Fenomena Paylater di Indonesia: Transaksi Tembus Rp 56 Triliun, Generasi Muda Jadi Motor Utama
TotoNews — Tren belanja masyarakat Indonesia kini mengalami pergeseran paradigma yang cukup signifikan. Budaya belanja dengan sistem “beli sekarang, bayar nanti” atau Buy Now Pay Later (BNPL) bukan lagi sekadar alternatif, melainkan telah bertransformasi menjadi tulang punggung baru dalam ekosistem kredit konsumtif di Tanah Air. Fenomena ini tercermin dari data terbaru yang dirilis oleh PT Pefindo Biro Kredit (IdScore), yang mencatatkan pertumbuhan luar biasa di sektor ini.
Lonjakan Fantastis di Tengah Modernisasi Keuangan
Hingga akhir Februari 2026, total nilai layanan paylater di Indonesia dilaporkan telah menembus angka Rp 56,3 triliun. Angka ini merepresentasikan pertumbuhan tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 86,7%, sebuah lonjakan yang jauh melampaui rata-rata pertumbuhan kredit konsumtif konvensional pada umumnya. Kemudahan akses dan integrasi dengan berbagai platform e-commerce disinyalir menjadi katalis utama dibalik meroketnya angka tersebut.
Transmart Full Day Sale: Berburu Alat Masak Mewah Harga Merakyat Mulai Rp 70 Ribuan
Sektor peer-to-peer (P2P) lending atau yang sering disebut pinjaman daring (pindar) menjadi pemain paling agresif dalam kontestasi ini. Pertumbuhannya tercatat mencapai 153,49% secara tahunan dengan total outstanding mencapai Rp 16,9 triliun. Angka ini menunjukkan betapa masifnya penetrasi pinjaman online berbasis BNPL di kalangan masyarakat.
Dominasi Perbankan Digital dan Umum
Tidak hanya dari industri fintech, perbankan juga turut mencicipi manisnya kue bisnis paylater. Bank digital menempati posisi kedua dengan pertumbuhan sebesar 37,12% (yoy) dan outstanding sebesar Rp 16,2 triliun. Sementara itu, bank umum konvensional tetap menunjukkan taringnya dengan pertumbuhan 6,81% dan total outstanding yang masih memimpin secara nilai absolut di angka Rp 18,9 triliun.
Direktur Utama Pefindo Biro Kredit, Tan Glant Saputrahadi, mengungkapkan keterkejutannya atas akselerasi ini. “Pertumbuhan di sektor pindar mencapai 153%. Jika dibandingkan saat saya masih aktif di industri P2P dulu, angkanya melonjak dua kali lipat. Ini adalah perkembangan yang luar biasa masif dalam waktu singkat,” jelasnya dalam pertemuan media di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.
Dugaan Pungli Kursi AirAsia Mencuat, Komisi V DPR Desak Menhub Investigasi Praktik Ilegal di Kabin
Milenial dan Gen Z: Motor Penggerak Utama
Dilihat dari sisi demografi, layanan paylater telah menjadi gaya hidup bagi generasi muda. Berdasarkan data TotoNews, pengguna dari kalangan milenial mendominasi sebesar 44,89%, disusul ketat oleh Generasi Z sebesar 43,81%. Secara geografis, Pulau Jawa masih menjadi pusat aktivitas transaksi BNPL, dengan Provinsi Jawa Barat sebagai wilayah dengan distribusi pengguna terbesar di Indonesia.
Sinyal Merah Kredit Macet
Namun, di balik kemilau angka pertumbuhan tersebut, tersimpan risiko yang patut diwaspadai. Rasio kredit macet atau Non-Performing Loan (NPL) untuk layanan paylater masih bertengger di atas angka 5%. Hal ini menjadi alarm bagi industri pertumbuhan ekonomi digital agar lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan.
Buntut Pencabutan Izin Operasional Akibat Bencana Ekologis, Toba Pulp Lestari Mulai Eksekusi PHK Massal
Wilayah Aceh mencatatkan risiko tertinggi dengan angka NPL mencapai 14,53%. Di posisi selanjutnya, terdapat Maluku Utara (7,34%), Papua Barat (7,21%), Maluku (6,40%), dan Sulawesi Utara (6,21%). Tingginya angka NPL di wilayah-wilayah tertentu ini menunjukkan tantangan besar dalam hal literasi keuangan dan kemampuan bayar debitur di daerah tersebut.
“Risiko paling tinggi saat ini terpantau di Aceh, di mana NPL-nya menyentuh angka 14,5%. Ini merupakan catatan penting bagi seluruh pelaku industri untuk tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian,” pungkas Glant menutup penjelasannya.