Safari Nusantara Jokowi: Antara Kerinduan Rakyat dan Polemik ‘Sinetron’ Politik di Mata PDIP-PSI

Rizky Ramadhan | Totonews
30 Mei 2026, 06:42 WIB
Safari Nusantara Jokowi: Antara Kerinduan Rakyat dan Polemik 'Sinetron' Politik di Mata PDIP-PSI

TotoNews — Dinamika politik tanah air kembali menghangat seiring dengan rencana Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), untuk kembali turun ke lapangan. Bukan lagi sebagai pemegang tongkat komando tertinggi negara, melainkan sebagai warga negara yang ingin memenuhi undangan silaturahmi dari berbagai pelosok negeri. Namun, langkah ini ternyata memicu riak-riak tajam di panggung politik, mempertemukan dua sudut pandang kontras antara PDI Perjuangan (PDIP) dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Kembalinya Sang ‘Maestro Blusukan’ ke Jalur Rakyat

Setelah sempat menepi sejenak dari hiruk-pikuk publik pasca-pensiun, Jokowi mengonfirmasi bahwa kondisinya kini telah pulih dan siap untuk kembali melakukan perjalanan lintas daerah. Di kediamannya yang asri di kawasan Sumber, Banjarsari, Solo, Jokowi mengungkapkan bahwa motivasi utamanya adalah memenuhi kerinduan masyarakat yang terus mengalir melalui surat dan undangan resmi.

Baca Juga

Eksplorasi Sudut Jakarta: Menelusuri Jejak Bahagia Warga di Tengah Riuh Libur Panjang Akhir Pekan

Eksplorasi Sudut Jakarta: Menelusuri Jejak Bahagia Warga di Tengah Riuh Libur Panjang Akhir Pekan

“Ya, ini kan saya banyak mendapatkan undangan-undangan dari daerah-daerah untuk hadir dari masyarakat. Sekarang saya sudah sehat, dan insyaallah saya akan datangi undangan-undangan yang ada,” ujar mantan Walikota Solo tersebut dengan nada bicara yang tenang namun penuh keyakinan. Bagi Jokowi, agenda ini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan upaya untuk memberikan dorongan moral dan motivasi kepada masyarakat yang pernah dipimpinnya selama satu dekade.

Meski banyak pihak berspekulasi bahwa safari ini merupakan langkah awal untuk memuluskan jalan politik Gibran Rakabuming Raka menuju kontestasi Pilpres 2029, Jokowi menepis hal tersebut dengan singkat. Fokus utamanya saat ini hanyalah menjaga tali silaturahmi yang telah terbangun lama. “Karena ada undangan dari daerah, ya kita datangi. Sesederhana itu,” tegasnya.

Baca Juga

Jerit Hati Ibrahim Arief, Eks Konsultan Kemendikbudristek yang Terjerat Kasus Chromebook: Saya Hanya Tumbal!

Jerit Hati Ibrahim Arief, Eks Konsultan Kemendikbudristek yang Terjerat Kasus Chromebook: Saya Hanya Tumbal!

Kritik Pedas PDIP: Antara Konten Medsos dan Drama Politik

Namun, di sisi lain, rencana ini disambut dengan skeptisisme tinggi oleh mantan partai naungannya. Politisi PDI Perjuangan, Guntur Romli, secara blak-blakan menyebut bahwa safari Jokowi tidak akan memberikan pengaruh signifikan terhadap peta kekuatan politik nasional, khususnya bagi PDIP. Dengan nada tajam, Guntur menyinggung status Jokowi yang menurutnya sudah bukan lagi bagian dari keluarga besar partai berlambang banteng moncong putih tersebut.

“Saya sangat yakin tidak ada pengaruh sama sekali. Publik perlu ingat bahwa Jokowi, termasuk Gibran dan Bobby, sudah dipecat dari PDI Perjuangan secara tidak terhormat. Masyarakat sudah sangat cerdas dan tahu persis alasannya,” ujar Guntur saat dikonfirmasi oleh tim redaksi kami. Ia bahkan memprediksi bahwa kunjungan-kunjungan tersebut tidak lebih dari sekadar aksi bagi-bagi sembako yang dibungkus dengan narasi dramatis untuk kebutuhan konten di media sosial.

Baca Juga

Langkah Strategis Kemensos dan BNN Banda Aceh: Memastikan Bantuan Eks Napza Tepat Sasaran dan Akuntabel

Langkah Strategis Kemensos dan BNN Banda Aceh: Memastikan Bantuan Eks Napza Tepat Sasaran dan Akuntabel

Guntur juga membawa data sejarah sebagai pembanding. Ia menyoroti kegagalan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) masuk ke parlemen pada pemilu lalu, padahal saat itu Jokowi masih menjabat sebagai Presiden aktif dengan tingkat kepercayaan publik yang tinggi. “Secara logika sederhana, saat masih jadi Presiden saja tidak mampu meloloskan PSI, apalagi sekarang saat sudah tidak menjabat apa-apa. Kami hanya akan menyaksikan drama sinetron ‘sen kiri belok kanan’ khas ala Jokowi,” tambahnya dengan nada menyindir.

PSI Pasang Badan: ‘Ada Kegelisahan yang Tak Terbendung’

Mendengar serangan tersebut, PSI tidak tinggal diam. Ketua DPP PSI, Bestari Barus, justru melihat komentar miring dari pihak PDIP sebagai bentuk kegelisahan yang nyata. Menurut Bestari, sangat aneh jika sebuah rencana silaturahmi mantan Presiden justru ditanggapi dengan sinisme yang begitu dalam. Ia menilai PDIP sedang mengalami ‘post-power syndrome’ secara institusional setelah tidak lagi memiliki kendali atas figur Jokowi.

Baca Juga

Skandal Besar Kuota Haji: Main Mata Maktour dan Kesthuri yang Berujung di Jeruji Besi KPK

Skandal Besar Kuota Haji: Main Mata Maktour dan Kesthuri yang Berujung di Jeruji Besi KPK

“Nampaknya sejak kenikmatan-kenikmatan bagi partainya dicabut oleh Pak Jokowi, pendapat mereka selalu miring. Kenapa harus khawatir? Pak Jokowi itu Presiden ke-7 yang dicintai rakyat karena kebiasaan blusukannya. Ada kerinduan tulus dari masyarakat yang ingin menyapa langsung sosok yang kebijakannya pernah mereka rasakan manfaatnya di lapangan,” papar Bestari panjang lebar.

Lebih jauh, Bestari melihat momentum safari nasional ini sebagai peluang emas bagi PSI untuk mempertegas posisi Jokowi di mata publik. Ia berharap dalam setiap kunjungannya, Jokowi secara implisit maupun eksplisit menunjukkan kedekatannya dengan PSI. Hal ini diharapkan mampu menarik ‘silent voters’ atau pendukung setia Jokowi untuk bermigrasi dukungan ke partai berlambang mawar tersebut.

Menakar Pengaruh ‘Jokowi Effect’ di Luar Jabatan Resmi

Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: Seberapa kuatkah pengaruh seorang mantan Presiden dalam mengubah arah politik masa depan? Secara historis, tokoh-tokoh besar di Indonesia tetap memiliki basis massa tradisional yang militan. Bagi para pendukungnya, Jokowi bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan representasi dari gaya kepemimpinan yang merakyat dan inklusif.

Namun, bagi para kritikus, langkah Jokowi berkeliling Indonesia dipandang sebagai upaya untuk tetap relevan dan menjaga ‘legacy’ agar tidak cepat luntur oleh pergantian rezim. Perseteruan antara narasi ‘kerinduan rakyat’ versi PSI dan ‘drama sinetron’ versi PDIP mencerminkan betapa terbelahnya persepsi terhadap sosok pria asal Solo tersebut.

Perjalanan safari ini diprediksi akan menjadi panggung uji coba untuk melihat apakah aura kekuasaan Jokowi masih efektif menggerakkan massa ataukah pengaruhnya akan meredup seiring waktu berjalan. Satu hal yang pasti, meski sudah tidak lagi di istana, setiap langkah kaki Jokowi tetap menjadi magnet perhatian dan pemantik diskusi hangat di warung kopi hingga ruang-ruang rapat elit politik di Jakarta.

Kesimpulan: Babak Baru Politik Pasca-Kepresidenan

Pertarungan komentar antara Guntur Romli dan Bestari Barus hanyalah permukaan dari dinamika yang lebih dalam. Di baliknya, terdapat perebutan pengaruh atas pemilih setia yang selama sepuluh tahun terakhir berada di belakang Jokowi. Apakah safari ini akan memperkuat posisi PSI di masa depan, atau justru membuktikan klaim PDIP bahwa pengaruh Jokowi sudah usai? Waktu yang akan menjawabnya.

Bagi masyarakat awam, kehadiran sosok pemimpin atau mantan pemimpin di tengah-tengah mereka selalu memberikan warna tersendiri. Di luar kepentingan elite, hak setiap warga negara, termasuk mantan Presiden, untuk bepergian dan bertemu siapa pun tetap harus dihormati sebagai bagian dari demokrasi yang sehat. Kita hanya perlu menunggu, babak demi babak dari ‘safari nusantara’ ini akan segera dimulai.

Rizky Ramadhan

Rizky Ramadhan

Mantan mekanik yang beralih menjadi jurnalis otomotif. Tulisannya dikenal tajam dalam mengulas performa mesin dan tren kendaraan masa depan di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *