Strategi Kertanegara: Prabowo Subianto dan Rosan Roeslani Perkuat Danantara untuk Revolusi Investasi Pariwisata

Rizky Ramadhan | Totonews
21 Jun 2026, 22:42 WIB
Strategi Kertanegara: Prabowo Subianto dan Rosan Roeslani Perkuat Danantara untuk Revolusi Investasi Pariwisata

TotoNews — Suasana kediaman pribadi Presiden Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, tampak sibuk pada Minggu sore yang tenang, 21 Juni 2026. Pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di balik pintu kayu jati tersebut bukan sekadar koordinasi rutin, melainkan sebuah langkah strategis untuk mematangkan peta jalan ekonomi Indonesia di bawah bendera Danantara. Presiden secara khusus memanggil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, untuk mendiskusikan percepatan transformasi ekonomi melalui instrumen investasi baru yang lebih progresif.

Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya tersebut, fokus pembicaraan tertuju pada optimalisasi aset negara. Prabowo menekankan bahwa kekayaan bangsa tidak boleh hanya diam, melainkan harus dikelola secara profesional untuk menghasilkan nilai tambah yang signifikan bagi kesejahteraan rakyat. Melalui Danantara, pemerintah berupaya menciptakan kendaraan investasi yang setara dengan lembaga pengelola dana abadi global lainnya.

Baca Juga

Tragedi Maut di Pademangan: Pemotor Tewas Tergilas Truk Trailer di Jalan RE Martadinata

Tragedi Maut di Pademangan: Pemotor Tewas Tergilas Truk Trailer di Jalan RE Martadinata

Visi Besar di Balik Pembentukan Danantara

Kehadiran Rosan Roeslani di Kertanegara membawa misi khusus mengenai masa depan investasi dan hilirisasi di Indonesia. Danantara, yang kini menjadi ujung tombak pengelolaan aset strategis, diproyeksikan untuk menjadi katalisator pertumbuhan yang tidak lagi bergantung pada sektor tradisional semata. Dalam diskusi tersebut, Presiden Prabowo menginstruksikan agar Danantara mampu bergerak lincah dalam menangkap peluang pasar global tanpa melupakan kepentingan domestik.

Seskab Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa pertemuan tersebut secara mendalam membahas peluang-peluang pertumbuhan ekonomi baru. Indonesia tidak lagi ingin hanya menjadi penonton dalam kancah ekonomi internasional. Dengan mengonsolidasikan kekuatan finansial dan aset negara di bawah satu atap, pemerintah berharap dapat memberikan daya tawar yang lebih kuat saat berhadapan dengan investor asing.

Baca Juga

Maut di Balik Teralis Besi: Tragedi Kebakaran Jakarta Barat yang Merenggut Nyawa Satu Keluarga

Maut di Balik Teralis Besi: Tragedi Kebakaran Jakarta Barat yang Merenggut Nyawa Satu Keluarga

Revolusi Pariwisata: Mengubah Hiburan Menjadi Mesin Devisa

Salah satu poin paling menarik dalam pembahasan di Kertanegara adalah transformasi sektor pariwisata. Pemerintah menyadari bahwa gaya tarik wisata alam saja tidak cukup untuk memenangkan persaingan di Asia Tenggara. Oleh karena itu, melalui strategi yang digodok bersama Rosan, sektor pariwisata akan diarahkan pada pengembangan industri kreatif dan penyelenggaraan acara berskala internasional.

“Peluang pertumbuhan ekonomi baru yang dapat didorong oleh Danantara mencakup penguatan sektor pariwisata melalui penyelenggaraan event olahraga, konser musik dunia, hingga pengembangan industri kreatif,” ujar Teddy. Langkah ini diambil karena efek pengganda (multiplier effect) yang dihasilkan sangat besar, mulai dari okupansi hotel, penyerapan tenaga kerja lokal, hingga penguatan UMKM di sekitar lokasi acara.

Baca Juga

Polda Banten Bongkar Sindikat Tambang Ilegal di Kawasan Hutan Lebak: Tujuh Perkara Kini Masuk Meja Hijau

Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa konser musik dari musisi papan atas dunia dan ajang balap internasional mampu mendatangkan ribuan turis mancanegara dalam waktu singkat. Prabowo ingin momentum ini dijaga dan difasilitasi dengan infrastruktur serta regulasi yang lebih ramah terhadap penyelenggara acara internasional, sehingga perputaran uang tetap berada di dalam negeri.

Konsolidasi BUMN: Mengakhiri Era Inefisiensi

Selain membicarakan investasi baru, agenda besar lainnya adalah pembersihan dan perampingan struktur Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Selama ini, jumlah entitas BUMN yang terlalu gemuk seringkali dianggap menjadi beban bagi APBN dan kurang efisien dalam operasionalnya. Transformasi BUMN menjadi agenda wajib yang harus segera dituntaskan di bawah komando manajemen yang baru.

Baca Juga

Ekspansi Ekosistem Halal: Kemenpar Beri Jempol untuk BPJPH yang Sukses Fasilitasi 31 Ribu Sertifikat di Desa Wisata

Ekspansi Ekosistem Halal: Kemenpar Beri Jempol untuk BPJPH yang Sukses Fasilitasi 31 Ribu Sertifikat di Desa Wisata

Berdasarkan data yang disampaikan dalam pertemuan tersebut, saat ini tercatat ada sekitar 1.077 entitas BUMN di seluruh Indonesia. Dari jumlah yang masif tersebut, sebanyak 258 entitas telah berhasil dikonsolidasikan. Namun, angka ini masih jauh dari target final. Presiden Prabowo meminta agar proses ini dipercepat dengan target jangka pendek mencakup 300 entitas lainnya.

Tujuan utamanya jelas: mengurangi beban biaya yang ditanggung negara akibat anak atau cucu perusahaan yang tidak produktif atau memiliki fungsi yang tumpang tindih. Dengan organisasi yang lebih ramping, BUMN diharapkan bisa lebih fokus pada fungsi layanan publik sekaligus menjadi mesin pencetak laba yang sehat untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional.

Membangun Kepercayaan Investor Melalui Transparansi

Langkah Rosan Roeslani dalam memimpin Danantara juga berkaitan erat dengan upaya membangun citra positif di mata dunia. Konsolidasi aset bukan hanya soal angka, tetapi juga soal tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). Dengan manajemen yang transparan dan akuntabel, para investor global akan lebih merasa aman untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Pertemuan di Kertanegara ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran sangat serius dalam membenahi fundamental ekonomi. Hilirisasi yang selama ini berfokus pada sektor pertambangan, kini mulai merambah ke sektor-sektor jasa dan kreatif melalui dukungan pendanaan dari Danantara. Hal ini merupakan bagian dari visi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.

Dampak Terhadap Lapangan Kerja dan Ekonomi Rakyat

Di balik istilah-istilah teknis seperti konsolidasi entitas dan pengelolaan aset, ada target nyata yang ingin dicapai, yaitu penciptaan lapangan kerja. Sektor ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis event dikenal sebagai sektor yang sangat padat karya. Dengan menarik lebih banyak investasi di bidang ini, diharapkan angka pengangguran dapat ditekan secara signifikan.

Presiden Prabowo berulang kali menekankan bahwa setiap kebijakan investasi harus berujung pada manfaat bagi rakyat kecil. Penguatan Danantara diharapkan tidak hanya memperkaya negara di atas kertas, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat melalui stabilitas harga, ketersediaan lapangan kerja, dan peningkatan daya beli.

Kesimpulan: Menatap Masa Depan Ekonomi Indonesia

Diskusi panjang di Kertanegara hari itu menegaskan kembali bahwa arah kebijakan ekonomi Indonesia saat ini adalah menuju efisiensi dan modernisasi. Dengan Rosan Roeslani yang memegang kendali atas investasi dan Danantara, sinergi antara kebijakan pemerintah dan dinamika pasar diharapkan dapat berjalan lebih harmonis.

Perjalanan menuju transformasi penuh memang masih panjang dan penuh tantangan. Namun, dengan langkah konkret seperti konsolidasi BUMN dan diversifikasi sektor pariwisata, Indonesia sedang meletakkan batu pertama untuk menjadi kekuatan ekonomi baru di kancah global. Publik kini menanti hasil nyata dari strategi besar yang dirancang di kediaman Prabowo Subianto tersebut dalam beberapa tahun mendatang.

Rizky Ramadhan

Rizky Ramadhan

Mantan mekanik yang beralih menjadi jurnalis otomotif. Tulisannya dikenal tajam dalam mengulas performa mesin dan tren kendaraan masa depan di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *