Transformasi Desa Benteng: Kisah Sukses Agrowisata BRILiaN yang Menggerakkan Ekonomi Akar Rumput
TotoNews — Terletak di bawah bayang-bayang kokoh Gunung Kapur, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, sebuah desa yang dahulu nyaris tak terdengar namanya kini bertransformasi menjadi magnet kunjungan edukasi tingkat dunia. Desa Benteng, dengan luas wilayah mencapai 248,5 hektare, kini bukan sekadar hamparan lahan pertanian biasa. Di tangan dingin para penggerak lokal dan dukungan strategis perbankan, desa ini berhasil membuktikan bahwa sektor agrowisata bisa menjadi penyelamat ekonomi desa yang sangat tangguh.
Napas Baru di Kaki Gunung Kapur
Satu dekade lalu, Desa Benteng hanyalah desa agraris konvensional yang mengandalkan hasil bumi mentah. Meskipun memiliki 82 hektare sawah yang subur, nilai tambahnya masih sangat minim. Perubahan besar mulai terasa ketika sinergi antara kepemimpinan desa yang visioner bertemu dengan semangat kemandirian masyarakatnya. Potensi besar ini kemudian dikemas dalam konsep edu-agrotourism, sebuah pendekatan yang menggabungkan aktivitas pertanian produktif dengan pengalaman belajar bagi wisatawan luar.
BGN Patok Target Ambisius: Seluruh Dapur Makan Bergizi Gratis Wajib Tersertifikasi Higiene pada Agustus
Keberhasilan ini tidak diraih dalam semalam. Salah satu aktor di balik layar, Wahyu Syarief Hidayat, atau yang akrab disapa Kang Wahyu, menceritakan bagaimana dinamika perubahan itu terjadi. Menariknya, ide besar ini justru lahir dari kolaborasi antara dirinya dengan Faka Harika, Kepala Desa Benteng periode 2014-2020 yang merupakan mantan pelaut. Berbekal pengalaman melanglang buana selama 15 tahun di mancanegara, sang Kades membawa perspektif global tentang bagaimana sebuah daerah harus dikelola agar memiliki daya tarik wisata.
Titik Balik: Dari Pedagang Pasar Menjadi Penggerak Desa
Narasi perjalanan Desa Benteng juga diwarnai oleh kisah pribadi yang inspiratif. Sebelum terjun sepenuhnya membangun desa, Kang Wahyu adalah seorang pedagang pakaian di Pasar Leuwiliang. Namun, gempuran tren belanja daring (online) pada tahun 2018 membuat usahanya gulung tikar. Kejatuhan ekonomi pribadi ini justru menjadi pintu gerbang bagi pengabdian yang lebih luas.
Kabar Gembira bagi Korporasi! DJP Resmi Hapuskan Sanksi Telat Lapor SPT Badan Hingga Akhir Mei
“Saat usaha saya kolaps, saya harus menjual toko. Di titik itulah saya bertemu Pak Kades yang sedang mencari ‘orang lapangan’ untuk menggerakkan masyarakat. Saya merasa visi kami sejalan untuk membangun ekonomi desa lewat jalur wisata,” kenang Kang Wahyu. Ia kemudian dipercaya menjabat sebagai Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sekaligus memimpin Unit Pengelola Desa Wisata Benteng, sebuah amanah yang menjadi titik awal kebangkitan desa tersebut.
Sinergi Strategis Melalui Program Desa BRILiaN
Langkah nyata Desa Benteng dalam memperkuat eksistensinya mulai menemui jalan terang saat mereka bergabung dengan program pemberdayaan Desa BRILiaN yang diinisiasi oleh BRI pada tahun 2020. Di tengah hantaman pandemi COVID-19 yang melumpuhkan banyak sektor, sektor pangan justru menjadi benteng pertahanan terakhir. Melalui pelatihan intensif selama tiga bulan secara daring, perwakilan desa dibekali ilmu manajemen dan tata kelola destinasi yang profesional.
Banjir Diskon Transmart Full Day Sale: Refresh Ruang Tamu dengan Sarung Bantal Cuma Rp 20 Ribuan!
Keikutsertaan dalam ajang ini bukan sekadar mengejar status, melainkan upaya memperluas jaringan dan memperkuat kapasitas kelembagaan desa. “Kami ikut dengan prinsip nothing to lose. Yang penting kami punya relasi dan ilmu baru. Kami mempresentasikan potensi unggulan seperti Kampung Cassava dan budidaya jambu kristal,” jelas Kang Wahyu. Konsistensi dalam menjaga keberlanjutan program akhirnya membuahkan hasil manis; Desa Benteng dinobatkan sebagai salah satu dari lima desa terbaik dalam anugerah Desa BRILiaN tahun 2022.
Inovasi Hulu ke Hilir: Kampung Cassava dan Jambu Kristal
Salah satu kunci kesuksesan desa ini adalah kemampuannya mengolah komoditas mentah menjadi produk bernilai tinggi. Di Kampung Cassava, kelompok tani tidak hanya menjual singkong curah ke pasar, tetapi telah mampu mengolahnya menjadi tepung mokaf (modified cassava flour). Tepung ini kemudian dijadikan bahan baku berbagai jenis kue, yang secara otomatis meningkatkan margin pendapatan para petani setempat.
Berburu Kesejukan di Transmart Full Day Sale: AC Split 1 PK Diskon Gila-gilaan hingga Rp 1,7 Juta!
Tak kalah menarik adalah pengelolaan kebun jambu kristal oleh Kelompok Tani Cahaya Tani. Wisatawan yang berkunjung tidak hanya disuguhi pemandangan hijau, tetapi juga diajak terlibat langsung dalam proses edukasi, mulai dari teknik mencangkok hingga memetik buah langsung dari pohonnya. Efek dominonya sangat terasa; para petani kini tidak perlu lagi memikul hasil panen ke pasar karena stok seringkali habis diborong oleh wisatawan yang datang setiap akhir pekan.
Efek Multiplier Dana Hibah Rp1 Miliar
Keberhasilan di tahun 2022 membawa berkah tambahan. Pada tahun 2023, Desa Benteng terpilih menerima dana hibah senilai Rp1 miliar dari BRI. Dana yang sangat besar bagi ukuran desa ini tidak dikelola secara eksklusif oleh elit desa, melainkan diputuskan melalui rapat besar yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pengurus BUMDes, kelompok tani, hingga pelaku UMKM lokal.
Alokasi dana tersebut digunakan untuk membenahi infrastruktur pariwisata yang krusial, seperti pembangunan gapura tematik, pengembangan wisata sungai (river tubing), hingga penataan taman desa. Kini, di setiap RW di Desa Benteng memiliki karakter wisata yang unik. Ada RW yang fokus pada hidroponik, ada yang menjadi sentra pengolahan limbah ramah lingkungan, hingga area peternakan sapi yang terintegrasi dengan pengolahan susu yoghurt.
Pengakuan Internasional dan Keberlanjutan Masa Depan
Kini, Desa Benteng telah memiliki lebih dari 15 titik destinasi edukasi yang aktif. Mulai dari Rumah Kedelai Pak Mien Soya Ayu, Batik Ciwitan, hingga Jembatan Gantung Cisadane yang ikonik. Prestasi desa ini pun terus meroket. Pada tahun 2024, mereka berhasil menembus jajaran 500 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), mengungguli ribuan desa lainnya di seluruh tanah air.
Dampak yang dihasilkan tidak hanya terasa di level lokal. Desa Benteng kini rutin menerima kunjungan studi banding dari luar negeri, termasuk dari perguruan tinggi di Jepang, Kanada, dan Afrika Selatan. Bahkan, para bankir dari Peru dan pejabat kementerian dari Malaysia datang jauh-jauh ke Bogor hanya untuk mempelajari bagaimana model pemberdayaan masyarakat di desa ini bisa berjalan begitu efektif.
Kehadiran program Desa BRILiaN terbukti menjadi katalisator yang mengubah wajah desa. Seperti yang diungkapkan Kang Wahyu, kehadiran BUMDes kini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat bawah. UMKM makin berdaya dengan pesanan yang terus mengalir, dan kesejahteraan petani meningkat seiring terbukanya akses pasar yang lebih luas melalui jalur pariwisata. Desa Benteng adalah bukti nyata bahwa dengan kolaborasi yang tepat, desa bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mandiri dan berdaya saing global.