namun bagi Purbaya, data historis dan pergerakan pasar domestik adalah bukti yang lebih kuat daripada sekadar model matematis global. Pertarungan antara narasi optimisme pemerintah dan kalkulasi konservatif Bank Dunia ini kini menjadi perhatian utama para pelaku usaha dalam memantau arah kebijakan keuangan negara ke depan.