Tragedi Visual atau Revolusi? Eks Bos Ferrari Kecam Keras Desain Luce EV, Sebut Pabrikan China Pun Enggan Meniru

Bagus Setiawan | Totonews
28 Mei 2026, 22:41 WIB
Tragedi Visual atau Revolusi? Eks Bos Ferrari Kecam Keras Desain Luce EV, Sebut Pabrikan China Pun Enggan Meniru

TotoNews — Dunia otomotif global sedang diguncang oleh perdebatan panas seiring dengan meluncurnya karya elektrik perdana dari pabrikan Maranello. Namun, alih-alih disambut dengan karpet merah dan puja-puji setinggi langit, Ferrari Luce EV justru terperosok ke dalam pusaran kritik tajam yang menghujam jantung estetika sang raksasa Italia tersebut.

Kehadiran Luce EV seharusnya menjadi tonggak sejarah baru bagi mobil listrik Ferrari. Sayangnya, bagi sebagian besar loyalis dan pengamat otomotif kawakan, kendaraan ini justru dianggap telah mencederai filosofi desain yang selama puluhan tahun menjadi napas bagi ‘Il Cavallino Rampante’. Tak ada lagi garis-garis agresif nan sensual khas Maranello yang biasanya sanggup membuat jantung berdegup kencang hanya dengan sekali pandang.

Baca Juga

Kebangkitan Sang Raja Off-Road: Bocoran Spesifikasi Mitsubishi Pajero Generasi Kelima yang Siap Mengguncang Dunia

Kebangkitan Sang Raja Off-Road: Bocoran Spesifikasi Mitsubishi Pajero Generasi Kelima yang Siap Mengguncang Dunia

Kritik Pedas Luca Di Montezemolo: Menghancurkan Sebuah Legenda

Salah satu suara paling keras dan berpengaruh yang muncul ke permukaan adalah Luca Di Montezemolo. Sosok yang selama dua dekade menakhodai Ferrari ini tidak mampu menyembunyikan rasa kecewanya saat melihat wujud fisik dari Luce EV. Baginya, desain mobil ini adalah sebuah anomali yang sangat menyakitkan bagi sejarah panjang perusahaan.

Montezemolo bahkan melontarkan sindiran yang sangat menohok terkait tren industri otomotif saat ini. Ia menyatakan bahwa saking jauhnya desain Luce EV dari standar kecantikan Ferrari, bahkan produsen dari Negeri Tirai Bambu—yang kerap dikenal gemar mengadopsi desain supercar mewah—tidak akan berminat untuk meniru tampilannya.

Baca Juga

Toyota Urban Cruiser Ebella: Gebrakan SUV Listrik Rp 400 Jutaan dengan Jarak Tempuh 540 Km

Toyota Urban Cruiser Ebella: Gebrakan SUV Listrik Rp 400 Jutaan dengan Jarak Tempuh 540 Km

“Kita sedang berada dalam risiko besar menghancurkan sebuah legenda yang dibangun dengan darah dan air mata. Setidaknya, satu hal yang pasti, ini adalah mobil yang tidak akan pernah mau ditiru oleh pabrikan-pabrikan China,” ujar Montezemolo dengan nada getir, sebagaimana dikutip dari laporan Politico.

Hilangnya Identitas Sang Kuda Jingkrak

Bagi Montezemolo, logo kuda jingkrak bukan sekadar stempel merek, melainkan simbol keunggulan estetika dan performa. Ia merasa Luce EV kehilangan jiwa tersebut. Menurutnya, desain yang diusung terlalu asing dan tidak memiliki kaitan emosional dengan DNA Ferrari yang asli.

“Jika saya benar-benar jujur tentang apa yang ada di pikiran saya, saya mungkin akan merugikan citra Ferrari. Namun, saya sungguh menyesalkan arah desain ini. Saya secara pribadi berharap mereka setidaknya melepaskan logo kuda jingkrak dari bodi mobil tersebut agar tidak mencemari warisan yang ada,” tambahnya. Sentimen ini mencerminkan kegelisahan para purist yang merasa bahwa transisi ke teknologi EV tidak seharusnya mengorbankan identitas visual sebuah brand legendaris.

Baca Juga

Perayaan 19 Tahun ID42NER: Gemuruh Jambore Nasional V dan Semangat Solidaritas Tanpa Batas di PIK 2

Perayaan 19 Tahun ID42NER: Gemuruh Jambore Nasional V dan Semangat Solidaritas Tanpa Batas di PIK 2

Sentuhan Jony Ive: Antara Minimalisme Apple dan Gairah Otomotif

Satu fakta menarik yang melatarbelakangi kontroversi ini adalah keterlibatan LoveFrom, studio desain milik Jony Ive dan Marc Newson. Keduanya adalah maestro di balik desain ikonik iPhone dan Apple Watch yang mendunia. Namun, membawa estetika teknologi gadget ke dalam dunia desain supercar ternyata menjadi pedang bermata dua.

Hasil kolaborasi ini melahirkan sebuah kendaraan dengan konsep ‘glass house’ yang sangat bersih dan minimalis. Luce EV dilengkapi dengan sayap aerodinamis yang tampak melayang di bagian depan dan belakang, serta penggunaan pintu baris kedua dengan gaya *suicide doors* yang selama ini identik dengan kemewahan Rolls-Royce.

Baca Juga

Kabar Gembira! Perpanjang STNK Kendaraan Bekas Kini Tak Perlu KTP Pemilik Lama di Berbagai Provinsi, Simak Syarat Lengkapnya

Kabar Gembira! Perpanjang STNK Kendaraan Bekas Kini Tak Perlu KTP Pemilik Lama di Berbagai Provinsi, Simak Syarat Lengkapnya

Di sektor kaki-kaki, Ferrari mencoba tampil dominan dengan memasang velg raksasa berukuran 23 inci di bagian depan dan 24 inci di belakang. Ini tercatat sebagai ukuran velg terbesar yang pernah dipasang secara resmi pada mobil jalan raya produksi Ferrari, sebuah upaya untuk memberikan kesan kokoh meski secara visual masih memicu perdebatan sengit.

Performa Monster di Balik Tampilan yang Kontroversial

Meskipun tampilannya panen hujatan, urusan performa tetap membuktikan bahwa tim mekanik Maranello tidak main-main dalam merancang jeroan performa mobil listrik mereka. Di bawah kap bodinya yang diperdebatkan, Luce EV menyimpan kekuatan yang mampu membuat siapa pun terperangah.

Konfigurasi motor listriknya sangat ambisius. Motor bagian depan sanggup memuntahkan tenaga sebesar 282 HP (210 kW), sementara motor belakangnya memiliki daya raksasa mencapai 831 HP (620 kW). Ketika pengemudi mengaktifkan ‘Boost Mode’, kombinasi tenaga total yang dihasilkan mencapai angka fantastis 1.035 HP.

Akselerasinya pun berada di level puncak. Berbekal sistem penggerak empat motor listrik, Ferrari Luce EV mampu melesat dari posisi diam hingga kecepatan 100 km/jam hanya dalam waktu singkat, yakni 2,5 detik saja. Sebuah angka yang menempatkannya sejajar dengan deretan hypercar paling kencang di planet ini.

Investasi Jangka Panjang dan Perlindungan Nilai Jual

Ferrari tampaknya sadar akan kekhawatiran konsumen mengenai masa pakai mobil listrik. Oleh karena itu, mereka menegaskan bahwa seluruh komponen utama Luce EV dikembangkan secara mandiri atau *in-house*. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa perusahaan dapat memberikan layanan perbaikan dan pemeliharaan secara total hingga puluhan tahun ke depan.

Strategi ini bertujuan untuk melindungi nilai jual kembali atau *resale value* kendaraan, yang seringkali menjadi masalah pada mobil listrik generasi awal. Dengan jaminan ketersediaan suku cadang asli dan kemampuan teknis dari pabrikan langsung, Ferrari ingin memastikan bahwa Luce EV tetap menjadi aset berharga bagi para kolektornya.

Harga Fantastis untuk Era Baru

Bagi Anda yang tertarik untuk meminang mobil kontroversial ini, siapkan dana yang tidak sedikit. Ferrari Luce EV dijadwalkan mulai dapat dipesan di pasar Eropa pada akhir tahun ini dengan banderol harga mencapai 520 ribu euro, atau kurang lebih sekitar Rp 12 miliar (belum termasuk pajak dan biaya impor lainnya).

Untuk pasar global di luar Eropa, termasuk kemungkinan masuk ke Asia, unit baru akan tersedia secara bertahap mulai tahun depan. Industri otomotif kini tengah menunggu, apakah performa buas dan nama besar Ferrari cukup untuk menutupi kritikan pedas terhadap desainnya, ataukah Luce EV akan menjadi pelajaran berharga bagi Maranello dalam menyeimbangkan inovasi masa depan dengan tradisi masa lalu.

Keputusan Ferrari untuk merombak total bahasa desainnya pada model listrik pertama ini memang merupakan langkah berani, namun di mata sang legenda seperti Montezemolo, keberanian tersebut mungkin saja telah melangkah terlalu jauh dari jalur yang seharusnya.

Bagus Setiawan

Bagus Setiawan

Jurnalis senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di industri media. Spesialis dalam mengupas isu kebijakan publik dan investigasi peristiwa di kanal Feed News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *