Tragedi Hari Kurban: Kisah Juli Hermanto yang Hanyut di Kedalaman Anak Sungai Musi Palembang

Rizky Ramadhan | Totonews
28 Mei 2026, 04:41 WIB
Tragedi Hari Kurban: Kisah Juli Hermanto yang Hanyut di Kedalaman Anak Sungai Musi Palembang

TotoNews — Suasana khidmat perayaan Idul Adha di Kota Palembang seketika berubah menjadi duka mendalam bagi keluarga Juli Hermanto. Pria berusia 40 tahun itu mengembuskan napas terakhirnya dalam sebuah insiden tragis yang tidak terduga. Niat hati ingin merapikan hasil sembelihan hewan kurban dengan membersihkan jeroan sapi, nasib malang justru menjemputnya di aliran tenang namun menghanyutkan dari anak Sungai Musi, Sumatera Selatan.

Peristiwa memilukan ini terjadi pada Rabu siang yang terik, tepatnya sekitar pukul 11.30 WIB. Korban, yang merupakan warga Jalan Panca Usaha, Kecamatan Seberang Ulu (SU) I, Palembang, ditemukan tidak bernyawa setelah sempat terseret arus deras. Kejadian ini menjadi pengingat pahit bagi masyarakat akan bahaya yang mengintai di balik aktivitas harian di pinggiran sungai, terutama saat arus sedang tidak bersahabat.

Baca Juga

Dedikasi Hingga Akhir Hayat: Kisah Pilu Nurlaela, Guru yang Berpulang dalam Tragedi KRL Bekasi

Dedikasi Hingga Akhir Hayat: Kisah Pilu Nurlaela, Guru yang Berpulang dalam Tragedi KRL Bekasi

Kronologi Memilukan di Bawah Jembatan Ratu

Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh tim redaksi TotoNews, peristiwa bermula ketika Juli Hermanto baru saja menyelesaikan tugasnya membantu proses pemotongan hewan kurban di rumah salah satu kerabatnya. Sebagai bagian dari tradisi dan kepedulian terhadap kebersihan, Juli berinisiatif membawa bagian usus sapi kurban tersebut untuk dicuci agar bersih dari kotoran sebelum diolah lebih lanjut.

Tidak sendirian, Juli pergi menuju tepian anak sungai yang berlokasi di bawah Jembatan Ratu bersama seorang rekannya, Gunawan (30). Lokasi tersebut memang sering digunakan warga sekitar untuk berbagai aktivitas karena aksesnya yang dianggap mudah. Namun, siapa sangka bahwa pertemuan Juli dengan air sungai hari itu akan menjadi momen terakhirnya.

Baca Juga

Horor Sisa Perang Dunia II di Biak: Ledakan Bom Hebat Tewaskan 5 Warga, Tim SAR Masih Cari Korban Hilang

Horor Sisa Perang Dunia II di Biak: Ledakan Bom Hebat Tewaskan 5 Warga, Tim SAR Masih Cari Korban Hilang

Setibanya di lokasi, Juli tampak penuh semangat. Tanpa rasa ragu, ia melangkah masuk ke dalam air. Diduga kuat, korban melakukan kesalahan fatal dalam memperkirakan kedalaman sungai tersebut. Ia mengira area di tengah sungai cukup dangkal untuk dipijak sambil mencuci usus sapi yang dibawanya. Namun, begitu ia melangkah lebih jauh ke tengah, dasar sungai ternyata menjorok dalam dan arus bawah air yang cukup kuat langsung menarik tubuhnya.

Detik-Detik Menegangkan dan Upaya Penyelamatan

Gunawan, rekan korban yang berada tidak jauh dari lokasi, menyaksikan detik-detik saat Juli mulai kesulitan menyeimbangkan tubuhnya. Dalam hitungan detik, Juli yang diduga tidak mahir berenang tersebut mulai panik saat kakinya tidak lagi menyentuh dasar sungai. Arus anak Sungai Musi yang saat itu sedang mengalir deras langsung menyeret tubuh korban menjauh dari tepian.

Baca Juga

Inovasi ‘E-Kopi Papi’ Kompol Jarot: Digitalisasi Mental Health dan Wajah Humanis Polri di Kalimantan Tengah

Inovasi ‘E-Kopi Papi’ Kompol Jarot: Digitalisasi Mental Health dan Wajah Humanis Polri di Kalimantan Tengah

Upaya pertolongan sempat dilakukan, namun kecepatan arus dan kedalaman air membuat situasi menjadi sangat sulit. Juli menghilang di balik permukaan air cokelat sungai tersebut, meninggalkan kepanikan luar biasa bagi rekan dan warga yang mulai berdatangan ke lokasi setelah mendengar teriakan minta tolong. Kejadian yang begitu cepat ini membuat warga sekitar segera menghubungi pihak kepolisian dan tim penyelamat setempat.

Setelah dilakukan upaya pencarian intensif oleh warga dan pihak berwenang, tubuh Juli Hermanto akhirnya ditemukan. Namun sayang, takdir berkata lain. Saat berhasil dievakuasi ke daratan, kondisi korban sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Isak tangis pecah di lokasi kejadian saat tubuh pria yang dikenal ringan tangan itu diangkat dari permukaan air.

Baca Juga

Tragedi Kemanusiaan di Iran: Ketika Perang Menjadikan Obat-obatan sebagai Barang Mewah yang Tak Terjangkau

Tragedi Kemanusiaan di Iran: Ketika Perang Menjadikan Obat-obatan sebagai Barang Mewah yang Tak Terjangkau

Konfirmasi Pihak Kepolisian dan Evakuasi Korban

Pamapta Polretabes Palembang, Ipda Aditian Ammar, memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut. Ia membenarkan bahwa telah terjadi kecelakaan air yang merenggut nyawa seorang pria saat sedang menjalankan aktivitas mencuci jeroan kurban. Pihak kepolisian segera bergerak cepat melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) setelah mendapatkan laporan dari masyarakat.

“Diduga kuat korban tidak bisa berenang. Saat mencoba mencuci usus sapi di area yang dikiranya dangkal, ia justru terbawa arus sungai yang cukup deras. Saat ditemukan oleh tim di lapangan, korban sudah dalam kondisi meninggal dunia,” ungkap Ipda Aditian Ammar dalam keterangannya kepada media. Pernyataan ini menegaskan bahwa insiden murni merupakan kecelakaan akibat ketidaktahuan korban terhadap medan sungai.

Jenazah Juli Hermanto sempat dilarikan ke Rumah Sakit Bari Palembang untuk dilakukan pemeriksaan medis secara prosedural. Setelah dipastikan penyebab kematiannya adalah tenggelam dan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan, jenazah kemudian diserahkan kepada pihak keluarga. Saat ini, jenazah telah disemayamkan di rumah duka di Jalan Panca Usaha untuk kemudian dimakamkan oleh pihak keluarga yang dirundung duka mendalam.

Bahaya yang Tersembunyi di Balik Tradisi Mencuci di Sungai

Insiden ini menambah daftar panjang kasus tenggelam di wilayah perairan Sumatera Selatan. Tradisi mencuci jeroan atau daging kurban di sungai memang masih sering dijumpai di daerah-daerah yang memiliki pemukiman di tepian sungai. Alasannya beragam, mulai dari ketersediaan air yang melimpah hingga kemudahan dalam membuang sisa kotoran agar tidak mencemari lingkungan rumah.

Namun, para ahli keselamatan air terus mengingatkan bahwa sungai, terutama anak-anak sungai dari sungai besar seperti Musi, memiliki karakteristik yang dinamis. Kedalaman sungai bisa berubah secara drastis akibat pengerukan alami atau perubahan arus. Selain itu, endapan lumpur di dasar sungai seringkali membuat pijakan menjadi licin dan tidak stabil, yang sangat berbahaya bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan berenang yang mumpuni.

Kisah tragis Juli Hermanto menjadi pelajaran berharga bagi seluruh warga, khususnya di momen-momen besar seperti Idul Adha. Kehati-hatian dalam beraktivitas di dekat perairan harus menjadi prioritas utama. Menggunakan fasilitas air bersih di darat atau setidaknya menggunakan pelampung saat harus beraktivitas di sungai adalah langkah preventif yang tidak boleh disepelekan.

Duka di Kawasan Panca Usaha

Kepergian Juli Hermanto meninggalkan lubang besar di hati keluarga dan tetangganya di kawasan Panca Usaha. Ia dikenal sebagai sosok yang ramah dan selalu aktif dalam kegiatan sosial di lingkungannya. Banyak warga yang tidak menyangka bahwa partisipasi terakhirnya dalam kegiatan kurban tahun ini akan berakhir dengan sebuah tragedi yang memilukan.

Hingga berita ini diturunkan, rumah duka terus didatangi oleh pelayat yang ingin memberikan penghormatan terakhir. Kejadian ini juga memicu simpati luas dari netizen di media sosial, yang turut mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Tragedi ini menjadi catatan kelam di tengah perayaan Idul Adha di Palembang, mengingatkan kita semua bahwa maut bisa datang kapan saja, bahkan di tengah niat baik menjalankan tradisi kurban.

Kami dari redaksi TotoNews mengucapkan turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Semoga kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan, dan masyarakat semakin sadar akan pentingnya keselamatan saat berinteraksi dengan alam, terutama aliran sungai yang seringkali tampak tenang namun menyimpan risiko besar.

Rizky Ramadhan

Rizky Ramadhan

Mantan mekanik yang beralih menjadi jurnalis otomotif. Tulisannya dikenal tajam dalam mengulas performa mesin dan tren kendaraan masa depan di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *