Siasat Licin ‘Sniper’ Kampung Narkoba Samarinda: Dari Pengawasan Drone Hingga Pengkhianatan Oknum

Rizky Ramadhan | Totonews
19 Mei 2026, 06:42 WIB
Siasat Licin 'Sniper' Kampung Narkoba Samarinda: Dari Pengawasan Drone Hingga Pengkhianatan Oknum

TotoNews — Selama hampir empat tahun lamanya, sebuah lorong sempit yang dikenal sebagai Gang Langgar di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, bertransformasi menjadi benteng pertahanan peredaran gelap narkotika yang nyaris tak tersentuh. Namun, sepandai-pandainya melompat, pelarian sindikat ini akhirnya menemui titik nadir. Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri baru saja membongkar tabir gelap di balik operasional kampung narkoba tersebut dalam sebuah operasi senyap yang penuh risiko.

Sistem Keamanan Berlapis: Mengenal Sosok ‘Sniper’ Jalanan

Apa yang membuat Gang Langgar begitu sulit ditembus selama bertahun-tahun bukan sekadar labirin gang yang sempit, melainkan sistem keamanan yang mereka sebut sebagai ‘sniper’. Istilah ini merujuk pada puluhan mata-mata atau informan yang ditempatkan di setiap sudut strategis. Tugas mereka bukan melepaskan tembakan, melainkan menjadi “radar hidup” yang memantau setiap pergerakan asing yang masuk ke wilayah kekuasaan mereka.

Baca Juga

Mempererat Poros Jakarta-Moskow: Putin Undang Prabowo Hadiri Pameran Industri Besar di Rusia

Mempererat Poros Jakarta-Moskow: Putin Undang Prabowo Hadiri Pameran Industri Besar di Rusia

Brigjen Pol Eko Hadi Santoso, Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, mengungkapkan bahwa setidaknya ada 31 orang yang bertugas sebagai pengawas atau mata-mata pada malam hari. Intensitas pengawasan ini memang sengaja diperketat saat matahari terbenam, mengingat waktu tersebut merupakan jam sibuk transaksi barang haram tersebut. Para sniper ini dibekali alat komunikasi untuk memberikan kode cepat jika melihat kehadiran aparat atau orang yang mencurigakan.

“Mereka tidak hanya mengawasi pembeli, tetapi target utama mereka adalah polisi. Jika ada pergerakan aparat, informasi akan mengalir dalam hitungan detik ke jantung pertahanan sindikat di dalam gang, sehingga para pelaku bisa segera melenyapkan barang bukti atau melarikan diri melalui jalur tikus,” jelas Brigjen Eko dalam keterangan resminya kepada TotoNews.

Baca Juga

Gencatan Senjata Lebanon di Ambang Kehancuran: Hizbullah Tuding Balik Israel Lakukan Pengkhianatan

Gencatan Senjata Lebanon di Ambang Kehancuran: Hizbullah Tuding Balik Israel Lakukan Pengkhianatan

Penyamaran Berhari-hari di Jantung Musuh

Keberhasilan penggerebekan pada Kamis, 15 Mei 2026, tidak datang begitu saja. Tim gabungan dari Subdit IV Dittipidnarkoba Bareskrim Polri dan Satgas NIC yang dipimpin oleh Kombes Handik Zusen serta Kombes Kevin Leleury harus melakukan aksi undercover atau penyamaran selama berhari-hari. Mereka membaur dengan lingkungan sekitar, memetakan kebiasaan para ‘sniper’, dan mencari celah di saat pengawasan melonggar—yakni pada siang hari.

Ketika momentum yang tepat tiba, tim melakukan manuver cepat yang mengejutkan seluruh penghuni gang. Sebanyak 11 orang berhasil diringkus tanpa perlawanan berarti. Mereka yang diamankan antara lain Ade Saputra, Tri Hartanto Pamungkas, Kamarudin, Mustafa, Firnandes alias Nando, Asrheel, Muhammad Aswi, Nasrudin, Muhammad Tamrin, Muhammad Ical, dan Idham Halid. Penangkapan ini menjadi pukulan telak bagi ekosistem peredaran sabu di Samarinda.

Baca Juga

Berantas Sarang Miras dan Kriminalitas, 14 Bangunan Liar di Gunung Sahari Dibongkar Paksa

Berantas Sarang Miras dan Kriminalitas, 14 Bangunan Liar di Gunung Sahari Dibongkar Paksa

Ironi Penegakan Hukum: Keterlibatan Bripka DW

Satu fakta yang paling mengejutkan sekaligus memilukan dalam kasus ini adalah ditemukannya pengkhianatan dari dalam institusi Polri sendiri. Seorang oknum polisi berinisial Bripka DW (Dedy Wiratama) teridentifikasi berperan aktif sebagai salah satu ‘sniper’ bagi sindikat Gang Langgar. Bukannya memberantas, ia justru menjadi mata yang melindungi para bandar dari incaran rekan sejawatnya.

Keterlibatan DW terbongkar setelah dilakukan penyelidikan mendalam terhadap alur komunikasi jaringan tersebut. Brigjen Eko menegaskan bahwa tidak ada toleransi bagi anggota yang bermain api dengan narkoba. DW kini telah diamankan oleh Satbrimob Polda Kaltim dan sedang menjalani proses pemecatan atau Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH). Selain keterlibatannya dalam sindikat, hasil tes urine DW juga menunjukkan positif mengonsumsi narkotika.

Baca Juga

Skandal Jeratan Utang di Satpol PP Bogor: Istri Korban Bongkar Muslihat Atasan yang Gadai SK Demi ‘Urusan Kantor’

Skandal Jeratan Utang di Satpol PP Bogor: Istri Korban Bongkar Muslihat Atasan yang Gadai SK Demi ‘Urusan Kantor’

“Setelah proses kode etik selesai, kami pastikan yang bersangkutan akan dihadapkan pada proses pidana narkotika. Kami tidak akan membiarkan benalu merusak institusi ini,” tegas jenderal bintang satu tersebut.

Penangkapan Sang Bandar di Kamar Mewah

Sementara anak buahnya berpeluh memantau gang sempit, sang otak pengendali justru menikmati kemewahan. Firnandes alias Nando, bandar besar yang mengendalikan lapak di Gang Langgar, ditangkap tim gabungan saat sedang menikmati waktu santai atau staycation di sebuah hotel berbintang di Samarinda. Ia diamankan di kamar suites bersama kekasihnya yang berinisial WA.

Dari tangan Nando, polisi menyita sejumlah barang bukti krusial, termasuk dua unit telepon seluler yang berisi jejak transaksi serta uang tunai senilai Rp10 juta. Tak berhenti di situ, petugas juga menggeledah rumah tinggal Nando yang terletak di Blok C, Kelurahan Baqa, Samarinda Seberang. Penangkapan ini membuktikan bahwa bandar narkoba seringkali bersembunyi di balik gaya hidup kelas atas untuk menutupi bisnis gelap mereka.

Operasional Lapak: Dari Drone Hingga Samurai

Berdasarkan hasil investigasi TotoNews, pola penjualan di kampung narkoba ini tergolong sangat rapi dan terorganisir. Transaksi terpusat di sebuah lokasi yang disebut sebagai Blok F. Para pengguna yang berhasil melewati pengawasan sniper di pintu masuk akan diarahkan ke lapak tertentu. Harga yang dipatok pun seragam, yakni Rp150 ribu untuk satu klip kecil sabu, dan berlaku kelipatannya.

Polisi juga mengidentifikasi seorang pria berinisial H Endi yang kini telah ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO). Di rumah milik H Endi, polisi menemukan berbagai peralatan canggih yang digunakan untuk memantau keamanan wilayah, mulai dari kamera pengawas (CCTV) hingga drone merek DJI Mavic. Drone ini disinyalir digunakan untuk memantau perimeter luar dari udara.

Selain peralatan teknologi, polisi juga menyita senjata tajam jenis samurai dan puluhan amplop yang disiapkan untuk membungkus uang hasil penjualan. Penemuan satu set PC merek ASUS di lokasi juga mengindikasikan adanya manajemen pembukuan yang coba dilakukan oleh kelompok ini dalam mengelola keuangan bisnis haram mereka selama empat tahun terakhir.

Komitmen Memberantas Kampung Narkoba

Penggerebekan di Gang Langgar Samarinda ini menjadi pesan kuat bagi sindikat narkotika lainnya bahwa tidak ada wilayah yang benar-benar aman dari jangkauan hukum. Dittipidnarkoba Bareskrim Polri berkomitmen untuk terus memetakan dan meruntuhkan kampung narkoba yang seringkali menjadi tempat perlindungan bagi para pengedar kecil hingga kelas kakap.

Masyarakat juga diimbau untuk lebih berani melaporkan aktivitas mencurigakan di lingkungannya. Sebab, tanpa dukungan informasi dari warga, sindikat seperti yang ada di Gang Langgar akan terus tumbuh subur di bawah radar. Kini, dengan tertangkapnya Nando dan belasan anggotanya, warga Samarinda setidaknya bisa bernapas lebih lega dari ancaman peredaran narkoba yang telah merusak generasi muda di wilayah tersebut selama bertahun-tahun.

Rizky Ramadhan

Rizky Ramadhan

Mantan mekanik yang beralih menjadi jurnalis otomotif. Tulisannya dikenal tajam dalam mengulas performa mesin dan tren kendaraan masa depan di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *