IHSG Terperosok 3% di Tengah Gejolak Geopolitik, BEI Percepat Reformasi Transparansi Pasar

Siti Aminah | Totonews
24 Apr 2026, 14:45 WIB
IHSG Terperosok 3% di Tengah Gejolak Geopolitik, BEI Percepat Reformasi Transparansi Pasar

TotoNews — Dinamika pasar modal Indonesia tengah menghadapi ujian berat. Pada penutupan sesi pertama perdagangan Jumat (24/4), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau merosot tajam hingga 3,06%, mendarat di posisi 7.152,85. Gelombang aksi jual ini disinyalir sebagai dampak akumulasi ketegangan geopolitik mancanegara yang berkelindan dengan tekanan ekonomi domestik yang kian nyata.

Berdasarkan pantauan data RTI Business, potret merah menyelimuti lantai bursa dengan 642 saham yang terkoreksi. Sementara itu, hanya 90 saham yang mampu bertahan di zona hijau, dan 82 saham lainnya bergeming di posisi stagnan. Situasi ini mencerminkan tingginya volatilitas yang menghantui para pelaku pasar saat ini.

Langkah Strategis BEI Menjaga Kepercayaan Investor

Merespons guncangan ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak tinggal diam. Otoritas bursa terus mematangkan berbagai inisiatif strategis demi menjaga stabilitas dan transparansi. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah memperketat kriteria konstituen untuk indeks-indeks bergengsi seperti LQ45, IDX30, dan IDX80.

Baca Juga

Tragedi Tabrakan Kereta di Bekasi: BPKN Desak KAI Lakukan Evaluasi Total dan Modernisasi Berbasis AI

Tragedi Tabrakan Kereta di Bekasi: BPKN Desak KAI Lakukan Evaluasi Total dan Modernisasi Berbasis AI

Perubahan ini menitikberatkan pada aspek minimum free float dan pembersihan emiten dari kategori High Shareholding Concentration (HSC). Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya Self-Regulatory Organization (SRO) untuk mengembalikan kepercayaan investor.

“Kami berharap perubahan ketentuan ini mampu memberikan kejelasan informasi bagi investor, baik domestik maupun mancanegara, sekaligus menyuntikkan likuiditas tambahan ke pasar,” ujar Irvan. Ia menambahkan bahwa peningkatan transparansi—seperti kewajiban free float 15% dan keterbukaan kepemilikan saham di atas 1%—seharusnya menjadi katalis positif bagi IHSG, meski saat ini tekanan global masih mendominasi sentimen pasar.

Sentimen Global dan Pelemahan Kurs Rupiah

Selain faktor geopolitik, kabar mengejutkan datang dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang memutuskan untuk membekukan rebalancing indeks saham Indonesia untuk periode Mei 2026. Hal ini menambah beban psikologis bagi investor. Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga sempat mengalami tekanan hebat hingga menyentuh level Rp 17.310 per dolar AS pada perdagangan Kamis (23/4).

Baca Juga

Langkah Strategis Pemerintah Amankan Devisa: Revisi Aturan DHE SDA di Bank BUMN Segera Rampung

Langkah Strategis Pemerintah Amankan Devisa: Revisi Aturan DHE SDA di Bank BUMN Segera Rampung

Menanggapi hal tersebut, Rully Arya Wisnubroto selaku Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, memberikan perspektif yang lebih tenang. Menurutnya, koreksi rupiah sebesar 3,5% sepanjang tahun 2026 masih tergolong moderat jika dibandingkan dengan mata uang negara berkembang lainnya seperti Rupee India atau Lira Turki.

“Pelemahan ini lebih mencerminkan sikap risk-off global dan meningkatnya premi risiko domestik, bukan karena krisis kebijakan yang fundamental,” jelas Rully. Ia juga menyoroti bahwa reformasi di pasar modal terus berjalan secara signifikan. Hingga saat ini, OJK, BEI, dan KSEI telah berhasil merampungkan empat dari delapan agenda reformasi transparansi yang dicanangkan sejak awal April lalu.

Baca Juga

Kemenkeu Bidik Dana Segar Rp 12 Triliun Lewat Lelang Sukuk Negara April 2026

Kemenkeu Bidik Dana Segar Rp 12 Triliun Lewat Lelang Sukuk Negara April 2026

Menatap Prospek ke Depan

Meski dihantam volatilitas, optimisme terhadap fundamental pasar modal Indonesia tetap terjaga. Terbukti, sejak pengumuman reformasi pada awal April, IHSG sebenarnya sempat menguat hingga 8%. Fokus para pelaku investasi saham kini tertuju pada MSCI Index Review yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026, serta Market Accessibility Review pada Juni mendatang.

Hasil dari tinjauan tersebut akan menjadi penentu arah persepsi investor global terhadap integritas pasar modal Indonesia. Konsistensi otoritas dalam menjalankan agenda reformasi menjadi kunci utama untuk menstabilkan indeks dari terjangan badai ekonomi global yang belum sepenuhnya mereda.

Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *