Ancaman Kenaikan Harga Obat Menghantui Masyarakat, DPR Desak Percepatan Pembangunan Pabrik Bahan Baku Lokal

Rizky Ramadhan | Totonews
06 Jun 2026, 08:44 WIB
Ancaman Kenaikan Harga Obat Menghantui Masyarakat, DPR Desak Percepatan Pembangunan Pabrik Bahan Baku Lokal

TotoNews — Sektor kesehatan nasional saat ini tengah dibayangi awan mendung menyusul potensi lonjakan harga obat-obatan yang dipicu oleh fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini menjadi alarm keras bagi kedaulatan kesehatan Indonesia, mengingat ketergantungan industri farmasi dalam negeri terhadap bahan baku impor masih berada di angka yang sangat mengkhawatirkan, yakni mencapai 90 persen.

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini, secara terbuka menyatakan keprihatinan mendalam atas fenomena ini. Dalam sebuah pernyataan resmi yang dihimpun oleh tim redaksi kami, Yahya menegaskan bahwa rencana kenaikan harga obat akan menjadi beban tambahan yang sangat berat bagi masyarakat, terutama di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. Ia memandang bahwa rapuhnya ketahanan industri farmasi kita disebabkan oleh struktur produksi yang terlalu bergantung pada pasokan luar negeri.

Baca Juga

Menelisik Fenomena ‘Circle’ Koruptor: Peran Orang Dekat dalam Pusaran Arus Harta Haram

Menelisik Fenomena ‘Circle’ Koruptor: Peran Orang Dekat dalam Pusaran Arus Harta Haram

Dilema Nilai Tukar dan Beban Rakyat

Pelemahan nilai tukar rupiah bukan sekadar angka di papan bursa saham, melainkan ancaman nyata bagi akses kesehatan publik. Ketika dolar melambung, biaya pengadaan bahan baku obat (BBO) otomatis membengkak. Karena mayoritas komponen obat dipasok dari pasar internasional, produsen farmasi di dalam negeri terjepit dalam pilihan sulit: menanggung kerugian atau membebankan biaya tersebut kepada konsumen.

“Kenaikan harga obat ini adalah konsekuensi logis namun pahit dari nilai tukar dolar yang terus menekan rupiah. Kita harus menyadari bahwa 90 persen bahan baku kita masih didatangkan dari luar negeri,” ujar Yahya Zaini. Ia mengingatkan bahwa kebijakan menaikkan harga obat tidak boleh diambil secara gegabah tanpa mempertimbangkan daya beli masyarakat yang saat ini sedang berjuang menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya.

Baca Juga

Skandal Riset Palsu Guncang Dunia Akademik: Kemendiktisaintek Bentuk Tim Investigasi Khusus

Skandal Riset Palsu Guncang Dunia Akademik: Kemendiktisaintek Bentuk Tim Investigasi Khusus

Komisi IX DPR RI mendesak pemerintah agar, jika kenaikan harga memang tidak terhindarkan, prosesnya harus dilakukan secara bertahap. Transparansi dan empati terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat harus menjadi prioritas utama sebelum regulator mengetok palu kebijakan baru terkait harga obat di apotek maupun rumah sakit.

Mendorong Kemandirian Lewat Pabrik Bahan Baku Dalam Negeri

Solusi jangka panjang yang disuarakan secara lantang oleh TotoNews melalui perspektif legislatif adalah urgensi pembangunan pabrik bahan baku obat di tanah air. Ketergantungan kronis pada impor harus segera diakhiri dengan langkah industrialisasi yang masif. Yahya Zaini menekankan bahwa Indonesia tidak boleh terus-menerus menjadi pasar bagi produk kimia dasar negara lain.

Baca Juga

Daftar Negara Paling Dermawan 2025: Kejutan Dominasi Afrika dan Posisi Terbaru Indonesia

Daftar Negara Paling Dermawan 2025: Kejutan Dominasi Afrika dan Posisi Terbaru Indonesia

Untuk mewujudkan mimpi kemandirian ini, diperlukan orkestrasi yang harmonis antara berbagai lembaga pemerintah. Yahya menyerukan adanya kolaborasi erat antara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Perindustrian (Kemenperin), hingga Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sinergi ini dianggap krusial untuk menciptakan ekosistem produksi yang berkelanjutan, mulai dari riset dasar hingga hilirisasi produk farmasi.

“Pemerintah harus berani mendorong BUMN farmasi dan sektor swasta untuk berinvestasi pada pembangunan pabrik bahan baku. Kita punya sumber daya, namun kita butuh keberanian politik dan dukungan anggaran yang memadai untuk memperkuat riset dan pengembangan (R&D),” tambah legislator dari fraksi Golkar tersebut.

Pentingnya Sosialisasi dan Koordinasi Lintas Lembaga

Sebelum kebijakan penyesuaian harga diterapkan, DPR menuntut adanya sosialisasi yang masif kepada publik. Hal ini penting agar tidak terjadi kegaduhan di tengah masyarakat yang merasa terkejut dengan lonjakan harga yang tiba-tiba. Selain itu, fungsi pengawasan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menjadi sangat vital dalam menjaga keseimbangan antara keberlangsungan industri dan keterjangkauan harga bagi rakyat.

Baca Juga

Tragedi Api di Mimika: Gereja Stasi Santo Fransiskus Ludes Terbakar, Diduga Akibat Kelalaian Lilin Altar

Tragedi Api di Mimika: Gereja Stasi Santo Fransiskus Ludes Terbakar, Diduga Akibat Kelalaian Lilin Altar

Yahya Zaini juga menyoroti bahwa hingga saat ini, Komisi IX belum menerima laporan resmi secara detail mengenai rencana kenaikan harga tersebut. Koordinasi antar-lembaga harus diperketat agar setiap kebijakan yang keluar telah melalui kajian risiko yang komprehensif. BPOM diharapkan tidak bergerak sendiri, melainkan harus intens berkomunikasi dengan kementerian terkait untuk memitigasi dampak sistemik dari melemahnya nilai tukar rupiah.

Respons BPOM: Mencari Celah di Tengah Krisis

Di sisi lain, Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, mengakui bahwa industri farmasi nasional memang sedang dalam tekanan besar. Agar bisa bertahan hidup (survive), banyak perusahaan farmasi yang mulai mempertimbangkan penyesuaian harga. Namun, BPOM berkomitmen untuk memastikan bahwa kenaikan tersebut tetap dalam batas kewajaran dan tidak mencekik kantong masyarakat.

Taruna menjelaskan bahwa pihaknya sedang merumuskan beberapa strategi mitigasi untuk menekan laju kenaikan harga. Salah satunya adalah dengan mendorong industri farmasi mencari pemasok bahan baku alternatif dari negara-negara yang menawarkan harga lebih kompetitif tanpa mengurangi standar kualitas. Selain itu, efisiensi dari sisi pengemasan dan rantai distribusi juga terus dikaji sebagai upaya menekan biaya produksi.

“Kami di pemerintah tentu berharap kenaikannya jangan terlalu tinggi. Kami terus berkomunikasi dengan pelaku industri untuk mencari jalan tengah yang paling minim risiko bagi masyarakat,” ungkap Taruna dalam sebuah pertemuan di Jakarta baru-baru ini.

Masa Depan Kesehatan Nasional

Isu kenaikan harga obat ini sebenarnya adalah puncak gunung es dari masalah fundamental ketahanan kesehatan kita. Selama Indonesia belum mampu memproduksi bahan baku aktif secara mandiri, maka kesehatan masyarakat akan selalu tersandera oleh sentimen ekonomi global. Transformasi kesehatan yang dicanangkan pemerintah harus mencakup kemandirian industri hulu farmasi secara nyata, bukan sekadar retorika di atas kertas.

Masyarakat kini menanti langkah nyata dari pemerintah dan para pemangku kepentingan. Apakah krisis nilai tukar ini akan menjadi momentum bagi Indonesia untuk benar-benar membangun pabrik bahan baku obat sendiri, ataukah kita akan terus terjebak dalam lingkaran ketergantungan impor yang mahal dan rentan? TotoNews akan terus mengawal isu krusial ini demi memastikan hak rakyat atas obat yang terjangkau tetap terpenuhi.

Dibutuhkan kemauan politik (political will) yang kuat untuk mengalokasikan anggaran riset yang lebih besar kepada BRIN dan perguruan tinggi, sehingga temuan-temuan ilmiah di laboratorium bisa bertransformasi menjadi produk komersial yang diproduksi di pabrik-pabrik lokal. Hanya dengan cara inilah, Indonesia bisa benar-benar merdeka secara medis dan tidak lagi khawatir akan gejolak dolar yang menghantam sektor kesehatan.

Rizky Ramadhan

Rizky Ramadhan

Mantan mekanik yang beralih menjadi jurnalis otomotif. Tulisannya dikenal tajam dalam mengulas performa mesin dan tren kendaraan masa depan di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *