Kisah Inspiratif Kopi Toejoean: Berawal dari Keisengan Pandemi, Kini Meraup Cuan Puluhan Juta Bersama Rumah BUMN BRI
TotoNews — Sebuah langkah kecil sering kali membawa kita ke tujuan yang tak terduga. Bagi Misye, pemilik jenama Kopi Toejoean, kata “iseng” bukanlah sekadar pengisi waktu luang, melainkan pintu gerbang menuju kesuksesan finansial di tengah badai ekonomi. Siapa sangka, berawal dari kebosanan saat pembatasan aktivitas akibat pandemi COVID-19, kini bisnis kopinya mampu mencatatkan omzet hingga puluhan juta rupiah setiap bulannya.
Narasi Awal: Ketika Krisis Menjadi Titik Balik
Pandemi COVID-19 pada Mei 2022 menjadi periode yang penuh ketidakpastian bagi banyak orang, termasuk Misye. Sebelum terjun ke dunia bisnis kopi, latar belakang profesinya jauh dari aroma kafein. Ia adalah seorang pengusaha di bidang pendidikan yang mengelola kursus baca tulis dan bahasa Inggris. Namun, kebijakan pembatasan sosial berskala besar memaksa usahanya berhenti beroperasi sementara waktu.
Membongkar Gurita Judi Online Hayam Wuruk: Komitmen Polri Seret Bandar Besar ke Meja Hijau
“Mei 2022 itu saat pandemi, berdirinya Kopi Toejoean itu karena aktivitas sangat terbatas. Padahal, background saya sebelumnya adalah usaha pendidikan,” kenang Misye saat ditemui di stan bazar di Taman Ismail Marzuki, Cikini, beberapa waktu lalu. Di tengah kesunyian hari-hari tanpa murid, Misye mulai mengulik hal yang ia sukai: kopi. Rasa penasaran yang tinggi membawanya pada sebuah eksplorasi mendalam tentang biji hitam tersebut.
Dari Ruang Kelas ke Meja Barista: Perjalanan Menemukan Passion
Ketertarikan Misye tidak berhenti pada sekadar menyeduh kopi di dapur. Ia memutuskan untuk menyeriusi bidang ini dengan mengikuti berbagai pelatihan barista, baik yang bersifat gratis maupun berbayar. Baginya, memahami produk secara mendalam adalah kunci utama sebelum terjun ke pasar peluang usaha yang kompetitif.
Sportivitas Tanpa Batas: SMAN 1 Pontianak Tolak Final Ulang LCC 4 Pilar MPR RI, Pilih Dukung SMAN 1 Sambas
“Saya ikut pelatihan barista dari yang tidak tahu apa-apa sampai paham perbedaan antara kopi Robusta dan Arabika. Ternyata, dunia kopi itu sangat luas dan teknis,” tuturnya. Melalui jaringan pertemanan di komunitas pelatihan tersebut, Misye didorong untuk mencoba peruntungannya dengan membuka usaha sendiri. Berbekal nekat dan ilmu yang baru didapat, Kopi Toejoean pun lahir secara perlahan dari skala rumahan.
Strategi Pemasaran: Dari Botol Kaca hingga Media Sosial
Pada awal perjalanannya, Misye belum berani menggunakan kemasan cup seperti kafe-kafe besar. Ia memulai dengan botol berukuran 250 ml yang dipasarkan melalui lingkaran pertemanan terdekat di WhatsApp dan media sosial. Strategi ini terbukti efektif di masa pandemi, di mana layanan pesan antar menjadi tulang punggung ekonomi.
Ketegangan di Perbatasan: Israel Perintahkan Penghancuran Total Infrastruktur Hizbullah di Lebanon Selatan
“Awalnya saya posting saja di medsos, kirim ke teman-teman. Ternyata responnya luar biasa. Mereka mulai memesan secara rutin. Dari situlah pintu-pintu kesempatan lainnya mulai terbuka lebar,” jelasnya. Kegigihan Misye dalam menjaga kualitas rasa membuat Kopi Toejoean perlahan mulai dikenal luas, melampaui batas lingkaran pertemanannya.
Rumah BUMN BRI: Katalisator UMKM Naik Kelas
Salah satu titik balik terbesar Kopi Toejoean adalah ketika menjadi bagian dari binaan Rumah BUMN BRI Jakarta pada tahun 2024. Rumah BUMN BRI bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan inkubator yang dirancang untuk membantu para pelaku UMKM Indonesia agar mampu naik kelas melalui digitalisasi dan pengembangan kapasitas.
Misye mengakui bahwa banyak ilmu baru yang ia serap selama menjadi binaan, terutama terkait pemanfaatan teknologi. Meskipun ia merasa bukan dari generasi digital native, bimbingan dari para ahli di Rumah BUMN BRI membuatnya mampu bersaing dengan pelaku usaha dari kalangan Gen-Z. “Kami diajarkan cara menggunakan AI untuk desain cover, strategi fotografi produk yang menarik, hingga manajemen laporan keuangan digital. Semuanya sudah serba digital sekarang,” ungkapnya dengan penuh semangat.
Reformasi Total Layanan Haji 2026: Kesaksian M. Sarmuji Tentang Kedisiplinan Petugas dan Kenyamanan Jemaah
Digitalisasi Sebagai Senjata Utama
Di era ekonomi digital, penampilan visual dan keberadaan di dunia maya adalah segalanya. Misye menyadari bahwa untuk bertahan, ia harus mampu mengikuti arus perkembangan zaman. Rumah BUMN BRI memfasilitasi kebutuhan tersebut dengan memberikan pelatihan intensif mengenai packaging atau pengemasan produk agar lebih menarik di mata konsumen.
Selain pelatihan, Kopi Toejoean juga mendapatkan kesempatan emas untuk mengisi spot kafe selama satu tahun di lokasi Rumah BUMN BRI di Slipi, Jakarta Barat. Hal ini menjadi sarana promosi luring yang efektif, di mana para tamu dan karyawan kantor di sekitar lokasi dapat mencicipi langsung racikan kopi Misye. Kehadiran fisik ini kemudian memperkuat kepercayaan pelanggan saat memesan secara daring dalam jumlah besar untuk keperluan korporasi.
Mencetak Cuan Puluhan Juta dari Rumah Produksi Joglo
Saat ini, pusat operasional Kopi Toejoean berada di rumah produksi yang terletak di kawasan Joglo, Kembangan, Jakarta Barat. Meskipun belum menyediakan layanan makan di tempat (dine-in) secara penuh, konsep “kopi to-go” yang diterapkannya mampu menghasilkan omzet yang menggiurkan, yakni berkisar antara Rp 20 juta hingga Rp 25 juta per bulan.
Pesanan tidak hanya datang dari pelanggan individu, tetapi juga sering kali datang dari perusahaan besar. Dalam beberapa momen bazar besar, Kopi Toejoean pernah menerima pesanan hingga 600 hingga 700 cup dalam satu acara. Angka ini menjadi bukti nyata bahwa kualitas produk Misye telah diakui oleh pasar luas.
Sinergi dengan Generasi Muda: Tim Kreatif dari Sekolah Menengah
Ada hal menarik dalam struktur tim Kopi Toejoean. Misye melibatkan tujuh anak dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai tim kreatif melalui program Praktik Kerja Lapangan (PKL). Baginya, kolaborasi dengan anak muda adalah kunci untuk tetap relevan dengan tren yang ada. Tim kreatif ini bertugas mengelola akun Instagram, TikTok, hingga website bisnisnya.
“Saya percaya kalau mau maju itu tidak bisa sendiri, harus punya tim. Anak-anak SMK ini punya ide-ide segar untuk konten media sosial. Saya sengaja menjadwalkan pertemuan setiap Sabtu agar tidak mengganggu sekolah mereka. Saya ingin memberikan efek positif bagi lingkungan dan menularkan semangat barista kepada generasi Gen-Z,” paparnya.
Visi Masa Depan: Lebih dari Sekadar Menjual Kopi
Harapan Misye ke depan adalah melihat Kopi Toejoean terus berkembang dan mampu melahirkan barista-barista baru yang berbakat. Dengan menu andalan seperti kopi susu gula aren, Americano, hingga minuman non-kopi seperti Green Tea Latte dan Jeruk Peras, ia optimis bisnisnya akan terus bertahan dan berkembang.
Dukungan dari lembaga seperti BRI melalui pemberdayaan UMKM sangat krusial dalam perjalanan ini. Jajang Rohmana, Koordinator Rumah BUMN Jakarta, menyatakan bahwa fokus utama mereka adalah mendorong UMKM ke arah digitalisasi agar pasar mereka semakin luas, bahkan hingga menembus pasar ekspor. Saat ini, BRI mengelola 54 Rumah BUMN di seluruh Indonesia sebagai wadah kolaborasi untuk membentuk ekosistem ekonomi digital yang mandiri dan berkelanjutan.
Kisah Misye dan Kopi Toejoean adalah representasi dari ribuan pengusaha kecil yang menolak menyerah pada keadaan. Dengan kemauan untuk terus belajar dan memanfaatkan dukungan yang ada, keisengan di masa pandemi pun bisa berubah menjadi bisnis yang profesional dan menguntungkan.