Pesona Tlemcen: Menjelajahi ‘Mutiara Maghreb’ di Puncak Keindahan Aljazair
TotoNews — Angin sejuk berembus pelan menyambut kedatangan kami di Tlemcen, sebuah kota yang seolah menjadi mahkota di wilayah utara Benua Afrika. Terletak di dataran tinggi yang strategis, Tlemcen bukan sekadar pemukiman; ia adalah saksi bisu perjalanan waktu, tempat di mana sejarah militer, keindahan alam, dan kemegahan spiritual bersatu dalam harmoni yang memukau. Sebagai jurnalis yang berkesempatan menelusuri keajaiban ini, kami merasakan atmosfer yang berbeda sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Aljazair.
Perjalanan kami dimulai dari pusat Kota Oran pada pagi hari yang cerah, tepat pukul 09.00 waktu setempat. Bersama puluhan jurnalis mancanegara dalam rangkaian kegiatan 25th International Tourism and Travel Fair (SITEV), kami menumpangi bus yang membawa kami membelah bentang alam Afrika Utara yang ikonik. Rute menuju Tlemcen menawarkan pemandangan yang jarang ditemukan di tempat lain: hamparan sabana luas yang membentang tanpa batas, menciptakan kontras warna yang dramatis antara langit biru dan bumi yang kecokelatan.
Pesona ‘Masbro’ di Ragunan: Kisah Warga Cianjur Hingga Nostalgia Masa Kecil di Tengah Libur Panjang
Ekspedisi Melintasi Jalur Trans-Maghreb
Untuk mencapai Tlemcen dari Oran, rombongan kami harus melewati jalur legendaris East-West Highway. Jalan tol ini merupakan mahakarya infrastruktur sepanjang kurang lebih 1.500 kilometer yang menghubungkan perbatasan Tunisia hingga Maroko. Uniknya, meskipun berstatus jalan bebas hambatan dengan fasilitas kelas dunia, jalur ini sepenuhnya gratis bagi siapa saja yang ingin melintas. Tidak ada gerbang tol yang menghambat laju kendaraan, sebuah kebijakan pemerintah setempat yang patut diapresiasi untuk mendukung konektivitas antarwilayah dan memajukan sektor destinasi wisata Aljazair.
Selama perjalanan yang memakan waktu lebih dari tiga jam, mata kami dimanjakan oleh kontur jalan yang naik-turun dan berkelok-belok mengikuti anatomi pegunungan. Sang pemandu menjelaskan bahwa jalan ini memang sengaja dibangun mengikuti garis pantai yang panjangnya mencapai 1.200 kilometer, namun jalurnya dibuat lebih panjang demi menyesuaikan dengan topografi alam yang menantang. Sesekali, tampak pemukiman kecil penduduk yang tampak asri di tengah sabana, memberikan gambaran kehidupan lokal yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuk metropolitan.
Noda Hitam di Balik Euforia Juara: Oknum Bobotoh di Cianjur Diamankan Karena Senjata Tajam dan Miras
Tlemcen: Antara Jejak Romawi dan Kejayaan Islam
Setibanya di pusat kota pada tengah hari, kami langsung disambut oleh sinar matahari yang terang namun tetap terasa sejuk berkat embusan angin kencang dari pegunungan. Suasana kota tampak tenang dan sunyi, hal yang wajar mengingat hari itu adalah akhir pekan di Aljazair. Di kantor pemerintahan, Wali Kota Tlemcen, Youcef Bechlaoui, menyambut kami dengan hangat. Dalam obrolan singkat yang penuh keakraban, beliau memaparkan mengapa kota ini dijuluki sebagai ‘Pearl of Maghreb’ atau Mutiara Maghreb.
“Tlemcen adalah pusat peradaban intelektual dan budaya di Afrika Utara,” ujar Youcef dengan bangga. Julukan tersebut tidak berlebihan, mengingat kota ini menyimpan sekitar 70 persen dari total warisan sejarah dan arsitektur Islam di seluruh penjuru Aljazair. Jauh sebelum era Islam, pada masa Kekaisaran Romawi, kota ini dikenal dengan nama Pomaria, yang merujuk pada kesuburan tanahnya yang dipenuhi pepohonan. Seiring berjalannya waktu, namanya berubah menjadi Agadir dalam bahasa Berber, yang berarti dinding atau benteng pelindung. Nama Agadir sendiri merupakan nama yang sakral, yang juga digunakan oleh kota-kota besar lainnya di Maroko dan Spanyol (Cadiz).
Purnomo Yusgiantoro Pimpin IKAL Lemhannas 2026-2031: Era Baru Pengabdian dan Ketahanan Nasional
Strategi Militer di Ketinggian 360 Derajat
Salah satu aspek yang paling menarik dari Tlemcen adalah posisi geografisnya. Dibangun di atas dataran yang sangat tinggi, kota ini berfungsi sebagai pos pengamatan militer yang tak terkalahkan pada masa peperangan. Dari titik tertingginya, tentara penjaga dapat menikmati pemandangan panorama 360 derajat yang mencakup radius hingga lebih dari 25 kilometer. Kemampuan untuk memantau pergerakan musuh dari arah lembah maupun perbatasan Maroko menjadikan Tlemcen sebagai benteng pertahanan utama yang hampir mustahil ditembus tanpa terdeteksi.
Eksplorasi kami kemudian berlanjut menuju salah satu fenomena geologi paling luar biasa di dunia: Gua Beni Add. Terletak sekitar 10 hingga 17 kilometer dari pusat kota, gua ini berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Suhu di dalam gua konstan berada di kisaran 13 derajat Celsius, memberikan kesejukan alami bagi siapa pun yang memasukinya. Gua ini diperkirakan telah terbentuk selama 65.000 tahun melalui proses pengendapan batuan kapur yang lambat dan artistik.
Perkuat Operasional Satgas, BPA Serahkan Aset Rampasan Koruptor di Jakarta Selatan ke Jampidsus
Keajaiban Geologi di Gua Beni Add
Dengan panjang mencapai 700 meter, Gua Beni Add diakui oleh banyak ahli geologi sebagai gua terbesar kedua di dunia, hanya kalah luas dari gua yang ada di Meksiko. Formasi stalaktit dan stalagmit di dalamnya menciptakan pemandangan surealis yang seolah membawa kita ke planet lain. Namun, di balik keindahan geologinya, gua ini juga memiliki wisata sejarah yang mendalam. Selama masa perjuangan kemerdekaan Aljazair, gua ini digunakan sebagai tempat persembunyian strategis oleh para pejuang melawan kolonialisme.
Keluar dari perut bumi, kami diarahkan menuju situs arkeologi Mansourah Castle. Situs ini adalah peninggalan megah dari arsitektur militer Islam abad pertengahan yang dibangun pada akhir abad ke-13 oleh Sultan Marinid, Abu Yaqub Yusuf. Menara masjid di situs ini masih berdiri kokoh dengan ketinggian mencapai 38 meter, menjadi simbol kejayaan masa lalu. Meskipun kini hanya menyisakan reruntuhan dinding pertahanan dari tanah padat, sisa-sisa puluhan menara pengawas di Mansourah tetap memancarkan aura ketangguhan militer yang pernah ada di tanah ini.
Pusat Spiritual di Desa El-eubad
Menjelang akhir perjalanan, kami mengunjungi Village of the El-eubad, sebuah desa kuno yang terletak di lereng bukit, sekitar 2 kilometer dari pusat kota. Jika Tlemcen adalah jantung politik dan budaya, maka El-eubad adalah episentrum spiritual bagi kawasan Maghreb. Di sinilah bersemayam jasad Sidi Boumediene atau Shu’ayb Abu Madyan, sosok yang dikenal sebagai ‘Bapak Sufisme’ di Afrika Utara. Beliau adalah ulama besar kelahiran Andalusia yang pemikirannya telah mempengaruhi ribuan pencari ilmu di seluruh dunia.
Kompleks Masjid Sidi Boumediene di desa ini menampilkan kekayaan arsitektur Islam bergaya Moor-Andalusia yang sangat detail. Gerbang utamanya yang setinggi 7 meter dihiasi dengan mosaik keramik warna-warni dan seni pahat plester yang rumit. Tangga menuju masjid yang terbuat dari batu onyx semakin menambah kesan mewah sekaligus tenang. Berada di sini memberikan rasa damai yang mendalam, sebuah penutup yang sempurna bagi perjalanan panjang kami melintasi sejarah dan keindahan alam Aljazair.
Kunjungan ke Tlemcen bukan sekadar perjalanan wisata biasa, melainkan sebuah ziarah ke masa lalu yang penuh warna. Dari sabana yang luas, benteng pertahanan yang tangguh, gua purba yang magis, hingga kompleks spiritual yang menenangkan, Tlemcen membuktikan dirinya sebagai mutiara sejati di mahkota Afrika Utara. Melalui pelestarian warisan budaya UNESCO dan sejarah yang dilakukan pemerintah setempat, Tlemcen dipastikan akan terus menjadi magnet bagi para pelancong dan peneliti sejarah dari seluruh dunia di masa depan.