Revolusi Energi Hijau: Indonesia Bidik Potensi 15 GW Melalui PLTS Terapung di Bendungan
TotoNews — Langkah strategis guna mempercepat transisi energi di tanah air kini memasuki babak baru. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berkolaborasi erat dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk mengoptimalkan fungsi bendungan di seluruh penjuru negeri sebagai basis pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Inisiatif ini bukan tanpa alasan. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan bahwa pemanfaatan area permukaan bendungan memiliki potensi yang sangat masif. Berdasarkan proyeksi awal, dengan mengalokasikan hanya 20 persen luas permukaan bendungan yang dikelola Kementerian PU, Indonesia bisa mengantongi tambahan kapasitas listrik hingga lebih dari 15 Gigawatt (GW).
“Basis hitungan kami saat ini adalah okupansi 20 persen dari seluruh bendungan yang dibangun oleh Kementerian PU. Dari sana, kita bisa menambah pasokan listrik lebih dari 15 Gigawatt,” papar Eniya dalam tayangan video pada acara peluncuran program strategis energi beberapa waktu lalu.
Harga Emas Antam Terjun Bebas! Tekanan Geopolitik dan Penguatan Dolar AS Jadi Pemicu Utama
Mengejar Target Ambisius 100 GW pada 2029
Pemetaan bendungan ini merupakan bagian dari misi besar pemerintah untuk mencapai target kapasitas terpasang PLTS nasional sebesar 100 GW paling lambat pada tahun 2029. Angka yang tergolong ambisius ini dirancang bukan sekadar untuk mengejar statistik produksi, melainkan untuk menstimulasi ekosistem industri energi terbarukan di dalam negeri.
Eniya menekankan bahwa melalui skema demand creation atau penciptaan permintaan, industri surya domestik diharapkan dapat bergerak lebih lincah dan kompetitif. Dengan adanya proyek-proyek berskala besar di bendungan, rantai pasok lokal mulai dari produsen panel hingga teknisi ahli akan mendapatkan ruang tumbuh yang luas.
Transformasi dari Atap Hingga ke Permukaan Air
Hingga saat ini, potret kapasitas terpasang PLTS di Indonesia secara kumulatif baru menyentuh angka sekitar 1,5 GW. Dari total tersebut, kontribusi terbesar berasal dari sektor PLTS atap yang mencatatkan angka 895 Megawatt (MW). Melihat adanya gap yang cukup besar menuju target 100 GW, pemerintah kini mulai melakukan diversifikasi metode instalasi.
Rekor Gemilang! Neraca Dagang Indonesia Surplus 71 Bulan Beruntun, Sektor Komoditas Jadi Penyelamat Ekonomi Nasional
“Kita masih berjuang untuk bisa menembus angka yang lebih signifikan. Saat ini, fokus kita tidak hanya berhenti pada pemasangan di atas tanah (ground mounted) atau di atap saja. Kami tengah mendorong akselerasi floating solar atau PLTS apung sebagai solusi inovatif,” jelas Eniya.
Pemanfaatan bendungan untuk PLTS apung dinilai memiliki keunggulan ganda. Selain tidak membutuhkan pembebasan lahan baru yang seringkali terkendala masalah sosial, keberadaan panel surya di atas air juga dapat membantu mengurangi penguapan air bendungan, sehingga menjaga ketahanan air sekaligus menghasilkan energi bersih secara bersamaan. Dengan sinergi lintas kementerian ini, Indonesia optimistis mampu merombak wajah sektor ketenagalistrikan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.
Kemenkeu Pastikan Kabar APBN Hanya Tahan 3 Bulan Adalah Hoaks, Cadangan Kas Masih Melimpah