Kurs Rupiah Terkapar di Level Rp 17.600: Akankah Rp 17.000 Jadi Titik Keseimbangan Baru?

Siti Aminah | Totonews
16 Mei 2026, 06:42 WIB
Kurs Rupiah Terkapar di Level Rp 17.600: Akankah Rp 17.000 Jadi Titik Keseimbangan Baru?

TotoNews — Awan mendung nampaknya masih enggan beranjak dari langit perekonomian domestik seiring dengan semakin tertekannya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan pantauan pasar pada akhir pekan ini, mata uang Garuda harus rela tersungkur ke level yang cukup mengkhawatirkan, yakni di kisaran Rp 17.600. Pada penutupan perdagangan Jumat sore, data menunjukkan rupiah bertengger di angka Rp 17.596 per dolar AS, sebuah angka yang memicu alarm kewaspadaan bagi para pelaku pasar dan pembuat kebijakan.

Ancaman ‘Normal Baru’ di Level Rp 17.000

Pelemahan yang terjadi saat ini bukan sekadar fluktuasi harian biasa. Sejumlah pengamat ekonomi mulai melihat adanya pergeseran fundamental dalam nilai tukar kita. Ekonom Senior dari INDEF, Tauhid Ahmad, mengungkapkan sebuah pandangan yang cukup pesimistis namun realistis. Menurutnya, harapan untuk melihat rupiah kembali menguat ke bawah level Rp 17.000 dalam waktu dekat nampaknya kian menipis. Tauhid menyebutkan bahwa angka Rp 17.000 kini telah bergeser menjadi sebuah ‘titik keseimbangan baru’ atau keseimbangan baru yang sulit untuk ditembus kembali.

Baca Juga

Langkah Berani BEI: Diplomasi Global dan Strategi Pemulihan Kepercayaan di Pasar Modal Indonesia

Langkah Berani BEI: Diplomasi Global dan Strategi Pemulihan Kepercayaan di Pasar Modal Indonesia

“Saya melihat memang kalau di bawah Rp 17.000 rasanya sudah sangat sulit. Kita sedang berhadapan dengan angka keseimbangan baru. Level Rp 17.000 ini nampaknya akan menjadi batas psikologis yang sangat kuat ke depannya,” ujar Tauhid dalam sebuah sesi diskusi ekonomi yang dipantau TotoNews. Fenomena ini tentu menjadi tamparan keras, mengingat dalam asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, pemerintah mematok nilai tukar dolar AS di angka Rp 16.500. Jarak seribu rupiah antara target dan realitas ini menandakan adanya tantangan struktural yang luar biasa besar.

Intervensi Bank Indonesia: Mengapa Begitu Sulit?

Bank Indonesia (BI) bukannya tinggal diam. Berbagai operasi moneter dan langkah stabilisasi terus diupayakan untuk menahan laju depresiasi rupiah. Namun, sejarah dan pengalaman menunjukkan bahwa mengembalikan nilai mata uang yang sudah terlanjur melemah adalah pekerjaan rumah yang sangat berat. Tauhid Ahmad menjelaskan bahwa berdasarkan tren yang ada, untuk menguatkan rupiah sebesar Rp 500 saja terhadap dolar AS membutuhkan waktu yang sangat lama dan energi yang besar.

Baca Juga

Mentan Amran Bongkar ‘Borok’ Mafia Pangan: Ada yang Tak Suka RI Mandiri dan Sejahtera

Mentan Amran Bongkar ‘Borok’ Mafia Pangan: Ada yang Tak Suka RI Mandiri dan Sejahtera

“Upaya untuk menarik kembali rupiah ke arah Rp 17.000 hingga Rp 17.200 itu masih mungkin dilakukan, namun butuh dukungan kebijakan yang luar biasa. Tujuh langkah strategis yang biasanya dilakukan bank sentral harus benar-benar efektif dan presisi,” tambahnya. Tanpa efektivitas tersebut, rupiah dikhawatirkan akan terus nyaman berada di level Rp 17.500-an, yang pada gilirannya akan mengerek biaya impor dan membebani sektor industri nasional.

Revisi APBN: Haruskah Pemerintah Realistis?

Melihat jurang yang semakin lebar antara realitas pasar dan asumsi fiskal, desakan agar pemerintah segera melakukan revisi terhadap asumsi makro APBN mulai bermunculan. Menggunakan target Rp 16.500 di saat realitas berada di angka Rp 17.500 dianggap sudah tidak lagi relevan dan justru berisiko mengaburkan proyeksi anggaran ke depan. Tauhid menyarankan agar pemerintah setidaknya lebih transparan dalam menyampaikan kerangka fiskal hingga akhir tahun.

Baca Juga

Trump Tegaskan Pembukaan Selat Hormuz Tanpa Syarat: ‘Kita Tidak Akan Biarkan Iran Menarik Upeti’

Trump Tegaskan Pembukaan Selat Hormuz Tanpa Syarat: ‘Kita Tidak Akan Biarkan Iran Menarik Upeti’

Kejelasan komunikasi ini sangat krusial untuk menjaga kepercayaan investor. Investor global cenderung menghindari ketidakpastian. Jika pemerintah tetap bersikeras pada angka yang tidak realistis tanpa penjelasan yang masuk akal, pasar bisa menangkap sinyal negatif yang justru akan memperparah pelarian modal asing (capital outflow) dari pasar keuangan domestik.

Badai Eksternal: Geopolitik dan Harga Minyak Dunia

Tidak adil jika hanya menyalahkan faktor internal. Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyoroti betapa kuatnya hantaman dari faktor eksternal. Gejolak geopolitik global, terutama ketegangan yang memuncak antara Amerika Serikat dan Iran, telah menjadi motor utama penguatan dolar AS secara global. Konflik di Timur Tengah ini berdampak langsung pada kenaikan harga minyak dunia akibat terganggunya jalur pasokan utama di Selat Hormuz.

Baca Juga

Sambut Era B50 di 2026, PT KAI Pastikan Lokomotif Siap Beralih ke Energi Hijau

Sambut Era B50 di 2026, PT KAI Pastikan Lokomotif Siap Beralih ke Energi Hijau

“Selama tensi geopolitik ini belum mereda, rupiah akan terus berada di bawah tekanan. Penguatan rupiah secara signifikan hanya mungkin terjadi apabila konflik Iran-AS mereda dan jalur perdagangan global kembali normal, sehingga harga minyak bisa turun ke level semula,” papar Lukman. Kenaikan harga minyak merupakan ‘double blow’ bagi Indonesia; selain membebani neraca perdagangan karena kita adalah net-importer minyak, hal ini juga memicu inflasi global yang membuat investor lebih memilih menyimpan aset dalam bentuk dolar.

Sentimen Domestik dan Defisit yang Menghantui

Di sisi lain, kondisi dalam negeri juga tidak sepenuhnya steril dari sentimen negatif. Lukman Leong memaparkan bahwa kekhawatiran pasar terhadap pengelolaan anggaran yang dianggap terlalu ekspansif telah membuat investor ragu. Defisit anggaran yang mendekati angka 3% menjadi sorotan tajam. Ditambah lagi dengan dinamika di pasar modal yang kerap mengalami volatilitas tinggi, membuat modal asing semakin kencang mengalir keluar mencari tempat berlindung yang lebih aman (safe haven).

Kondisi ini menuntut kebijakan yang berani. Pengurangan anggaran non-esensial dan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia dianggap sebagai langkah pahit yang mungkin harus diambil untuk menstabilkan keadaan. Namun, kebijakan suku bunga adalah pedang bermata dua; di satu sisi ia menarik modal masuk, namun di sisi lain ia bisa mencekik pertumbuhan ekonomi sektor riil.

Peta Jalan Pemulihan: Kredibilitas dan Hilirisasi

Ekonom Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita, menekankan pentingnya menjaga kredibilitas fiskal. Pasar keuangan sangat sensitif terhadap persepsi dan pernyataan pejabat publik. “Satu pernyataan yang tidak konsisten bisa membuat rupiah ‘masuk angin’ dengan sangat cepat,” ungkap Ronny. Selain itu, pemerintah didorong untuk mengoptimalkan Devisa Hasil Ekspor (DHE) agar pasokan dolar di dalam negeri tetap terjaga.

Dalam jangka panjang, solusinya terletak pada transformasi struktur ekonomi. Yusuf Rendy Manilet dari CORE Indonesia menekankan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku dan energi adalah tumit achilles kita. Untuk memutus rantai pelemahan ini, percepatan hilirisasi industri dan substitusi impor bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Sektor-sektor strategis seperti farmasi, kimia dasar, dan komponen industri harus diperkuat di dalam negeri agar ketika terjadi gejolak global, Indonesia tidak langsung goyah. Kesimpulannya, penguatan rupiah bukan hanya tugas Bank Indonesia lewat intervensi pasar, melainkan orkestrasi besar antara pemerintah, otoritas fiskal, dan sektor industri untuk membangun ekonomi yang lebih mandiri dan berdaya saing global.

Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *