Jejak Sang Proklamator: Momen Khidmat Kapolri Jenderal Listyo Sigit di Makam Bung Karno Jelang Hari Bhayangkara ke-80
TotoNews — Aura khidmat menyelimuti Kota Blitar, Jawa Timur, saat rombongan orang nomor satu di Korps Bhayangkara menginjakkan kaki di tanah kelahiran Sang Fajar. Dalam rangkaian peringatan hari bersejarah, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan kunjungan spiritual yang mendalam dengan berziarah ke makam Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Langkah ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah manifestasi penghormatan tinggi terhadap fondasi kebangsaan yang telah diletakkan oleh para pendahulu.
Kegiatan ziarah yang berlangsung pada Sabtu siang tersebut merupakan bagian dari agenda besar menyambut Hari Bhayangkara ke-80. Setelah sebelumnya memanjatkan doa di makam KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Jombang, Jenderal Sigit melanjutkan estafet perjalanan spiritualnya ke Komplek Makam Bung Karno yang berlokasi di Jalan Ir. Soekarno Nomor 152, Kota Blitar. Kehadiran jenderal bintang empat ini seolah menegaskan bahwa Polri ingin terus menyerap energi perjuangan dari para tokoh bangsa guna memperkuat institusi dalam melayani masyarakat.
Safari Nusantara Jokowi: Antara Kerinduan Rakyat dan Polemik ‘Sinetron’ Politik di Mata PDIP-PSI
Prosesi Khidmat di Kompleks Astono Mulyo
Tepat pukul 12.30 WIB, rombongan Kapolri tiba di gerbang utama makam yang telah dilapisi karpet merah sebagai bentuk penyambutan resmi. Begitu melangkahkan kaki di area tersebut, Jenderal Sigit langsung memberikan penghormatan secara khidmat, sebuah gestur yang menunjukkan rasa respek mendalam seorang prajurit kepada pemimpin besar revolusi. Suasana tenang dan sejuk di area makam menambah kekhusyukan prosesi yang dijadwalkan secara rapi oleh panitia setempat.
Sebelum memasuki area inti persemayaman yang dikenal dengan sebutan bangunan Astono Mulyo, Jenderal Sigit mengikuti tradisi setempat dengan melepas alas kaki. Di tempat duduk khusus yang telah disediakan, ia bersiap untuk masuk ke dalam cungkup utama. Di sana, Kapolri disambut hangat oleh juru kunci makam, Kahfi Annezar. Kahfi tidak hanya bertindak sebagai penerima tamu, tetapi juga menjadi pemandu spiritual yang mendampingi seluruh rangkaian doa dan prosesi di dalam area Makam Bung Karno.
Bobby Nasution Sentil Keras PLN: ‘Jangan Ada Lagi Blackout Tahunan di Sumatera!’
Di dalam cungkup yang megah namun bersahaja itu, Kapolri beserta rombongan pejabat utama Mabes Polri duduk bersimpuh. Mereka larut dalam lantunan doa yang dipimpin langsung oleh Kahfi Annezar. Di depan pusara Sang Proklamator yang letaknya berada di tengah—diapit oleh makam kedua orang tuanya, R. Soekemi Sosrodihardjo dan Ny. Ida Aju Njoman Rai—doa-doa dipanjatkan untuk keselamatan bangsa dan kejayaan Polri di masa depan.
Filosofi Tabur Bunga dan Nilai Kepemimpinan
Usai pembacaan doa yang menyentuh kalbu, prosesi dilanjutkan dengan tabur bunga. Jenderal Sigit memimpin langsung momen ini, diikuti oleh Kabaintelkam Polri dan Dankorbrimob Polri. Aroma bunga mawar dan melati yang segar menyeruak di udara saat kelopak-kelopak bunga tersebut perlahan menutupi pusara Bung Karno. Bagi institusi kepolisian, momen ini adalah simbol pembersihan jiwa dan pengingat akan harumnya jasa para pahlawan yang tidak boleh dilupakan oleh generasi penerus.
Diplomasi ‘Finger Heart’: Presiden Prabowo Siap Boyong Lebih Banyak Konser K-Pop ke Indonesia
Dalam keterangannya kepada tim TotoNews, Jenderal Sigit menekankan bahwa ziarah ini adalah tradisi penting yang harus terus dijaga. “Rangkaian kegiatan ziarah yang kami laksanakan merupakan bagian dari tradisi memasuki Hari Bhayangkara ke-80. Tadi pagi kami telah berziarah ke makam almarhum Presiden Gus Dur, dan alhamdulillah sekarang kami berada di makam Sang Proklamator, Bung Karno,” ujar Kapolri dengan nada bicara yang tenang namun penuh penegasan.
Beliau juga menambahkan bahwa kunjungan ini memiliki dimensi edukatif bagi internal Polri. Menurutnya, menggali nilai-nilai luhur dari para pemimpin bangsa sangat krusial bagi institusi yang memiliki amanah menjaga ketertiban umum. Polri, sebagai garda terdepan keamanan dalam negeri, merasa perlu untuk selalu berkaca pada sejarah bagaimana para pemimpin terdahulu mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Geger! Aksi Tawuran di Dekat Stasiun Klender Pecah Saat Jam Berangkat Kerja, Polisi Amankan Busur dan Petasan
Misi Menyerap Spiritualitas Para Tokoh Bangsa
Lebih jauh, Jenderal Sigit menjelaskan bahwa Polri memiliki tanggung jawab moral untuk mempertahankan warisan nilai yang telah diberikan oleh para mantan Presiden. Nilai-nilai seperti nasionalisme, kerakyatan, dan kemanusiaan yang selalu didengungkan oleh Bung Karno diharapkan dapat terinternalisasi dalam setiap sanubari anggota Polri. Hal ini relevan dengan tantangan zaman yang semakin kompleks, di mana integritas dan semangat pengabdian menjadi modal utama.
“Tentunya rangkaian kegiatan yang kami laksanakan kali ini merupakan upaya kami untuk bisa menyerap dan menggali nilai-nilai kepemimpinan. Ini sangat penting bagi institusi Kapolri dan jajarannya agar terus bisa mempertahankan apa yang telah diwariskan bagi bangsa ini,” sambung Sigit. Beliau meyakini bahwa dengan memahami sejarah secara mendalam, polisi tidak hanya bekerja secara teknis hukum, tetapi juga bekerja dengan hati demi kepentingan rakyat banyak.
Setelah menghabiskan waktu sekitar 40 menit di kompleks pemakaman, rombongan akhirnya mengakhiri kegiatan di Blitar sekitar pukul 13.10 WIB. Namun, perjalanan ziarah tokoh bangsa ini belum berakhir. Dari Blitar, Kapolri dijadwalkan akan melanjutkan perjalanan menuju makam Presiden RI ke-2, HM Soeharto, sebelum nantinya menutup rangkaian panjang ini di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.
Refleksi Hari Bhayangkara ke-80
Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 tahun ini memang terasa berbeda dengan adanya rangkaian ziarah yang komprehensif ke makam para pemimpin besar Indonesia dari berbagai latar belakang. Ini menunjukkan inklusivitas Polri dalam memandang sejarah bangsa. Selain ziarah, Polri juga diketahui menggelar berbagai kegiatan sosial seperti bakti sosial, pembangunan fasilitas air bersih, hingga ajang olahraga seperti Riau Bhayangkara Run yang melibatkan ribuan masyarakat.
Langkah Jenderal Sigit ini mendapat apresiasi dari berbagai kalangan sebagai upaya memperkuat soft power kepolisian di mata publik. Dengan menunjukkan rasa hormat kepada tokoh-tokoh yang dicintai rakyat, Polri membangun jembatan emosional yang kuat dengan masyarakat. Hal ini selaras dengan visi Polri Presisi (Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan) yang ingin terus didekatkan kepada akar rumput.
Sebagai penutup perjalanan di Blitar, Jenderal Sigit menyempatkan diri menyapa beberapa warga yang berada di sekitar lokasi. Kesederhanaan dan ketenangan yang ditunjukkan selama prosesi ziarah meninggalkan kesan mendalam bahwa kepemimpinan yang kuat selalu berakar pada penghormatan terhadap sejarah. Dari tanah Blitar, semangat Bung Karno kini dibawa kembali ke ibu kota untuk menginspirasi transformasi Polri yang lebih baik menuju satu abad Indonesia merdeka.
Kunjungan ke makam para tokoh ini menjadi pengingat bagi seluruh anggota polisi di pelosok negeri bahwa tugas mereka bukan sekadar menegakkan hukum, melainkan menjaga marwah dan warisan agung yang telah dititipkan oleh para pendiri bangsa. Hari Bhayangkara ke-80 menjadi momentum refleksi kolektif untuk kembali ke jati diri Polri sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai luhur Pancasila.