Badai di Pasar Modal: Menilik Penyebab IHSG Terjun Bebas ke Level 6.900

Siti Aminah | Totonews
08 Mei 2026, 18:42 WIB
Badai di Pasar Modal: Menilik Penyebab IHSG Terjun Bebas ke Level 6.900

TotoNews — Lantai bursa saham Indonesia dikejutkan dengan guncangan hebat pada penutupan perdagangan pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang awalnya menunjukkan taringnya di sesi pembukaan, secara mendadak kehilangan tenaga dan terjun bebas ke level terendahnya dalam beberapa bulan terakhir. Fenomena ini memicu kepanikan jangka pendek di kalangan pelaku investasi saham, mengingat penurunan terjadi begitu cepat menjelang bel penutupan dibunyikan.

Berdasarkan pantauan mendalam tim TotoNews melalui data RTI Business pada Jumat (8/5/2026), IHSG tercatat ditutup melemah signifikan sebesar 2,86% ke posisi 6.969,39. Padahal, jika menilik pergerakan di awal hari, optimisme sempat membuncah ketika indeks bergerak menguat di level 7.189,83. Namun, memasuki sesi II, tekanan jual yang masif tak terbendung, membuat grafik IHSG menukik tajam hingga terlempar dari zona psikologis 7.000.

Baca Juga

Ketegangan Memuncak: Ancaman Keras Trump ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia

Ketegangan Memuncak: Ancaman Keras Trump ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia

Sektor Pertambangan Logam Menjadi Beban Utama

Penyebab utama di balik lunglainya IHSG kali ini mengerucut pada performa buruk sektor pertambangan logam atau metal mining. Saham-saham di sektor ini rontok berjamaah, menyeret indeks ke zona merah. Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas, mengungkapkan bahwa sentimen negatif ini bersumber dari rencana pemerintah yang akan menaikkan royalti komoditas mineral batu bara (minerba).

Langkah pemerintah ini diambil dalam upaya menggenjot pendapatan negara. Namun, bagi para investor, kebijakan ini dipandang sebagai beban tambahan yang dapat menggerus margin keuntungan emiten. Akibatnya, terjadi aksi lepas saham besar-besaran pada emiten-emiten yang berada di bawah naungan holding MIND ID maupun perusahaan tambang logam lainnya.

Baca Juga

Strategi Swasembada: Perum Bulog Guyur Rp 5 Triliun Perkuat Infrastruktur Pascapanen

Strategi Swasembada: Perum Bulog Guyur Rp 5 Triliun Perkuat Infrastruktur Pascapanen

TINS dan INCO Terkapar dalam Tekanan Jual

Dampak dari rencana kenaikan royalti ini terlihat sangat jelas pada pergerakan saham PT Timah (Persero) Tbk (TINS). Saham emiten plat merah ini harus menelan pil pahit dengan menyentuh level Auto Rejection Bawah (ARB) setelah ambles 14,88% ke harga Rp 3.490 per saham. Penurunan ini sangat kontras jika dibandingkan dengan harga pembukaan di level Rp 4.130.

Kondisi serupa dialami oleh PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Sebagai salah satu pemain besar di industri nikel, saham INCO juga tak berdaya menghadapi sentimen negatif ini dengan melemah 13,89% ke posisi Rp 5.425 per saham. Tekanan pada saham-saham blue chip di sektor tambang ini memberikan efek domino yang luar biasa terhadap bobot kapitalisasi pasar IHSG secara keseluruhan.

Baca Juga

Gedung Putih Bergetar: Trump Ancam Pukul China dengan Tarif 50% Jika Bantu Persenjataan Iran

Gedung Putih Bergetar: Trump Ancam Pukul China dengan Tarif 50% Jika Bantu Persenjataan Iran

Ketidakpastian Geopolitik: Bayang-bayang Konflik AS-Iran

Selain faktor domestik, faktor eksternal juga turut andil dalam memperkeruh suasana di pasar modal. Ketegangan geopolitik yang kembali memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi awan mendung bagi ekonomi global. Perundingan yang tak kunjung menemukan titik terang menciptakan ketidakpastian yang membuat investor cenderung bermain aman (risk-off).

Sentimen ini tidak hanya memukul Jakarta, tetapi juga merambat ke bursa-bursa utama di kawasan Asia. Nikkei 225 di Jepang terkoreksi 0,19% ke level 62.713,60, sementara Hang Seng di Hong Kong merosot lebih dalam sebesar 0,87% ke posisi 26.393,71. Tak ketinggalan, Shanghai Composite dan Straits Times Index Singapura juga kompak memerah, masing-masing melemah di tengah ketidakpastian yang menyelimuti kawasan regional.

Baca Juga

Strategi Baru ESDM: Ubah Formula Harga Patokan Mineral demi Dongkrak Pendapatan Negara

Strategi Baru ESDM: Ubah Formula Harga Patokan Mineral demi Dongkrak Pendapatan Negara

Nilai Tukar Rupiah dan Tergerusnya Cadangan Devisa

Kondisi pasar modal semakin diperparah dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pada penutupan perdagangan hari ini, mata uang Garuda terpantau loyo sementara dolar AS menguat 0,28% ke level Rp 17.382. Pelemahan rupiah ini seringkali dipandang sebagai sinyal negatif bagi investor asing untuk tetap memarkirkan dananya di aset-aset berisiko dalam negeri.

Di sisi lain, laporan mengenai posisi cadangan devisa Indonesia juga menambah beban psikologis pasar. Cadangan devisa RI tercatat mengalami penurunan dari US$ 148,2 miliar pada Maret 2026 menjadi US$ 146,2 miliar pada April 2026. Penurunan ini merupakan level terendah sejak Juli 2024. Phintraco Sekuritas mencatat bahwa merosotnya cadangan devisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pembayaran utang luar negeri pemerintah hingga upaya stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan pasar global.

Sektor Properti Mencatat Pertumbuhan Paling Lambat

Tak hanya sektor pertambangan, sektor properti juga memberikan kabar yang kurang menggembirakan. Indeks harga properti pada kuartal I 2026 hanya mampu tumbuh sebesar 0,62% secara year-on-year (yoy). Angka ini menunjukkan perlambatan jika dibandingkan dengan kuartal IV 2025 yang tumbuh 0,83% yoy.

Catatan pertumbuhan ini disebut-sebut sebagai yang paling lambat sejak tahun 2003. Perlambatan di sektor properti seringkali dianggap sebagai indikator melemahnya daya beli masyarakat atau tingginya ketidakpastian ekonomi yang membuat konsumen menunda pembelian aset besar. Hal ini tentu menjadi catatan merah tambahan bagi para pelaku pasar dalam melihat prospek ekonomi Indonesia ke depan.

Langkah Strategis di Tengah Volatilitas Pasar

Dengan kondisi IHSG yang sedang tertekan hebat, para analis menyarankan agar investor tetap waspada namun tidak gegabah. Penurunan tajam ini memang menyakitkan, namun bagi investor jangka panjang, fluktuasi seperti ini seringkali dipandang sebagai kesempatan untuk meninjau kembali portofolio investasi.

Penting bagi investor untuk memantau perkembangan kebijakan pemerintah terkait royalti minerba dan juga kondisi geopolitik dunia. Selama fondasi ekonomi makro masih terjaga, pemulihan teknis mungkin saja terjadi di pekan depan. Namun, untuk saat ini, kehati-hatian adalah kunci utama dalam menghadapi badai yang tengah melanda lantai bursa kita.

Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *