Analisis Tajam: Benarkah Harga Pertamax Indonesia Masih Termurah di Asia Tenggara?

Siti Aminah | Totonews
13 Jun 2026, 06:42 WIB
Analisis Tajam: Benarkah Harga Pertamax Indonesia Masih Termurah di Asia Tenggara?

TotoNews — Di tengah fluktuasi pasar energi global yang kian tidak menentu, kebijakan harga energi domestik selalu menjadi sorotan tajam bagi masyarakat luas. Baru-baru ini, pemerintah secara resmi mengumumkan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi, sebuah langkah yang memicu diskusi hangat di berbagai lini massa mengenai daya beli dan perbandingannya dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.

Perubahan harga yang mulai berlaku pada Rabu, 10 Juni 2026, ini menempatkan Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95 (RON 95) pada level harga baru. Namun, di balik angka-angka yang merangkak naik tersebut, pemerintah memberikan klarifikasi mendalam bahwa posisi Indonesia secara komparatif masih jauh lebih menguntungkan dibandingkan negara-negara mitra di ASEAN. Laporan ini mencoba membedah realitas di balik kebijakan harga bbm yang diambil oleh otoritas terkait.

Baca Juga

Era Baru Digitalisasi: Mengapa NIB Kini Menjadi ‘Paspor’ Wajib Bagi Seluruh Penjual E-Commerce di Indonesia

Era Baru Digitalisasi: Mengapa NIB Kini Menjadi ‘Paspor’ Wajib Bagi Seluruh Penjual E-Commerce di Indonesia

Rincian Kenaikan: Menakar Angka Baru di SPBU

Terhitung sejak medio Juni 2026, para pengguna kendaraan bermotor yang mengandalkan bahan bakar berkualitas tinggi harus merogoh kocek lebih dalam. Pertamax, yang sebelumnya dibanderol di kisaran Rp 12.300 per liter, kini mengalami penyesuaian menjadi Rp 16.250 per liter. Kenaikan serupa juga terjadi pada varian yang lebih ramah lingkungan, yakni Pertamax Green 95, yang melonjak dari Rp 12.900 per liter menjadi Rp 17.000 per liter.

Kenaikan ini tentu bukan tanpa alasan. Pemerintah melalui Sekretariat Kabinet menegaskan bahwa penyesuaian ini merupakan konsekuensi logis dari dinamika harga minyak dunia yang telah menunjukkan tren peningkatan signifikan sejak bulan Maret. Meskipun angka-angka baru ini terlihat cukup tinggi bagi sebagian masyarakat, perspektif berbeda muncul ketika kita melihat data dari kacamata regional.

Baca Juga

Revolusi Energi Hijau: Indonesia Bidik Potensi 15 GW Melalui PLTS Terapung di Bendungan

Revolusi Energi Hijau: Indonesia Bidik Potensi 15 GW Melalui PLTS Terapung di Bendungan

Komparasi Regional: Potret Harga BBM di Asia Tenggara

Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber kredibel seperti Petrol Price, GasWatch, dan Global Petrol Price per 11 Juni 2026, Indonesia tercatat masih memiliki salah satu struktur harga BBM non-subsidi yang paling kompetitif. Jika dibandingkan dengan negara tetangga, angka Rp 16.250 untuk Pertamax di Indonesia tampak jauh lebih kecil daripada harga yang harus dibayar warga negara lain untuk spesifikasi bahan bakar yang setara.

Mari kita lihat perbandingannya secara lebih detail. Di Singapura, negara dengan biaya hidup tertinggi di kawasan ini, harga BBM non-subsidi menembus angka fantastis Rp 42.971 per liter. Sementara itu, di Laos, masyarakat harus membayar sekitar Rp 31.945 per liter. Thailand, yang sering menjadi tolok ukur industri otomotif regional, menetapkan harga di kisaran Rp 28.910 per liter. Filipina dan Myanmar pun tidak ketinggalan dengan masing-masing harga sebesar Rp 22.158 dan Rp 25.085 per liter.

Baca Juga

IHSG Masih Tertahan di Level 6.900, Rupiah Terdepresiasi ke Titik Terendah Sepanjang Masa

IHSG Masih Tertahan di Level 6.900, Rupiah Terdepresiasi ke Titik Terendah Sepanjang Masa

“Walaupun mengalami kenaikan, harga Pertamax di Indonesia masih jauh lebih murah dibanding BBM dengan angka oktan RON 92 atau 95 di negara lain,” demikian pernyataan resmi dari Sekretariat Kabinet yang diterima oleh redaksi TotoNews. Fakta ini menunjukkan bahwa intervensi pemerintah dalam menjaga stabilitas harga masih sangat terasa di pasar domestik.

Mengapa Harga Bisa Berbeda Drastis?

Perbedaan harga yang mencolok antara Indonesia dengan negara seperti Singapura atau Thailand dipengaruhi oleh berbagai faktor fundamental. Salah satunya adalah kebijakan pajak energi dan skema subsidi energi yang diterapkan oleh masing-masing pemerintah. Di banyak negara ASEAN, pajak bahan bakar merupakan salah satu sumber pendapatan negara yang signifikan, sehingga harga di tingkat konsumen menjadi sangat tinggi.

Baca Juga

Rekor Terburuk Sepanjang Masa: Dolar AS Tembus Rp 17.500, Sinyal Bahaya Bagi Perekonomian Nasional?

Rekor Terburuk Sepanjang Masa: Dolar AS Tembus Rp 17.500, Sinyal Bahaya Bagi Perekonomian Nasional?

Selain itu, biaya distribusi dan logistik di kepulauan seluas Indonesia menjadi tantangan tersendiri. Namun, melalui mekanisme pengelolaan energi yang terintegrasi, pemerintah berusaha agar beban tersebut tidak sepenuhnya ditimpakan kepada masyarakat. Penahanan harga yang dilakukan selama berbulan-bulan sejak Maret lalu adalah bukti nyata bahwa pemerintah mencoba menjadi “bumper” atau peredam guncangan ekonomi dari volatilitas pasar minyak internasional.

Komitmen Terhadap BBM Subsidi: Pertalite dan Solar Tetap Stabil

Satu hal yang menjadi catatan penting dan membawa angin segar bagi masyarakat kelas menengah ke bawah adalah kepastian bahwa harga BBM bersubsidi tidak akan mengalami perubahan. Pemerintah menyadari sepenuhnya bahwa sektor transportasi logistik dan mobilitas harian masyarakat sangat bergantung pada ketersediaan bahan bakar yang terjangkau.

Oleh karena itu, Pertalite tetap dibanderol pada harga Rp 10.000 per liter. Begitu pula dengan Solar subsidi yang tidak bergeming dari angka Rp 6.800 per liter. Langkah ini diambil untuk memastikan inflasi tetap terkendali dan daya beli masyarakat tidak tergerus terlalu dalam akibat kenaikan harga energi primer. Hal ini merupakan bagian dari strategi besar ekonomi indonesia dalam menjaga stabilitas nasional di tengah ketidakpastian global.

Menghadapi Tantangan Energi Masa Depan

Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green sebenarnya juga memberikan pesan tersirat mengenai pentingnya transisi energi. Dengan harga yang mulai mengikuti mekanisme pasar, masyarakat secara tidak langsung didorong untuk lebih bijak dalam menggunakan kendaraan pribadi atau mulai melirik alternatif transportasi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Pemerintah sendiri terus berupaya memperkuat ketahanan energi nasional melalui diversifikasi sumber daya. Pengembangan Pertamax Green yang menggunakan campuran bahan nabati adalah salah satu langkah nyata untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah. Meskipun harganya ikut naik, nilai keberlanjutan (sustainability) yang ditawarkan menjadi investasi jangka panjang bagi lingkungan Indonesia.

Kesimpulan: Keseimbangan Antara Fiskal dan Realitas

Keputusan pemerintah untuk menyesuaikan harga BBM non-subsidi adalah pilihan sulit yang harus diambil demi menjaga kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dengan membiarkan harga Pertamax bergerak sesuai tren pasar namun tetap menahan harga BBM subsidi, pemerintah sedang mencoba melakukan aksi keseimbangan (balancing act).

Sebagai konsumen, memahami bahwa posisi harga di Indonesia masih jauh di bawah rata-rata regional dapat memberikan perspektif yang lebih tenang. Meskipun kenaikan harga tidak pernah menjadi berita populer, transparansi data mengenai perbandingan harga internasional membantu kita menyadari posisi Indonesia dalam peta energi global. Ke depannya, efisiensi penggunaan bahan bakar dan dukungan terhadap kebijakan energi nasional akan menjadi kunci bagi stabilitas ekonomi bersama.

TotoNews akan terus memantau perkembangan kebijakan energi dan dampaknya terhadap sektor ekonomi riil untuk memastikan Anda mendapatkan informasi yang akurat dan berimbang.

Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *