Semarak Milangkala Tatar Sunda: Mengenang Kejayaan Pajajaran Lewat Kirab Mahkota Binokasih di Jantung Bogor

Rizky Ramadhan | Totonews
09 Mei 2026, 04:41 WIB
Semarak Milangkala Tatar Sunda: Mengenang Kejayaan Pajajaran Lewat Kirab Mahkota Binokasih di Jantung Bogor

TotoNews — Atmosfer magis menyelimuti jalanan Kota Bogor saat deretan iring-iringan seni dan budaya membelah kerumunan massa yang memadati trotoar. Di bawah langit Jawa Barat yang menyimpan ribuan tahun sejarah, perhelatan akbar bertajuk Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda sukses digelar. Acara ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah refleksi mendalam atas lahirnya peradaban tanah Sunda yang berakar kuat di Bumi Pasundan.

Ribuan pasang mata menjadi saksi betapa antusiasnya warga menyambut rangkaian acara yang digagas oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat tersebut. Sejak sore hari, masyarakat dari berbagai penjuru telah memadati rute yang ditentukan, menciptakan barisan panjang penuh semangat untuk menyaksikan kekayaan tradisi yang dipamerkan oleh perwakilan dari 27 kabupaten dan kota se-Jawa Barat. Kemeriahan ini membuktikan bahwa di tengah arus modernisasi, kecintaan terhadap tradisi Sunda tetap bersemi di hati sanubari warganya.

Baca Juga

Skandal Oknum Guru Besar Unpad: Mahasiswi Asing Jadi Korban Pelecehan, Investigasi Satgas PPKS Bergulir

Skandal Oknum Guru Besar Unpad: Mahasiswi Asing Jadi Korban Pelecehan, Investigasi Satgas PPKS Bergulir

Mahkota Binokasih: Simbol Kembalinya Sang Legenda ke Rumah

Puncak dari perhatian publik tertuju pada sebuah benda sakral yang diarak dengan penuh penghormatan: Mahkota Binokasih. Mahkota yang menjadi simbol kekuasaan dan kejayaan kerajaan di Jawa Barat ini diarak khusus menggunakan kereta kencana yang dihias sedemikian rupa. Kehadiran mahkota ini membawa pesan simbolis yang sangat kuat tentang persatuan dan jati diri masyarakat Sunda.

Dalam narasi sejarah, Mahkota Binokasih merupakan warisan dari Kerajaan Pajajaran yang diserahkan kepada Kerajaan Sumedang Larang saat ibu kota Pajajaran terdesak. Kehadirannya di Kota Bogor kali ini seolah menjadi momen “pulang ke rumah” bagi simbol kejayaan tersebut. Sepanjang rute pawai budaya, warga tampak terkesima, beberapa bahkan memberikan penghormatan khidmat saat kereta kencana yang membawa mahkota tersebut melintas di hadapan mereka.

Baca Juga

Tragedi Pembunuhan Kacab Bank: Kesaksian Mertua Ungkap Detik-Detik Mencekam Penculikan oleh Oknum TNI

Tragedi Pembunuhan Kacab Bank: Kesaksian Mertua Ungkap Detik-Detik Mencekam Penculikan oleh Oknum TNI

Rute Bersejarah dari Batutulis hingga Surya Kencana

Pemilihan rute pawai ini pun tidak dilakukan secara sembarangan. Rangkaian kirab dimulai dari titik yang sarat akan nilai historis, yakni Museum Pajajaran di Jalan Batutulis. Kawasan ini dikenal sebagai pusat pemerintahan Sri Baduga Maharaja pada masa lampau. Dari sana, iring-iringan bergerak gagah melewati Jalan MP Sidik dan berakhir di Jalan Surya Kencana yang legendaris, mencakup jarak tempuh sekitar 3,5 kilometer.

Sepanjang jalur tersebut, tidak kurang dari 30 kelompok kesenian menunjukkan kebolehan mereka. Tak hanya dari internal Jawa Barat, partisipasi juga datang dari delegasi tetangga seperti Jakarta, Banten, hingga Jawa Tengah. Kehadiran mereka menambah warna dalam keberagaman budaya nusantara yang terbingkai dalam semangat persaudaraan. Setiap daerah menampilkan ciri khasnya masing-masing, mulai dari tarian tradisional, atraksi musik bambu, hingga kostum-kostum teatrikal yang memukau.

Baca Juga

Menguak Tabir Kejanggalan Kasus Air Keras Andrie Yunus: Tim Advokasi Tuntut Keadilan Transparan

Menguak Tabir Kejanggalan Kasus Air Keras Andrie Yunus: Tim Advokasi Tuntut Keadilan Transparan

Kehadiran Tokoh dan Pemimpin Jawa Barat

Kemegahan acara ini semakin lengkap dengan kehadiran para tokoh penting. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tampak berada di barisan terdepan bersama jajaran Wali Kota dan Bupati dari berbagai daerah. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas protokoler, melainkan bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian nilai-nilai luhur budaya di Jawa Barat.

Turut hadir pula Raja Sumedang serta berbagai tokoh adat dan budayawan senior. Kehadiran para pemangku adat ini memberikan legitimasi moral bahwa Milangkala Tatar Sunda adalah momentum sakral untuk mempererat tali silaturahmi antar-generasi. Diskusi-diskusi kecil tentang sejarah dan masa depan budaya Sunda pun sempat mewarnai pertemuan para pemimpin daerah tersebut di sela-sela acara.

Baca Juga

Israel Buka Jalur Diplomasi dengan Lebanon: Pelucutan Senjata Hizbullah Jadi Syarat Utama Perdamaian

Israel Buka Jalur Diplomasi dengan Lebanon: Pelucutan Senjata Hizbullah Jadi Syarat Utama Perdamaian

Refleksi Wali Kota Bogor: Menghargai Warisan Leluhur

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, dalam keterangannya seusai acara menekankan betapa pentingnya bagi generasi muda untuk memahami akar budaya mereka. Beliau menyebutkan bahwa kirab Mahkota Binokasih ini adalah pengingat bahwa Kota Bogor pernah menjadi pusat peradaban besar di masa Sri Baduga Maharaja memerintah dari Pakuan Pajajaran.

“Ini adalah rangkaian kegiatan yang penuh makna. Makna tentang bagaimana kita seharusnya menghargai hasil warisan para leluhur kita. Bogor adalah tempat bersemayamnya nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh Sri Baduga Maharaja. Banyak filosofi yang bisa kita petik sebagai pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih baik tanpa melupakan jati diri,” ujar Dedie dengan nada optimis pada Jumat malam.

Langkah Konkret Kabupaten Bogor dalam Pelestarian Budaya

Senada dengan Wali Kota, Bupati Bogor Rudy Susmanto juga menyatakan rasa bangganya atas terselenggaranya acara ini. Rudy menekankan bahwa meskipun Jawa Barat terus bertransformasi menjadi provinsi yang modern dan maju, identitas sebagai urang Sunda tidak boleh luntur. Ia memandang kembalinya Mahkota Binokasih ke Bogor sebagai pengingat bahwa wilayah Bogor dan sekitarnya sejatinya memiliki ikatan sejarah yang tak terpisahkan.

Sebagai bentuk komitmen nyata, Rudy mengungkapkan bahwa Pemerintah Kabupaten Bogor telah mengambil langkah strategis dengan membentuk dinas baru, yaitu Dinas Kebudayaan. “Bentuk konkret kami dalam mendukung pelestarian ini adalah dengan membentuk Dinas Kebudayaan. Fokus utama dinas ini adalah melestarikan seluruh cagar budaya, baik yang bersifat kebendaan maupun tak benda, yang tersebar di wilayah Kabupaten Bogor,” tegasnya.

Harapan untuk Masa Depan Tatar Sunda

Penyelenggaraan Milangkala Tatar Sunda di Bogor tahun ini memberikan pesan kuat bahwa kebudayaan adalah fondasi utama dalam pembangunan masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan muncul kesadaran kolektif untuk menjaga situs-situs bersejarah dan menghidupkan kembali tradisi yang mulai luntur di telan zaman. Masyarakat tidak hanya diposisikan sebagai penonton, tetapi juga sebagai pemilik sah dari kekayaan budaya tersebut.

Kirab budaya ini diakhiri dengan suasana penuh kehangatan di titik akhir Jalan Surya Kencana. Cahaya lampu kota berpadu dengan warna-warni kostum peserta pawai, menciptakan pemandangan yang akan terus dikenang oleh warga Bogor. Kesuksesan acara ini menjadi bukti bahwa sinergi antara pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat mampu melahirkan sebuah pagelaran yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengedukasi dan menginspirasi.

Dengan semangat yang dibawa dari Museum Pajajaran, Milangkala Tatar Sunda tahun ini sukses membangkitkan kembali memori kolektif akan kejayaan masa lalu, sekaligus menanamkan benih harapan untuk masa depan kebudayaan Jawa Barat yang lebih gemilang. Sampai jumpa di perayaan tahun depan, di mana sejarah Bogor akan terus ditulis melalui dedikasi dan cinta terhadap tradisi.

Rizky Ramadhan

Rizky Ramadhan

Mantan mekanik yang beralih menjadi jurnalis otomotif. Tulisannya dikenal tajam dalam mengulas performa mesin dan tren kendaraan masa depan di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *