Tragedi Prometheus: Kisah Pilu di Balik Tumbangnya Pohon Tertua Dunia Demi Sains

Andini Putri Lestari | Totonews
17 Apr 2026, 06:41 WIB
Tragedi Prometheus: Kisah Pilu di Balik Tumbangnya Pohon Tertua Dunia Demi Sains

TotoNews — Bayangkan sebuah organisme hidup yang telah bernapas jauh sebelum Kekaisaran Romawi berdiri, bahkan mendahului pembangunan Piramida Giza di Mesir. Organisme itu adalah Prometheus, sebuah pohon pinus Bristlecone (Pinus longaeva) yang berdiri kokoh di puncak berbatu Nevada, Amerika Serikat. Namun, sebuah ironi sejarah terjadi pada tahun 1964, ketika saksi bisu sejarah dunia ini justru menemui ajalnya di tangan seorang peneliti yang ingin mengungkap rahasia masa lalu.

Satu Kesalahan yang Mengubah Dunia Konservasi

Kisah ini bermula ketika Donald Rusk Currey, seorang mahasiswa pascasarjana yang sedang mendalami studi perubahan iklim, melakukan penelitian di Wheeler Peak. Currey bermaksud mempelajari pola iklim masa lampau melalui cincin pertumbuhan pohon. Namun, saat mencoba mengambil sampel inti dari Prometheus, alat bor miliknya tersangkut dan patah di dalam batang pohon yang sangat keras tersebut.

Baca Juga

China Guncang Dunia Maritim dengan ‘Pulau Terapung’ Raksasa 30 Lantai, Lab Riset Terbesar di Tengah Laut

China Guncang Dunia Maritim dengan ‘Pulau Terapung’ Raksasa 30 Lantai, Lab Riset Terbesar di Tengah Laut

Alih-alih mencari cara lain, dengan izin dari otoritas kehutanan setempat, Currey memutuskan untuk menebang seluruh batang pohon guna menghitung cincin pertumbuhannya secara manual. Keputusan ini diambil dengan asumsi bahwa Prometheus hanyalah salah satu dari sekian banyak pohon tua di wilayah tersebut. Namun, apa yang ditemukan kemudian sungguh mengejutkan dunia penelitian ilmiah.

Penyesalan yang Terlambat: Menghitung Usia Sang Raksasa

Setelah pohon tersebut rebah dan sampelnya dibawa ke laboratorium, Currey mulai menghitung setiap lingkaran yang mewakili satu tahun kehidupan. Hasilnya sangat memilukan: Prometheus memiliki setidaknya 4.844 cincin pertumbuhan. Angka ini memastikan bahwa pohon tersebut berusia hampir 5.000 tahun, menjadikannya organisme non-klonal tertua yang pernah ditemukan manusia saat itu.

Baca Juga

Digital Realty Bersama Pimpin Revolusi AI Nasional dengan Data Center Tier IV dan Konektivitas Global ServiceFabric

Digital Realty Bersama Pimpin Revolusi AI Nasional dengan Data Center Tier IV dan Konektivitas Global ServiceFabric

Tragedi ini memicu gelombang kemarahan sekaligus refleksi mendalam di kalangan ilmuwan dan pecinta lingkungan hidup. Bagaimana mungkin sebuah monumen hidup yang telah bertahan melewati ribuan musim dingin yang ekstrem harus berakhir hanya karena sebuah eksperimen akademis? Peristiwa ini menjadi titik balik penting yang mendorong lahirnya kebijakan perlindungan ketat terhadap spesies Bristlecone Pine di seluruh Amerika Serikat.

Warisan dari Sebuah Kehancuran

Meski kematian Prometheus dianggap sebagai sebuah tragedi, dampaknya terhadap dunia konservasi alam sangatlah masif. Sejak kejadian itu, protokol penelitian terhadap organisme langka dan berusia tua diubah secara total. Tidak boleh ada lagi tindakan destruktif yang dilakukan atas nama ilmu pengetahuan terhadap warisan alam yang tak tergantikan.

Baca Juga

Melampaui Legenda Bosscha: Menengok Kemegahan Observatorium Nasional Gunung Timau yang Segera Mengguncang Dunia

Melampaui Legenda Bosscha: Menengok Kemegahan Observatorium Nasional Gunung Timau yang Segera Mengguncang Dunia

Kini, Prometheus hanya menyisakan tunggul mati di lereng gunung Nevada, namun namanya tetap abadi sebagai pengingat akan kerentanan alam di hadapan ambisi manusia. Kisah ini mengajarkan kita bahwa terkadang, cara terbaik untuk menghormati sejarah adalah dengan membiarkannya tetap berdiri, tanpa harus menyentuh atau menghancurkannya untuk sekadar memuaskan rasa ingin tahu.

Andini Putri Lestari

Andini Putri Lestari

Antusias teknologi dan internet. Andini bertugas mengisi kolom Inet dengan ulasan gadget terbaru dan edukasi literasi digital bagi generasi milenial.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *