Ketegangan di Perbatasan: Israel Perintahkan Penghancuran Total Infrastruktur Hizbullah di Lebanon Selatan
TotoNews — Bayang-bayang konflik di perbatasan Lebanon selatan tampaknya belum benar-benar sirna meski kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan. Pemerintah Israel secara resmi menginstruksikan militernya untuk tetap menggunakan kekuatan penuh guna menetralisir segala bentuk ancaman yang muncul dari kelompok Hizbullah di wilayah-wilayah strategis.
Langkah tegas ini disampaikan langsung oleh Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz. Dalam pernyataan resminya, Katz mengungkapkan bahwa dirinya bersama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah memberi mandat kepada pasukan pertahanan Israel (IDF) untuk tidak ragu bertindak, baik melalui operasi darat maupun serangan udara. Fokus utamanya adalah menjamin keselamatan tentara Israel yang masih bersiaga di Lebanon serta melenyapkan setiap potensi bahaya yang mengintai.
Geger Dugaan Pelecehan Seksual di Grup Chat Mahasiswa FH UI, Kampus Ambil Langkah Tegas
Instruksi Strategis di Tengah Masa Gencatan Senjata
Kebijakan ini memicu sorotan tajam karena dilakukan saat periode gencatan senjata sedang berjalan. Namun, bagi otoritas Tel Aviv, stabilitas keamanan di wilayah perbatasan tidak boleh berkompromi. Militer diperintahkan untuk meratakan bangunan atau infrastruktur jalan yang terindikasi telah dipasangi ranjau atau berfungsi sebagai pos operasi bagi kelompok militan.
“Kami menginstruksikan tentara untuk bertindak dengan kekuatan penuh demi melindungi personel kami dari ancaman apa pun. Rumah-rumah di desa perbatasan yang beralih fungsi menjadi pos teror akan disingkirkan tanpa kecuali,” tegas Katz sebagaimana dikutip dari laporan lapangan.
Dilema Warga Sipil dan Puing-Puing Kehancuran
Di sisi lain, laporan dari koresponden di lapangan menggambarkan situasi pilu para warga sipil yang mencoba kembali ke kampung halaman mereka. Meski gencatan senjata yang direncanakan berlangsung selama 10 hari telah dimulai sejak Jumat, keraguan masih menyelimuti benak banyak orang. Di desa Dibbine, pemandangan memilukan terlihat saat warga mulai memeriksa sisa-sisa kediaman mereka yang telah hancur menjadi puing.
Update Kasus Pembunuhan Nus Kei: Penyidikan Dimulai, Dua Tersangka Hadapi Ancaman Hukuman Mati
Fenomena serupa tampak di wilayah Srifa, di mana penduduk mencoba menyelamatkan barang-barang rumah tangga yang masih tersisa, seperti mesin cuci dan kasur, di tengah ketidakpastian keamanan. Namun, di lokasi lain, masih banyak warga yang justru memilih bergerak menjauh dari wilayah selatan karena khawatir akan adanya serangan susulan dari pihak militer Israel.
Penerapan ‘Garis Kuning’ dan Operasi Pembersihan
Kantor Berita Nasional (NNA) Lebanon melaporkan bahwa operasi penghancuran sisa-sisa bangunan masih terus berlangsung di Bint Jbeil, kota yang sebelumnya menjadi titik pertempuran sengit. Pasukan Israel dikabarkan melakukan serangkaian peledakan terkendali di kawasan Mais al-Jabal dan Deir Seryan, serta melancarkan tembakan artileri di sekitar kota Kunin.
Misteri Cahaya di Langit Lampung Terungkap, Ternyata Sisa Roket China CZ-3B yang Terbakar
Sebagai bagian dari strategi pengamanan wilayah, militer Israel kini mulai menetapkan apa yang mereka sebut sebagai “Garis Kuning” di Lebanon selatan. Konsep ini serupa dengan zona pemisah yang diterapkan di Jalur Gaza, yang bertujuan untuk memutus jalur logistik dan ruang gerak kelompok Hizbullah agar tidak lagi bisa menjangkau wilayah pemukiman di utara Israel. Dengan situasi yang masih sangat dinamis ini, masa depan gencatan senjata di Lebanon selatan kini berada di ujung tanduk.