Diplomasi yang Retak: Menelusuri Akar Perseteruan Sengit Donald Trump dan Giorgia Meloni

Rizky Ramadhan | Totonews
22 Jun 2026, 06:42 WIB
Diplomasi yang Retak: Menelusuri Akar Perseteruan Sengit Donald Trump dan Giorgia Meloni

TotoNews — Dinamika politik global kembali dikejutkan dengan perubahan drastis hubungan antara dua tokoh konservatif paling berpengaruh di dunia saat ini: Donald Trump dan Giorgia Meloni. Jika pada awal tahun 2025 dunia melihat keduanya sebagai sekutu ideologis yang tak terpisahkan, kini pemandangan yang tersaji justru sebaliknya. Hubungan yang semula penuh sanjungan dan kehangatan diplomatik tersebut telah berubah menjadi arena saling lempar kritik tajam dan serangan personal yang memicu ketegangan antara Roma dan Washington.

Awal Mula Aliansi: Bulan Madu di Mar-a-Lago

Mundur sejenak ke masa awal kepemimpinan Donald Trump di periode keduanya, suasana terlihat sangat menjanjikan bagi hubungan bilateral Italia-Amerika Serikat. Meloni, sebagai pemimpin partai sayap kanan yang vokal mengenai nilai-nilai tradisional dan pembatasan migrasi, dipandang Trump sebagai representasi kebangkitan konservatisme di Eropa yang selaras dengan visinya. TotoNews mencatat bahwa beberapa minggu sebelum pelantikan Trump pada 2025, Meloni melakukan kunjungan istimewa ke kediaman pribadi Trump di Mar-a-Lago.

Baca Juga

Hizbullah Tolak Mentah-mentah Tawaran Negosiasi Israel: Syarat Mutlak Penarikan Pasukan Menjadi Harga Mati

Hizbullah Tolak Mentah-mentah Tawaran Negosiasi Israel: Syarat Mutlak Penarikan Pasukan Menjadi Harga Mati

Kunjungan tersebut bukan sekadar pertemuan formal, melainkan simbol sinergi ideologis. Meloni menggambarkan pertemuan itu sebagai momen yang ‘melampaui ekspektasi’, sebuah langkah awal untuk mengukuhkan aliansi yang solid. Trump pun tak ragu melontarkan pujian setinggi langit, menyebut Meloni sebagai sosok yang ‘fantastis, luar biasa, dan cantik’. Meloni bahkan mendapat kehormatan menjadi satu-satunya pemimpin Eropa yang diundang secara khusus dalam acara pelantikan Trump. Namun, siapa sangka bahwa kehangatan itu hanya bertahan seumur jagung sebelum akhirnya badai geopolitik menghantam mereka.

Titik Balik: Konflik Iran dan Ketegangan Militer

Retaknya hubungan ini tidak terjadi tanpa alasan. Akar perselisihan mulai muncul ketika Amerika Serikat dan Israel memulai aksi militer terhadap Iran. Sebagai sekutu lama, Trump mengharapkan dukungan penuh dari Italia, namun Meloni menunjukkan sikap yang berbeda. Prinsip kedaulatan nasional yang selama ini ia agungkan justru menjadi batu sandungan bagi kepentingan militer Amerika Serikat di Mediterania.

Baca Juga

Skandal Kebocoran Anggaran dan Dilema Kualitas Haji: Sorotan Kritis Badan Pengkajian MPR RI

Skandal Kebocoran Anggaran dan Dilema Kualitas Haji: Sorotan Kritis Badan Pengkajian MPR RI

Salah satu keputusan paling kontroversial yang diambil Meloni adalah menolak izin penggunaan pangkalan militer Italia di Sisilia bagi pesawat militer AS yang membawa persenjataan menuju Iran. Meloni bersikeras bahwa Washington tidak mengikuti prosedur hukum dan diplomatik yang diperlukan. Keputusan ini merupakan tamparan keras bagi administrasi Trump yang menganggap Italia sebagai ‘pelayan’ setia kepentingan AS di wilayah tersebut. Meloni dengan tegas menunjukkan bahwa kepentingan nasional Italia tidak bisa didikte begitu saja oleh Gedung Putih, meskipun mereka memiliki kesamaan pandangan politik.

Pembelaan Meloni Terhadap Paus Leo

Ketegangan semakin memuncak ketika Trump, dengan gaya bicaranya yang agresif, menyerang Paus Leo. Sang pemimpin Gereja Katolik tersebut melontarkan kritik keras terhadap eskalasi konflik di Iran, sebuah posisi yang memicu kemarahan Trump. Bagi Meloni, menyerang Paus bukan sekadar masalah agama, melainkan penghinaan terhadap identitas dan budaya Italia yang sangat kental dengan tradisi Katolik.

Baca Juga

Akhir Damai Penuh Makna: Kasus Pemukulan Waketum PSI Bro Ron Resmi Diselesaikan Lewat Restorative Justice

Akhir Damai Penuh Makna: Kasus Pemukulan Waketum PSI Bro Ron Resmi Diselesaikan Lewat Restorative Justice

Meloni secara terbuka membela Paus Leo dan menyatakan bahwa sikap Trump sama sekali tidak dapat diterima oleh negara berdaulat seperti Italia. Perselisihan ini menciptakan jurang yang semakin dalam. Pengamat politik Francesco Galietti dari Policy Sonar menilai bahwa langkah Meloni mungkin sangat populer di dalam negeri Italia, mengingat sentimen publik yang kurang mendukung keterlibatan militer AS. Namun, di sisi lain, Meloni sedang bermain api dengan mempertaruhkan salah satu pilar utama kebijakan luar negerinya yang selama ini bergantung pada aliansi erat dengan Amerika.

Drama ‘Mengemis’ Foto di KTT G7

Jika konflik militer adalah substansi kebijakan, maka perseteruan terbaru mereka adalah masalah harga diri. Trump baru-baru ini melontarkan klaim yang merendahkan Meloni terkait pertemuan mereka di KTT G7 di Prancis. Dalam sebuah wawancara televisi, Trump mengklaim bahwa Meloni telah ‘mengemis’ kepadanya untuk mendapatkan foto bersama. Trump dengan nada sarkastik menyebut bahwa ia akhirnya mengabulkan permintaan tersebut karena merasa kasihan pada sang Perdana Menteri.

Baca Juga

Langkah Strategis DPR dan Pemerintah Perkuat Otot BUMN: Wacana ‘Buyback’ Saham di Tengah Gejolak Pasar Global

Langkah Strategis DPR dan Pemerintah Perkuat Otot BUMN: Wacana ‘Buyback’ Saham di Tengah Gejolak Pasar Global

“Dia memohon kepada saya untuk berfoto dengannya. Dia sangat ingin berfoto dengan saya. Saya tidak akan melakukannya, tetapi saya merasa kasihan padanya,” ujar Trump dalam wawancara tersebut. Klaim ini segera menjadi api yang membakar sisa-sisa hubungan baik mereka. Meloni, yang dikenal memiliki karakter tegas, tidak tinggal diam. Ia segera mengunggah video melalui platform X (dahulu Twitter) untuk membantah pernyataan tersebut dengan nada yang sangat tajam.

Tanggapan Pedas Meloni: “Italia Tidak Pernah Mengemis”

Melalui video resminya, Meloni menyatakan rasa terkejutnya atas perilaku seorang Presiden Amerika Serikat terhadap sekutunya sendiri. Meloni menegaskan bahwa pernyataan Trump sepenuhnya adalah rekayasa atau buatan. Ia bahkan menyindir balik Trump dengan mengatakan bahwa Trump seharusnya memiliki ketegangan yang sama terhadap musuh-musuh Barat, bukan terhadap kawan sendiri yang berani berbeda pendapat.

“Pernyataan Donald Trump sepenuhnya dibuat-buat. Saya tidak tahu mengapa Presiden Amerika Serikat berperilaku seperti ini terhadap sekutunya. Satu hal yang harus diingat: Italia dan saya tidak pernah mengemis,” tegas Meloni. Perseteruan ini kemudian berlanjut di media sosial, di mana Trump kembali menyerang dengan menyebut popularitas Meloni di Italia sedang merosot tajam karena ia telah mengabaikan Amerika Serikat—negara yang menurut Trump ‘benar-benar mencintai dan melindungi Italia’.

Implikasi Politik dan Masa Depan Hubungan Bilateral

Meloni membalas klaim popularitas tersebut dengan menyarankan Trump untuk lebih fokus pada popularitasnya sendiri di Amerika Serikat yang juga sering goyah. Ia menekankan bahwa dukungan rakyat Italia kepadanya bertahan karena kemampuannya membela kepentingan nasional, termasuk keputusan sulit untuk membatasi akses pangkalan militer bagi kepentingan asing. Meloni secara implisit menyatakan bahwa ia tidak membutuhkan legitimasi dari Trump untuk memimpin negaranya.

Konflik ini menggambarkan pergeseran besar dalam geopolitik global. Ketika dua pemimpin populis sayap kanan bertemu, ego dan kedaulatan nasional sering kali bertabrakan. Bagi Meloni, tantangan ke depan adalah menjaga stabilitas ekonomi dan politik Italia tanpa harus tunduk sepenuhnya pada tekanan Washington. Sementara bagi Trump, kehilangan dukungan dari Italia di panggung Eropa bisa menjadi kerugian strategis yang signifikan, terutama dalam menghadapi dinamika di Timur Tengah.

TotoNews akan terus memantau perkembangan drama politik ini, karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kedua pemimpin tersebut, tetapi juga oleh stabilitas aliansi NATO dan peta kekuatan di Uni Eropa menjelang tahun pemilu yang krusial.

Rizky Ramadhan

Rizky Ramadhan

Mantan mekanik yang beralih menjadi jurnalis otomotif. Tulisannya dikenal tajam dalam mengulas performa mesin dan tren kendaraan masa depan di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *