Trump Tolak Proposal Damai Iran: Ancaman Serangan Total di Selat Hormuz Kian Nyata
TotoNews — Situasi di Teluk Persia kini berada di titik nadir setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyatakan ketidakpuasannya terhadap proposal gencatan senjata yang diajukan oleh Iran. Di tengah tenggat waktu yang kian mencekik bagi Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz, Trump menegaskan bahwa tawaran yang ada di atas meja saat ini masih jauh dari kata cukup untuk menghindari konfrontasi militer skala besar.
Pemerintah Iran sebelumnya telah melayangkan respons resmi yang terdiri dari 10 poin krusial melalui Pakistan sebagai pihak mediator. Dalam draf tersebut, Teheran menawarkan protokol jalur aman di Selat Hormuz, rencana rekonstruksi pasca-konflik, hingga tuntutan pencabutan sanksi ekonomi yang selama ini mencekik negara tersebut. Namun, respons dari Gedung Putih justru bernada skeptis dan dingin.
Revolusi Energi Hijau: Indonesia Bidik Potensi 15 GW Melalui PLTS Terapung di Bendungan
Ancaman Militer Trump: Infrastruktur Iran dalam Bidikan
“Itu belum cukup baik, meski saya akui itu adalah langkah yang sangat signifikan,” ujar Trump sebagaimana dihimpun oleh tim redaksi kami. Trump, dengan gaya bicaranya yang lugas, tidak memberikan banyak ruang bagi diplomasi yang bertele-tele. Ia justru melipatgandakan tekanan dengan menetapkan ultimatum keras yang bisa mengubah peta geopolitik Timur Tengah.
Dalam sebuah konferensi pers yang menegangkan di Gedung Putih, Trump kembali menegaskan ancamannya untuk meluncurkan serangan udara masif yang menargetkan infrastruktur energi dan jaringan transportasi Iran. Batas waktu yang ditetapkan adalah Selasa pukul 20.00 waktu setempat. Jika jalur pelayaran internasional tersebut tidak segera dibuka, Trump berjanji akan mengerahkan kekuatan militer AS untuk melumpuhkan Iran secara total.
Sinergi Kokoh bank bjb dan Mabes TNI: Perluas Akses Finansial Hingga ke Pegawai P3K
“Kami memiliki rencana militer yang sangat presisi. Setiap jembatan di Iran akan dihancurkan sebelum tengah malam besok. Setiap pembangkit listrik akan berhenti beroperasi, terbakar, meledak, dan kami pastikan tidak akan pernah bisa digunakan lagi,” tegas sang presiden dengan nada mengancam yang sangat serius.
Blokade Jalur Vital dan Gejolak Ekonomi Dunia
Sejak pecahnya konflik pada 28 Februari lalu, Iran secara efektif telah menutup akses ke Selat Hormuz, sebuah urat nadi bagi pasokan energi dunia. Kondisi ini telah memicu kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak dunia yang terus merangkak naik akibat potensi kelangkaan stok global. Menariknya, Parlemen Iran bahkan sempat mengesahkan regulasi yang memformalkan penarikan biaya bagi setiap kapal yang melintas, meskipun pada kenyatannya jalur tersebut hampir sepenuhnya terblokir bagi navigasi komersial.
Ambisi Besar Prabowo: Menghidupkan Pusat Keuangan Internasional di Bali Sebagai ‘Safe Haven’ Dunia
Teheran sendiri bersikap keras dengan menolak opsi gencatan senjata sementara. Mereka menuntut solusi permanen untuk mengakhiri peperangan ini secara menyeluruh dan bermartabat. Namun, Trump kembali menegaskan dominasinya dengan menyatakan bahwa dirinyalah satu-satunya pihak yang memiliki otoritas untuk menetapkan syarat-syarat gencatan senjata.
Kini, perhatian internasional tertuju pada detik-detik menjelang tenggat waktu tersebut. Apakah diplomasi di menit-menit terakhir melalui mediator Pakistan mampu meredam amarah Washington, ataukah Selat Hormuz akan menjadi saksi pecahnya perang besar yang melumpuhkan ekonomi global? TotoNews akan terus menyajikan perkembangan terkini dari krisis yang semakin memanas ini.