Reformasi Bea Cukai di Tangan Luhut: Mengandalkan AI dan Danantara demi Transparansi Ekonomi Nasional

Siti Aminah | Totonews
25 Mei 2026, 22:43 WIB
Reformasi Bea Cukai di Tangan Luhut: Mengandalkan AI dan Danantara demi Transparansi Ekonomi Nasional

TotoNews — Di tengah dinamika ekonomi global yang kian kompleks, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, melontarkan pernyataan tegas terkait perlunya transformasi radikal di tubuh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan. Langkah ini bukan sekadar wacana administratif, melainkan sebuah misi besar untuk membersihkan celah-celah korupsi dan meningkatkan efisiensi perdagangan internasional Indonesia melalui pemanfaatan teknologi mutakhir.

Luhut menekankan bahwa sektor kepabeanan merupakan pintu gerbang utama ekonomi negara yang selama ini masih rentan terhadap berbagai praktik ilegal. Oleh karena itu, ia mendorong agar sistem pengawasan di Bea Cukai segera beralih ke basis digital secara penuh, terutama dengan mengintegrasikan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, teknologi adalah jawaban atas kegagalan sistem pengawasan manual yang sering kali masih melibatkan interaksi tatap muka yang berisiko.

Baca Juga

Perang Total Melawan Mafia Pangan: Langkah Berani Kementan Cabut Ribuan Izin Distributor Pupuk Nakal

Perang Total Melawan Mafia Pangan: Langkah Berani Kementan Cabut Ribuan Izin Distributor Pupuk Nakal

Urgensi Reformasi: Mengapa Sekarang?

Pertanyaan mengenai mengapa reformasi ini begitu mendesak dijawab oleh Luhut dengan menyoroti pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI). Badan ini dirancang sebagai lembaga pengelola investasi dan ekspor satu pintu yang akan mengonsolidasikan berbagai aset serta kekuatan ekonomi nasional. Agar Danantara dapat berfungsi maksimal, ia memerlukan mitra kerja di sektor kepabeanan yang memiliki akurasi data tinggi dan integritas sistem yang tak tergoyahkan.

“Saya pikir, Direktorat Jenderal Bea Cukai memang perlu ada reformasi birokrasi yang mendalam. Kenapa tidak? Jika kita ingin bersaing di level global, sistem kita harus setara dengan standar internasional yang serba digital,” ujar Luhut saat ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu. Ia meyakini bahwa perubahan ini akan membawa dampak signifikan bagi kepercayaan investor dan kelancaran arus barang di pelabuhan.

Baca Juga

WIKA Memasuki Era Baru: I Ketut Pasek Senjaya Putra Resmi Pimpin Transformasi Wijaya Karya

WIKA Memasuki Era Baru: I Ketut Pasek Senjaya Putra Resmi Pimpin Transformasi Wijaya Karya

Reformasi ini juga dipicu oleh kekhawatiran akan rendahnya kepatuhan dalam pelaporan transaksi perdagangan. Selama bertahun-tahun, isu mengenai data yang tidak sinkron antara eksportir dan pemerintah menjadi momok yang merugikan keuangan negara. Dengan adanya desakan dari Dewan Ekonomi Nasional, diharapkan Kementerian Keuangan dapat melakukan percepatan dalam memodernisasi infrastruktur teknologi informasi di lingkungan Bea Cukai.

Kecerdasan Buatan: Solusi Ampuh Menghapus Celah Kecurangan

Salah satu poin krusial yang ditekan oleh Luhut adalah penggunaan kecerdasan buatan (AI). Luhut secara terbuka meragukan efektivitas akta integritas yang selama ini ditandatangani oleh para pejabat atau pelaku usaha jika sistemnya masih memungkinkan terjadinya pertemuan fisik secara intensif. Menurut pengalamannya, integritas di atas kertas sering kali kalah oleh godaan keuntungan pribadi di lapangan.

Baca Juga

Transformasi Digital dan Komitmen ESG: Bank Raya Perkuat Fondasi Lewat RUPST 2026

Transformasi Digital dan Komitmen ESG: Bank Raya Perkuat Fondasi Lewat RUPST 2026

“Kalau pertemuan orang ke orang masih sering terjadi, pakai akta integritas apa pun, saya rasa hampir tidak ada yang benar-benar menjalankannya secara murni. Pasti ada saja celah untuk melakukan kecurangan atau kongkalikong,” ungkap Luhut dengan nada diplomatis namun tajam. Baginya, AI tidak bisa disuap. Sistem algoritma akan membaca pola data secara objektif, mendeteksi anomali, dan memberikan peringatan otomatis jika ada ketidaksesuaian antara jumlah barang yang dilaporkan dengan kenyataan di lapangan.

Penggunaan AI ini nantinya akan difokuskan pada sistem pelaporan serta pengawasan ekspor impor barang, khususnya pada komoditas strategis seperti mineral hasil tambang. Sektor pertambangan dipilih karena memiliki volume transaksi yang sangat besar dan sering menjadi sasaran empuk praktik penggelapan pajak maupun royalti melalui manipulasi data dokumen pengapalan.

Baca Juga

SPBU Rest Area KM 21 Tol Jagorawi Ditutup Sementara: Panduan Lengkap dan Alternatif Pengisian BBM

SPBU Rest Area KM 21 Tol Jagorawi Ditutup Sementara: Panduan Lengkap dan Alternatif Pengisian BBM

Peran Strategis PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI)

Pemerintah tidak hanya bergerak di sisi pengawasan, tetapi juga memperkuat sisi manajemen melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI). Sebagai badan ekspor khusus, DSI memegang mandat untuk memastikan bahwa seluruh kekayaan alam Indonesia dikelola dengan prinsip transparansi maksimal. Luhut optimistis bahwa kolaborasi antara Bea Cukai yang tereformasi dan DSI yang kuat akan menjadi duo maut bagi para pelaku kecurangan.

DSI akan bertindak sebagai pengawas sekaligus pengelola yang memiliki akses terhadap basis data terpadu. Fokus utama badan ini adalah menghapus praktik-praktik yang selama ini merongrong penerimaan negara, seperti under-invoicing (pelaporan nilai barang di bawah harga pasar), transfer pricing, dan transaksi-transaksi gelap yang tidak tercatat dalam buku resmi. Dengan sistem satu pintu, tidak akan ada lagi tumpang tindih regulasi yang sering dimanfaatkan oleh oknum-oknum nakal.

Pembentukan DSI juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk menarik lebih banyak investasi asing. Dengan sistem perdagangan yang bersih dan efisien, para pelaku usaha internasional akan merasa lebih aman untuk menanamkan modalnya di Indonesia, karena mereka tahu bahwa aturan main yang berlaku adalah adil dan didukung oleh teknologi yang kredibel.

Integrasi Data Melalui Indonesia National Single Window (INSW)

Transformasi ini tidak berjalan di ruang hampa. Pemerintah telah lama memiliki fondasi bernama Indonesia National Single Window (INSW). Namun, Luhut melihat potensi INSW masih bisa dioptimalkan lebih jauh lagi. Digitalisasi ekosistem perizinan dan perdagangan nasional melalui INSW akan menjadi tulang punggung bagi operasional Danantara dan Bea Cukai di masa depan.

Nantinya, seluruh data eksportir, pemilik barang, importir, hingga tujuan pengiriman akan terekam secara real-time dan terintegrasi. Data dari Bea Cukai akan secara otomatis mengalir ke Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia. Hal ini memungkinkan pemerintah untuk melacak jejak setiap sen yang keluar dan masuk dari aktivitas perdagangan luar negeri.

“Semua akan saling terkait. AI yang akan membaca semuanya, sehingga para pelaku ekspor tidak bisa lagi lari dari kewajiban mereka. Tidak ada lagi dokumen yang bisa disembunyikan atau dimanipulasi di tengah jalan,” tegas Luhut. Integrasi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi waktu bongkar muat (dwelling time) di pelabuhan dan menekan biaya logistik yang selama ini masih tergolong tinggi di Indonesia.

Target Akhir: Mengamankan Penerimaan Negara demi Kesejahteraan Rakyat

Pada akhirnya, seluruh upaya reformasi ini bermuara pada satu tujuan besar: mengamankan penerimaan negara. Kebocoran yang terjadi di sektor Bea Cukai selama ini diperkirakan bernilai triliunan rupiah. Jika dana tersebut dapat diselamatkan melalui sistem digitalisasi yang ketat, maka pemerintah akan memiliki ruang fiskal yang lebih luas untuk mendanai program-program pembangunan dan kesejahteraan rakyat.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, juga turut mendukung langkah ini. Ia menyatakan bahwa koordinasi antara kementerian sedang dipertajam untuk mematangkan tugas DSI. Keterlibatan aktif Bea Cukai dalam proses ini menunjukkan adanya komitmen lintas sektoral untuk menciptakan ekosistem perdagangan yang lebih sehat.

Dengan visi besar Luhut Pandjaitan dan dukungan penuh dari Dewan Ekonomi Nasional, Indonesia kini sedang menatap era baru dalam tata kelola perdagangan internasional. Reformasi Bea Cukai bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan demi menjaga kedaulatan ekonomi di masa depan. Melalui sinergi antara teknologi kecerdasan buatan, integrasi data INSW, dan peran strategis Danantara, celah kecurangan diharapkan akan tertutup rapat, menyisakan sistem yang transparan, akuntabel, dan kompetitif di mata dunia.

Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *