Presiden Prabowo Subianto: Ekonomi Desa Tangguh, Fluktuasi Dolar Tak Perlu Jadi Momok bagi Rakyat Kecil

Siti Aminah | Totonews
17 Mei 2026, 06:42 WIB
Presiden Prabowo Subianto: Ekonomi Desa Tangguh, Fluktuasi Dolar Tak Perlu Jadi Momok bagi Rakyat Kecil

TotoNews — Di tengah riuh rendah kekhawatiran publik mengenai fluktuasi nilai tukar rupiah yang terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Presiden Prabowo Subianto memberikan pandangan yang menyejukkan sekaligus memicu refleksi mendalam. Dalam sebuah pidato yang penuh dengan gaya khasnya—setengah serius namun dibumbui humor segar—sang Presiden menegaskan bahwa kehidupan masyarakat di akar rumput, terutama di pedesaan, tidak akan goyah hanya karena pergerakan angka di papan bursa saham global.

Presiden Prabowo menyampaikan pesan optimistis tersebut saat meresmikan 1.062 Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Acara yang berlangsung pada Sabtu, 16 Mei 2026 ini, menjadi panggung bagi Prabowo untuk mengingatkan bahwa kekuatan sejati ekonomi nasional terletak pada kemandirian desa, bukan pada ketergantungan terhadap mata uang asing. Baginya, hiruk-pikuk penguatan dolar AS bukanlah ancaman bagi mereka yang sehari-harinya bertransaksi menggunakan rupiah untuk kebutuhan pokok di pasar-pasar tradisional.

Baca Juga

Klarifikasi Tegas Kemenkeu: Hoaks Menkeu Purbaya Usir Investor Asing, Simak Fakta di Balik Polemik CCCI

Klarifikasi Tegas Kemenkeu: Hoaks Menkeu Purbaya Usir Investor Asing, Simak Fakta di Balik Polemik CCCI

Sinyal Tenang dari ‘Senyum’ Menteri Keuangan

Dalam kesempatan tersebut, Presiden secara khusus menyinggung sosok Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Prabowo menggunakan analogi yang menarik untuk menggambarkan kondisi ekonomi makro saat ini. Ia mengisyaratkan bahwa stabilitas keuangan negara masih terjaga selama otoritas fiskal dan moneter tetap menunjukkan kepercayaan diri.

“Purbaya sekarang populer banget ini. Selama Purbaya masih bisa senyum, tenang saja, tidak usah kalian khawatir. Mau dolar naik sampai berapa ribu pun, kenyataannya kalian di desa-desa tidak memakai dolar untuk membeli beras atau sayur, kan?” ujar Prabowo yang disambut gelak tawa para hadirin sebagaimana dikutip dari laporan resmi TotoNews.

Pernyataan ini bukan sekadar gurauan, melainkan sebuah penegasan tentang segmentasi dampak ekonomi. Prabowo ingin menekankan bahwa kedaulatan pangan dan penguatan koperasi desa adalah benteng utama yang melindungi rakyat kecil dari guncangan eksternal. Menurutnya, kegelisahan terhadap dolar seharusnya menjadi porsi mereka yang berada di lingkaran bisnis internasional, bukan beban pikiran petani atau pedagang kecil di pelosok negeri.

Baca Juga

Fenomena Paylater di Indonesia: Transaksi Tembus Rp 56 Triliun, Generasi Muda Jadi Motor Utama

Fenomena Paylater di Indonesia: Transaksi Tembus Rp 56 Triliun, Generasi Muda Jadi Motor Utama

Siapa yang Sebenarnya Harus Pusing karena Dolar?

Melanjutkan narasi komunikatifnya, Presiden Prabowo tidak segan-segan mengabsen sejumlah tokoh dan menteri di Kabinet Merah Putih yang ia nilai lebih terdampak oleh penguatan mata uang ‘Greenback’ tersebut. Dengan gaya bicaranya yang lugas, ia menyentil para pejabat yang juga memiliki latar belakang pengusaha atau mereka yang sering melakukan perjalanan internasional.

Beberapa poin menarik dari interaksi spontan Presiden dalam acara tersebut antara lain:

  • Sentilan untuk Mbak Titiek: Presiden menyebutkan bahwa mereka yang hobi bepergian ke luar negeri adalah kelompok yang paling merasakan pedasnya kenaikan kurs.
  • Godaan untuk Menteri Pengusaha: Nama-nama seperti Menteri Kelautan dan Perikanan Trenggono, serta Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, tak luput dari perhatiannya. Prabowo berseloroh bahwa jika mereka lebih banyak berada di dalam negeri, maka urusan dolar tak akan terlalu menguras pikiran.
  • Tantangan untuk Ketua Kadin: Anindya Bakrie, sebagai representasi dunia usaha melalui Kadin Indonesia, disebut sebagai pihak yang memang wajar jika merasa ‘pusing’ dengan kondisi rupiah saat ini.

“Anin! Anin, kamu kalau pusing boleh. Kamu kan pengusaha, Ketua Kadin. Itu memang bagian dari pekerjaanmu untuk memikirkan dampak kurs terhadap dunia usaha,” cetus Prabowo sembari menunjuk ke arah Anindya Bakrie.

Baca Juga

Kritik Tajam Menkeu Purbaya: Sebut Bank Dunia Salah Hitung dan Tebar Sentimen Negatif Ekonomi RI

Kritik Tajam Menkeu Purbaya: Sebut Bank Dunia Salah Hitung dan Tebar Sentimen Negatif Ekonomi RI

Melihat Realita Angka: Rupiah dan Target APBN 2026

Meskipun Presiden tampak santai, data di lapangan menunjukkan tantangan yang tidak ringan. Saat ini, nilai tukar dolar AS terus menggempur rupiah hingga menyentuh level Rp 17.596. Angka ini tercatat telah melampaui asumsi makro yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, di mana pemerintah sebelumnya mematok target rata-rata di angka Rp 16.500.

Kesenjangan ini tentu memerlukan langkah strategis dari tim ekonomi pemerintah. Namun, bagi Prabowo, fokus utama saat ini adalah memastikan ketahanan ekonomi domestik tetap solid. Ia percaya bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat untuk menahan tekanan global, asalkan semua elemen bangsa tetap bersatu dan tidak mudah terprovokasi oleh sentimen negatif.

Baca Juga

Goncangan Outlook Fitch dan Moody’s: Mengapa OJK Tetap Optimis dengan Perbankan Nasional?

Goncangan Outlook Fitch dan Moody’s: Mengapa OJK Tetap Optimis dengan Perbankan Nasional?

Pesan untuk Para Pemimpin: Kerja Nyata untuk Rakyat

Menutup pidatonya, Presiden Prabowo memberikan pesan moral yang kuat kepada seluruh jajaran kabinet dan pemimpin lembaga negara. Ia menegaskan bahwa jabatan adalah amanah untuk melayani rakyat, bukan untuk terjebak dalam kepentingan politik praktis atau ego sektoral.

“Orang mau bicara apa saja di luar sana, Indonesia tetap kuat. Kita harus percaya pada kekuatan bangsa sendiri, percaya pada rakyat kita. Semua pemimpin harus bekerja total untuk rakyat. Dari partai mana pun, itu tidak ada urusan. Di semua partai ada patriot yang tulus, meski kita tahu di semua partai juga ada yang kurang baik. Tugas kita adalah menyatukan para patriot ini untuk membangun bangsa,” tegasnya dengan penuh semangat.

Melalui peresmian ribuan Kopdes Merah Putih ini, pemerintah berharap ekonomi desa dapat menjadi motor penggerak baru yang mandiri. Dengan penguatan kelembagaan di tingkat desa, diharapkan ketergantungan terhadap barang impor dapat ditekan, sehingga stabilitas ekonomi nasional tidak lagi melulu didikte oleh naik-turunnya nilai mata uang asing di pasar global.

Kesimpulannya, pesan dari Presiden Prabowo sangat jelas: Jangan biarkan ketakutan akan inflasi atau pelemahan mata uang melumpuhkan semangat produktivitas. Selama sektor riil di pedesaan tetap bergerak dan kebutuhan pokok dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri, Indonesia akan tetap berdiri tegak di tengah badai ekonomi dunia.

Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *