Mitos Gajah Pemuja Bulan: Menguak Benang Merah Antara Hoaks Viral dan Fakta Sains

Andini Putri Lestari | Totonews
19 Apr 2026, 22:41 WIB
Mitos Gajah Pemuja Bulan: Menguak Benang Merah Antara Hoaks Viral dan Fakta Sains

TotoNews — Dunia satwa memang menyimpan sejuta misteri yang tak jarang mengundang decak kagum. Namun, di tengah pesatnya arus informasi digital, garis antara fakta ilmiah dan imajinasi liar sering kali menjadi kabur. Salah satu narasi yang sempat mengguncang jagat maya adalah klaim bahwa gajah memiliki ritual keagamaan, yakni menyembah bulan.

Kisah ini sempat memicu kegaduhan di platform X (dahulu Twitter) ketika seorang pengguna dengan antusias mempertanyakan mengapa informasi mengenai “agama gajah” seolah disembunyikan dari publik. Ia melampirkan sebuah tangkapan layar dari laman Wikipedia yang menyebutkan bahwa gajah Afrika melakukan ritual pemujaan terhadap bulan sabit dan mandi ritual saat bulan purnama. Namun, benarkah demikian? Tim redaksi kami menelusuri lebih dalam untuk memisahkan hoaks digital dari realitas biologis.

Baca Juga

Jejak Kiamat Kuno: Mengapa Populasi Eropa Pernah Lenyap Secara Misterius 5.000 Tahun Lalu?

Jejak Kiamat Kuno: Mengapa Populasi Eropa Pernah Lenyap Secara Misterius 5.000 Tahun Lalu?

Melacak Akar Klaim yang Kontroversial

Informasi yang sempat bertengger di Wikipedia tersebut ternyata bersumber dari tulisan Ronald K. Siegel. Dalam karyanya bertajuk ‘The Psychology of Life After Death’ yang dirilis tahun 1980, Siegel menyebutkan adanya perilaku aneh gajah yang seolah-olah menyadari siklus alam. Namun, jika ditarik lebih jauh, referensi Siegel merujuk pada karya tahun 1977 yang kembali mengutip tulisan C. Clair.

Ujung dari rantai informasi ini ternyata bermuara pada catatan kuno milik Plinius Tua (Pliny the Elder), seorang penulis asal Romawi. Meski Plinius memberikan banyak sumbangsih sejarah, ia juga dikenal sering mencampuradukkan pengamatan nyata dengan fantasi murni. Dalam catatan kunonya, Plinius mengklaim bahwa gajah memiliki pemahaman tentang kejujuran, keadilan, bahkan memuja benda langit. Sayangnya, klaim ini tidak pernah terbukti secara empiris dalam studi perilaku hewan modern.

Baca Juga

Langkah Strategis Amazon Leo: Caplok Globalstar dan Gandeng Apple demi Tumbangkan Dominasi Starlink

Langkah Strategis Amazon Leo: Caplok Globalstar dan Gandeng Apple demi Tumbangkan Dominasi Starlink

Kredibilitas Sumber Kuno yang Dipertanyakan

Penting bagi kita untuk bersikap kritis terhadap sumber informasi. Plinius Tua, dalam karya-karyanya yang lain, bahkan pernah menuliskan bahwa domba bisa tumbuh dari tanah layaknya tanaman liar. Ia juga menyebut gajah dan badak sebagai musuh bebuyutan yang terus bertempur secara alami. Dengan rekam jejak fantasi seperti itu, menjadikannya sebagai satu-satunya rujukan untuk klaim religiusitas gajah tentu sangat tidak ilmiah.

Kini, laman Wikipedia telah menghapus bagian kontroversial tersebut karena dianggap tidak memiliki dasar bukti yang kuat. Ini menjadi pengingat berharga bagi kita semua bahwa tidak semua yang tertulis di internet—bahkan di platform ensiklopedia terbuka—adalah kebenaran absolut.

Baca Juga

Menanti Kepulangan Sang Penjelajah: Link Live Streaming Splashdown Artemis II ke Bumi Pagi Ini

Fakta Menarik: Kecerdasan Emosional Gajah

Meski teori mengenai menyembah bulan adalah isapan jempol belaka, gajah tetaplah makhluk yang luar biasa cerdas. Fakta gajah yang diakui secara sains justru jauh lebih menyentuh. Peneliti menemukan bahwa gajah memiliki ikatan sosial yang sangat kuat dan menunjukkan perilaku serupa ‘berkabung’.

  • Ritual Kematian: Gajah sering kali mengunjungi bangkai kawanannya yang telah mati selama bertahun-tahun, menyentuh tulang-belulangnya dengan belalai, dan mengeluarkan suara frekuensi rendah yang pilu.
  • Empati Tinggi: Mereka mampu memahami isyarat manusia dan menunjukkan rasa empati tidak hanya kepada sesama gajah, tetapi juga spesies lain.
  • Memori Luar Biasa: Kemampuan mereka mengingat jalur migrasi dan sumber air dalam jangka waktu puluhan tahun adalah bukti kecerdasan kognitif yang nyata.

Kesimpulannya, gajah memang tidak menyembah bulan, namun kompleksitas emosi dan kecerdasan yang mereka miliki sudah cukup untuk membuat kita terkagum-kagum tanpa perlu bumbu-bumbu mistis. Tetaplah waspada terhadap berita palsu dan pastikan Anda mendapatkan informasi dari sumber yang terverifikasi.

Baca Juga

Seteru Panas Trump vs Vatikan: Retorika Tajam di Truth Social hingga Kontroversi Gambar AI ‘Sang Penyembuh’

Seteru Panas Trump vs Vatikan: Retorika Tajam di Truth Social hingga Kontroversi Gambar AI ‘Sang Penyembuh’
Andini Putri Lestari

Andini Putri Lestari

Antusias teknologi dan internet. Andini bertugas mengisi kolom Inet dengan ulasan gadget terbaru dan edukasi literasi digital bagi generasi milenial.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *