Fadli Zon Pasang Badan, Sebut Seruan Saiful Mujani Jatuhkan Prabowo Sebagai Tindakan Inkonstitusional
TotoNews — Jagat politik nasional mendadak riuh menyusul pernyataan kontroversial pengamat politik senior, Saiful Mujani, yang secara terang-terangan menyinggung upaya untuk menjatuhkan Presiden terpilih. Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, melontarkan kritik tajam dan menyebut narasi tersebut sebagai bentuk ketidakpahaman terhadap esensi demokrasi.
Berbicara di hadapan awak media di kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Fadli Zon menegaskan bahwa tuduhan yang dialamatkan kepada Prabowo Subianto sebagai sosok otoriter adalah sebuah pandangan yang ahistoris atau buta sejarah. Menurutnya, perjalanan hidup Prabowo justru merupakan manifestasi dari kesetiaan terhadap jalur demokrasi sipil yang sangat panjang.
Rekam Jejak Demokrasi yang Tak Terbantahkan
Fadli Zon menguraikan kembali memori saat dirinya mendampingi Prabowo bertransformasi dari dunia militer ke ranah sipil pada tahun 1999. Menurut Fadli Zon, Prabowo secara sadar memilih berproses melalui organisasi sipil, mengikuti konvensi partai politik pada 2004, hingga akhirnya mendirikan partai politiknya sendiri.
Aksi Tegas Kapolsek Polwan Kemang Pimpin Penggerebekan Bandar Obat Keras di Bogor: Ribuan Pil Disita!
“Beliau sudah merasakan empat kali kekalahan dalam kontestasi Pilpres. Mulai dari 2009 sebagai calon wakil presiden, hingga 2014 dan 2019. Namun, beliau tidak pernah menyerah pada jalan demokrasi. Barulah pada tahun 2024, perjuangan panjang itu membuahkan mandat dari 96 juta pemilih atau sekitar 58 persen suara rakyat,” tutur Fadli dengan nada tegas.
Baginya, menganggap sosok yang tunduk pada aturan main demokrasi selama puluhan tahun sebagai figur otoriter adalah sebuah pengerdilan terhadap fakta yang ada. Ia mengaku heran mengapa ada kalangan intelektual yang justru mencoba mendelegitimasi perjalanan konstitusional tersebut.
Sentilan ‘Pengamat Bukan Pemain’ untuk Saiful Mujani
Kritik Fadli Zon semakin menukik saat menyinggung pernyataan Saiful Mujani yang viral di media sosial. Dalam video tersebut, sang pengamat mengajak untuk mengonsolidasikan diri guna menjatuhkan Prabowo dengan alasan ‘menyelamatkan bangsa’ di luar prosedur formal impeachment.
Duka Mendalam Menteri PPPA di Rumah Korban Tragedi Kereta Bekasi: Soroti Keamanan Gerbong Wanita
Fadli mengibaratkan para pengamat seperti penonton sepak bola yang merasa lebih ahli dibanding para pemain di lapangan. “Kadang-kadang orang yang mengaku paling demokratis itu tidak mengerti arti demokrasi yang sebenarnya. Pertanyaannya, apakah pernah ikut berkontestasi? Pernahkah mereka merasakan bagaimana perjuangan mendapatkan dukungan rakyat secara langsung?” ucapnya retoris.
Lebih jauh, Fadli memperingatkan tentang bahaya perilaku yang ia sebut sebagai ‘mentalitas pengkhianat’. Ia merujuk pada catatan sejarah Indonesia di mana sering kali muncul pihak-pihak yang melakukan penusukan dari belakang saat pemimpin bangsa sedang fokus menghadapi tantangan besar.
“Budaya menggunting dalam lipatan atau menusuk dari belakang ini adalah perilaku yang tidak baik dan harus kita tinggalkan. Kita ingin menghindari perilaku semacam itu di tengah upaya membangun bangsa,” tambahnya.
Tragedi Berdarah di Bandara Karel Sadsuitubun: Nus Kei Tewas dengan Empat Luka Tusuk Mematikan
Istana Memilih Tetap Fokus Bekerja
Sementara itu, suasana di Kompleks Istana Kepresidenan tampak tetap tenang menghadapi riak politik ini. Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menyatakan bahwa pihaknya saat ini sedang disibukkan dengan berbagai agenda strategis pemerintahan.
Teddy mengaku belum sempat melihat video pernyataan Saiful Mujani tersebut. Menurutnya, Presiden Prabowo lebih memilih memusatkan perhatian pada hal-hal besar yang berdampak langsung bagi masyarakat daripada terjebak dalam diskursus yang tidak produktif.