Rupiah Terjun Bebas ke Rp 17.500: Mengapa Klaim ‘Warga Desa Aman’ Justru Menjadi Sinyal Bahaya?

Siti Aminah | Totonews
18 Mei 2026, 08:44 WIB
Rupiah Terjun Bebas ke Rp 17.500: Mengapa Klaim 'Warga Desa Aman' Justru Menjadi Sinyal Bahaya?

TotoNews — Di tengah fluktuasi ekonomi global yang kian tak menentu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan tajam setelah menembus angka psikologis Rp 17.500 hingga Rp 17.600. Fenomena ini memicu perdebatan hangat di ruang publik, terutama setelah Presiden Prabowo Subianto melontarkan pernyataan bahwa pelemahan ini tak perlu dikhawatirkan secara berlebihan, khususnya oleh masyarakat di pedesaan. Namun, apakah benar masyarakat desa benar-benar kebal terhadap badai depresiasi mata uang ini?

Mitos Keamanan Ekonomi Desa di Tengah Badai Dolar

Pernyataan optimistis dari pemerintah seringkali didasarkan pada asumsi bahwa transaksi di tingkat akar rumput, terutama di desa, masih didominasi oleh rupiah dan produk lokal. Namun, para pakar ekonomi memberikan peringatan keras. Gigih Prihantono, pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga (Unair), menegaskan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku sudah merambah ke segala lini kehidupan.

Baca Juga

Bongkar Siasat Pengelola Dapur MBG: Antara Alasan Klasik dan Ketegasan Badan Gizi Nasional

Bongkar Siasat Pengelola Dapur MBG: Antara Alasan Klasik dan Ketegasan Badan Gizi Nasional

Menurut Gigih, meskipun warga desa tidak bertransaksi menggunakan lembaran dolar hijau, mereka tetap akan merasakan hantaman harga. Barang-barang konsumsi seperti pakaian, kendaraan bermotor, hingga perangkat elektronik yang digunakan penduduk desa mayoritas merupakan barang impor atau setidaknya memiliki komponen impor yang besar. Ketika rupiah melemah, biaya perolehan barang-barang ini melonjak, dan beban tersebut dipastikan akan diteruskan kepada konsumen akhir di pelosok desa sekalipun.

Integrasi Ekonomi Global: Tak Ada Tempat untuk Bersembunyi

Senada dengan Gigih, Bhima Yudhistira selaku Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) menyatakan bahwa ekonomi Indonesia saat ini sudah sangat terintegrasi dengan sistem global. Bhima menekankan bahwa narasi yang menyebut warga desa aman adalah narasi yang berbahaya karena dapat menciptakan rasa tenang yang semu (false sense of security).

Baca Juga

Strategi Dividen Jumbo BBRI dan Ambisi KPR BBTN di Tengah Lonjakan IHSG

Strategi Dividen Jumbo BBRI dan Ambisi KPR BBTN di Tengah Lonjakan IHSG

“Jangan salah kaprah. Handphone yang digunakan warga desa, mesin cuci, hingga motor untuk transportasi harian adalah produk yang sangat sensitif terhadap nilai tukar. Bahkan harga pupuk yang menjadi urat nadi pertanian di desa akan ikut terkerek naik jika rupiah terus loyo. Ini adalah ancaman nyata bagi biaya hidup di tingkat desa,” ungkap Bhima.

Ia juga menyoroti potensi gelombang PHK massal di sektor industri perkotaan yang sangat bergantung pada bahan baku impor. Jika industri manufaktur kolaps akibat biaya produksi yang tak terkendali, maka akan terjadi arus balik pengangguran dari kota ke desa. Beban ekonomi desa justru akan bertambah dengan kepulangan kerabat mereka yang kehilangan mata pencaharian.

Baca Juga

Bara di Selat Hormuz: Harga Minyak Dunia Meroket Pasca Insiden Baku Tembak AS-Iran

Bara di Selat Hormuz: Harga Minyak Dunia Meroket Pasca Insiden Baku Tembak AS-Iran

Regulasi yang ‘Mencekik’ Dunia Usaha

Selain faktor eksternal, Gigih Prihantono menyoroti masalah struktural di dalam negeri. Ia menilai pemerintah saat ini cenderung mengarah pada gaya kepemimpinan ekonomi yang otoritarian melalui regulasi yang terlalu ketat. Menurutnya, untuk menyelamatkan nilai tukar rupiah, jalan keluar yang paling masuk akal adalah melakukan deregulasi besar-besaran.

“Dunia usaha tidak bisa bergerak bebas jika terus dihujani regulasi yang rumit dan memberatkan. Semakin tinggi regulasi, semakin sulit bagi pelaku usaha untuk berinovasi dan bertahan. Kita butuh iklim usaha yang luwes agar roda ekonomi tetap berputar meski tekanan global sedang kencang-kencangnya,” tambah Gigih.

Lima Dampak Sistemik Jika Rupiah Tak Segera Menguat

Berdasarkan analisis dari berbagai akademisi dari UGM, Unair, hingga Unand, terdapat lima dampak krusial yang akan dirasakan langsung oleh masyarakat jika tren pelemahan ini terus berlanjut:

Baca Juga

Rekor Laba Raksasa Saudi Aramco Tembus Rp 581 Triliun: Strategi Cerdas di Tengah Badai Geopolitik Dunia

Rekor Laba Raksasa Saudi Aramco Tembus Rp 581 Triliun: Strategi Cerdas di Tengah Badai Geopolitik Dunia

1. Lonjakan Harga Kebutuhan Pokok (Imported Inflation)

Rijadh Djatu Winardi dari FEB UGM menjelaskan fenomena imported inflation. Perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor mau tidak mau harus menyesuaikan harga jual produk mereka dalam hitungan bulan. Hal ini akan memicu kenaikan harga pangan olahan dan kebutuhan rumah tangga lainnya secara masif.

2. Biaya Transportasi dan Kesehatan yang Mencekik

Sektor transportasi sangat bergantung pada harga BBM yang dipengaruhi pasar global. Di sisi lain, dunia kesehatan kita masih sangat bergantung pada obat-obatan impor dan alat kesehatan dari luar negeri. Ketika rupiah melemah, biaya berobat dan ongkos perjalanan akan menjadi kemewahan yang sulit dijangkau kelas bawah.

3. Membengkaknya Beban Subsidi dan Utang Luar Negeri

Secara fiskal, pemerintah akan terhimpit. Meskipun nilai utang luar negeri dalam dolar tetap sama, namun konversinya ke dalam rupiah akan membengkak secara fantastis. Hal ini juga berlaku pada subsidi energi (BBM dan Listrik) yang harus ditanggung APBN. Jika anggaran terserap untuk menutup selisih kurs, maka pos anggaran lain akan dikorbankan.

4. Terbatasnya Pembiayaan Sektor Sosial

Akibat ruang fiskal yang menyempit, fleksibilitas pemerintah untuk membiayai sektor fundamental seperti pendidikan dan perlindungan sosial menjadi sangat terbatas. Proyek-proyek strategis nasional mungkin akan tetap berjalan, namun kesejahteraan langsung masyarakat bisa jadi terabaikan.

5. Efek Dominan pada Investasi dan Ketenagakerjaan

Hefrizal Handra dari Universitas Andalas memperingatkan bahwa kondisi ini adalah ujian serius bagi kredibilitas ekonomi Indonesia. Meskipun sektor riil saat ini masih bertahan, namun ketidakpastian nilai tukar bisa memicu risk repricing di pasar keuangan, yang pada akhirnya membuat investor asing ragu untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Adakah Peluang di Balik Krisis?

Meski terlihat suram, Eddy Junarsin dari FEB UGM memberikan sedikit perspektif berbeda. Melemahnya rupiah secara teori dapat membuat produk-produk asli Indonesia menjadi lebih murah dan kompetitif di pasar internasional. Ini bisa menjadi momentum untuk menggenjot ekspor barang-barang manufaktur dan kerajinan lokal.

Namun, catatan pentingnya adalah peluang ini hanya berlaku bagi industri yang memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) tinggi. Bagi industri yang masih ‘kecanduan’ impor, pelemahan rupiah tetaplah sebuah malapetaka yang harus segera diantisipasi dengan kebijakan yang kuat dan kredibel.

TotoNews menyimpulkan bahwa narasi ‘aman dari dolar’ perlu ditinjau ulang dengan kebijakan mitigasi yang lebih nyata. Pemerintah tidak boleh hanya menenangkan masyarakat dengan kata-kata, tetapi harus menyiapkan skenario terburuk agar guncangan ekonomi mendadak tidak meruntuhkan daya beli masyarakat di seluruh penjuru negeri.

Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *