Aksi Heroik Personel Polda Sumsel: Melunasi Biaya RS dan Mengantar Jenazah Bayi ke Peristirahatan Terakhir
TotoNews — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan urban Kota Palembang yang tak pernah tidur, terselip sebuah kisah mengharukan yang mengingatkan kita semua akan esensi sejati dari kemanusiaan. Tugas seorang polisi seringkali diidentikkan dengan penegakan hukum yang kaku, pengejaran pelaku kriminal, atau pengaturan lalu lintas di bawah terik matahari. Namun, apa yang dilakukan oleh salah satu personel Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Selatan baru-baru ini mendobrak stigma tersebut, membuktikan bahwa seragam cokelat juga menyimpan hati yang penuh empati.
Duka Mendalam di Ruang PICU: Perjuangan Bayi Keyvano
Kisah ini bermula dari sebuah perjuangan hidup-mati di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) sebuah rumah sakit di Palembang. Bayi mungil bernama Keyvano Affinata Alfarez, yang baru menghirup udara dunia selama lima bulan, harus berjuang melawan kondisi medis yang sangat berat. Komplikasi kesehatan yang berujung pada kondisi koma dan henti napas memaksa tim medis bekerja ekstra keras. Namun, takdir berkata lain.
Ketegangan Memuncak di Yerusalem: Aksi Pengibaran Bendera Israel di Masjid Al-Aqsa Tuai Kecaman Global
Pada Senin, 18 Mei 2026, suasana sunyi di ruang perawatan itu pecah oleh isak tangis. Keyvano menghembuskan napas terakhirnya, meninggalkan luka yang mendalam bagi kedua orang tuanya. Bagi keluarga prasejahtera ini, kehilangan buah hati adalah badai yang meluluhkan jiwa. Namun, di balik duka yang menyayat hati, ada beban lain yang membayangi: tembok administrasi rumah sakit yang tampak mustahil untuk ditembus dengan kondisi ekonomi mereka yang terbatas.
Terhimpit Administrasi: Ketika Kemiskinan Menambah Beban Duka
Masalah klasik yang sering dihadapi warga kurang mampu di Indonesia kembali terulang. Keluarga almarhum Keyvano ternyata belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan. Tanpa jaminan kesehatan dari negara, seluruh biaya perawatan intensif selama di ruang PICU membengkak menjadi angka yang fantastis bagi ukuran ekonomi mereka. Biaya pengobatan mandiri ini menjadi sandungan besar saat keluarga hendak membawa pulang jenazah untuk disemayamkan.
Visi Hardiyanto Kenneth: Program Padat Karya Jakarta Harus Jadi Jembatan ‘Naik Kelas’ bagi Ribuan Pekerja
Situasi pelik ini didengar oleh Bripda M. Kadapi, seorang personel Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Sumsel. Alih-alih hanya bersimpati, anggota Polri yang dikenal humanis ini langsung mengambil langkah nyata. Melalui program Polri Penolong, ia merasa terpanggil untuk meringankan beban keluarga tersebut secara langsung.
Aksi Spontan Bripda M. Kadapi: Lebih dari Sekadar Tugas
Tanpa banyak bicara dan tanpa prosedur yang berbelit, Bripda M. Kadapi secara spontan merogoh kocek pribadinya untuk melunasi seluruh sisa tunggakan biaya rumah sakit yang membelit keluarga Keyvano. Baginya, melihat sesama manusia yang sedang tertimpa musibah ganda—kehilangan anak sekaligus terjerat utang—adalah panggilan nurani yang tidak bisa diabaikan.
Geger Kasus Hukum di Florida, Pekerja Migran Asal Jembrana Bali Ditahan Otoritas Amerika Serikat
“Ini bukan soal nominal, tapi soal bagaimana kita hadir saat masyarakat benar-benar merasa buntu. Sebagai bagian dari Polda Sumsel, kami dididik untuk tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga menjadi pelindung dan penolong bagi mereka yang membutuhkan,” ujar seorang rekan sejawat Bripda Kadapi menggambarkan sosoknya.
Aksi mulia tersebut tidak berhenti pada pelunasan biaya administrasi saja. Bripda Kadapi terus mendampingi pihak keluarga dari rumah duka yang berlokasi di kawasan Lemabang. Ia ikut mengawal dan mengantarkan jenazah bayi mungil tersebut menuju tempat peristirahatan terakhirnya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kandang Kawat, Palembang. Kehadirannya memberikan kekuatan moral tersendiri bagi keluarga yang tengah rapuh.
Implementasi Nyata Program Presisi dan Commander Wish
Langkah cepat dan humanis yang ditunjukkan oleh Bripda M. Kadapi mendapatkan apresiasi tinggi dari jajaran pimpinan. Direktur Polairud Polda Sumsel, Kombes Heru Agung Nugroho, menegaskan bahwa tindakan anggotanya adalah representasi nyata dari Commander Wish Kapolri mengenai sosok polisi yang penolong. Hal ini selaras dengan semangat Program Presisi Polri yang menekankan pada pelayanan publik yang terintegrasi dan peduli.
Polemik LCC Empat Pilar di Kalbar: Fraksi PKB Desak Evaluasi Total dan Reformasi Sistem Penilaian MPR RI
“Tindakan ini adalah bentuk nyata implementasi konsep Polri Penolong. Anggota kami di lapangan harus selalu mampu hadir dengan empati dan memberikan pertolongan bagi masyarakat yang sedang mengalami musibah maupun kesulitan,” ungkap Kombes Heru dalam keterangan resminya pada Selasa (26/5/2026). Beliau menambahkan bahwa kepolisian modern saat ini harus mengedepankan sisi soft power dan pendekatan humanis dalam setiap interaksinya dengan warga.
Membangun Solidaritas Sosial di Tengah Masyarakat
Senada dengan hal tersebut, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sumsel, Kombes Nandang Mu’min Wijaya, menyampaikan pesan bahwa komitmen Polda Sumsel dalam melayani masyarakat tidak terbatas pada urusan kriminalitas saja. Kehadiran Polri di tengah masyarakat rentan menjadi kunci untuk menjaga keharmonisan dan stabilitas sosial.
“Kehadiran anggota Polri saat masyarakat membutuhkan bantuan merupakan bentuk pengabdian nyata. Ini tidak hanya meringankan beban warga, tetapi juga menjaga keharmonisan, solidaritas sosial, dan stabilitas keamanan di tengah masyarakat,” tegas Kombes Nandang. Menurutnya, aksi-aksi kecil namun berdampak besar seperti ini justru yang seringkali lebih efektif dalam membangun kepercayaan publik (public trust) terhadap institusi kepolisian.
Misi Kemanusiaan yang Berkelanjutan
Polda Sumsel memang tengah gencar melaksanakan berbagai kegiatan sosial. Sebelumnya, institusi ini juga diketahui melakukan pengecekan kesehatan dan penyaluran bantuan di panti jompo di wilayah Musi Rawas. Hal ini menunjukkan bahwa ada pergeseran paradigma yang sistematis di tubuh Polda Sumsel untuk menjadi institusi yang lebih dekat dan dicintai rakyat.
Bagi masyarakat Palembang, apa yang dilakukan oleh Bripda M. Kadapi menjadi oase di tengah kerasnya kehidupan. Harapannya, langkah ini bisa menjadi inspirasi bagi personel kepolisian lainnya maupun masyarakat umum untuk saling bahu-membahu dalam kesulitan. Kemanusiaan tidak mengenal batas seragam atau jabatan; ia hanya mengenal ketulusan untuk membantu sesama yang sedang terjatuh.
Kisah Keyvano mungkin berakhir dengan kesedihan, namun melalui tangan-tangan tulus seperti Bripda Kadapi, setidaknya perjalanan terakhir sang bayi diiringi dengan penghormatan dan kemudahan yang layak. Ini adalah potret polisi baik yang dirindukan oleh bangsa ini—sosok yang sigap bertindak tanpa harus menunggu perintah, sosok yang menolong tanpa mengharap pujian.