Polemik Motor Listrik Mewah Program Makan Bergizi Gratis: Urgensi Trail Rp 50 Juta Dipertanyakan

Bagus Setiawan | Totonews
10 Apr 2026, 07:42 WIB
Polemik Motor Listrik Mewah Program Makan Bergizi Gratis: Urgensi Trail Rp 50 Juta Dipertanyakan

TotoNews — Program strategis nasional makan bergizi gratis (MBG) kini tengah berada di bawah radar pengawasan publik. Bukan karena urusan dapur atau distribusi makanan, melainkan karena pengadaan puluhan ribu unit kendaraan operasional yang dinilai memiliki spesifikasi dan harga yang tidak biasa untuk sebuah tugas pelayanan publik.

Baru-baru ini, jagat media sosial dihebohkan dengan penampakan ribuan unit motor listrik yang telah dipasangi logo resmi Badan Gizi Nasional (BGN). Kendaraan-kendaraan ini kabarnya akan menjadi tunggangan bagi Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai wilayah. Namun, yang menjadi ganjalan di hati masyarakat adalah jenis dan harga dari motor tersebut.

Spesifikasi Gahar di Balik Anggaran Jumbo

Berdasarkan pantauan di lapangan, kendaraan yang disiapkan mencakup dua model utama dari merek Emmo, yakni Emmo JVX GT yang mengusung desain tangguh ala motor trail, serta Emmo JVH Max yang merupakan skuter listrik bergaya modern. Jika merujuk pada situs resminya, harga yang ditawarkan tidak bisa dibilang murah.

Baca Juga

Keajaiban di Jerez: Marc Marquez Bangkit dari Crash untuk Rajai Sprint Race MotoGP Spanyol 2026

Keajaiban di Jerez: Marc Marquez Bangkit dari Crash untuk Rajai Sprint Race MotoGP Spanyol 2026

Satu unit Emmo JVX GT dibanderol sekitar Rp 56,8 juta. Sementara itu, model skuter JVH Max yang mampu melaju hingga 90 km/jam dengan daya jelajah 70 km per pengisian daya, dihargai sekitar Rp 48,8 juta. Meski demikian, Kepala BGN Dadan Hindayana sempat memberikan klarifikasi bahwa pemerintah mendapatkan harga khusus sebesar Rp 42 juta per unit, yang diklaim lebih hemat Rp 10 juta dari harga pasar.

Kritik Pedas Pengamat Otomotif

Meskipun ada klaim penghematan, pemilihan unit motor listrik dengan spesifikasi setinggi itu tetap memicu tanda tanya besar dari para pakar. Pengamat otomotif kawakan, Bebin Djuana, secara terbuka mempertanyakan alasan di balik pemilihan motor trail listrik seharga Rp 50 jutaan tersebut.

Baca Juga

Update Harga Skutik Retro April 2026: Persaingan Ketat Honda Scoopy vs Yamaha Fazzio

Update Harga Skutik Retro April 2026: Persaingan Ketat Honda Scoopy vs Yamaha Fazzio

“Pertanyaannya sederhana, untuk apa? Kita semua maklum jika kepala dapur atau pelayanan membutuhkan kendaraan operasional agar tidak jalan kaki, tapi apakah harus spesifikasi seperti itu?” cetus Bebin saat memberikan pandangannya. Ia bahkan membandingkan dengan negara maju di kawasan Skandinavia yang menurutnya tidak menggunakan kendaraan semahal itu untuk fungsi pelayanan serupa.

Potensi Industri Dalam Negeri yang Terabaikan?

Selain soal harga, Bebin juga menyoroti aspek pemberdayaan industri lokal. Ia menilai transisi ke kendaraan listrik memang langkah positif untuk mengurangi beban subsidi BBM, namun pemilihan merek impor atau non-lokal di rentang harga tersebut sangat disayangkan.

“Kenapa kita tidak memberdayakan potensi dalam negeri? Saya yakin, lulusan STM kita jika diberi bimbingan mampu membangun kendaraan roda tiga atau motor operasional yang mumpuni untuk distribusi barang. Jika diproduksi di dalam negeri, perawatannya pun jauh lebih mudah dan bisa melibatkan bengkel-bengkel UMKM di pinggir jalan,” tambah Bebin.

Baca Juga

Solusi Praktis! Bayar Pajak Kendaraan Kini Tak Perlu KTP Pemilik Lama, Simak Ketentuan dan Batas Waktunya

Solusi Praktis! Bayar Pajak Kendaraan Kini Tak Perlu KTP Pemilik Lama, Simak Ketentuan dan Batas Waktunya

Polemik ini pun kini berkembang menjadi diskusi hangat mengenai efisiensi anggaran negara. Publik berharap agar program yang bertujuan mulia untuk memperbaiki gizi anak bangsa ini tidak tercederai oleh kebijakan pengadaan barang yang dinilai kurang tepat sasaran dan cenderung boros.

Bagus Setiawan

Bagus Setiawan

Jurnalis senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di industri media. Spesialis dalam mengupas isu kebijakan publik dan investigasi peristiwa di kanal Feed News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *