Tragedi Sejarah di Medan: Rumah Adat Monumen Sisingamangaraja XII Ludes Terbakar, Saksi Sebut Ada Sosok Misterius
TotoNews — Langit cerah di kawasan Jalan Sisingamangaraja, Medan, mendadak berubah menjadi kelabu pada Senin siang yang nahas. Sebuah simbol warisan budaya yang begitu dihormati, yakni rumah adat yang berdiri kokoh di area Monumen Tugu Nasional Sisingamangaraja XII, kini hanya menyisakan abu dan kenangan pahit setelah dilahap si jago merah. Peristiwa yang terjadi pada Senin (22/6/2026) ini menyisakan duka mendalam bagi warga Kota Medan, mengingat nilai historis yang melekat pada bangunan tersebut.
Kobaran api yang begitu cepat menjalar menghanguskan struktur kayu dan atap khas rumah adat Batak tersebut. Masyarakat sekitar yang sedang beraktivitas dikejutkan dengan kepulan asap hitam yang membumbung tinggi dari arah monumen. Meskipun upaya pemadaman dilakukan dengan segera, material bangunan yang didominasi bahan organik yang mudah terbakar membuat api sulit untuk dikendalikan dalam waktu singkat.
Tragedi Kemanusiaan di Laut: Dunia Mengutuk Perlakuan Barbar Israel Terhadap Aktivis Global Sumud Flotilla
Kronologi Awal Si Jago Merah Mengamuk
Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh tim TotoNews di lapangan, api pertama kali terdeteksi sekitar pukul 13.30 WIB. Suasana yang semula tenang di Kelurahan Teladan Barat seketika berubah menjadi kepanikan. Kepala Lingkungan III, Zulkifli Nasution, yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian, memberikan kesaksian bahwa api muncul dari bagian pendopo rumah adat.
“Awalnya saya melihat ada percikan api yang masih relatif kecil di area pendopo. Namun, karena cuaca sedang panas dan bahan bangunan rumah adat ini memang sangat mudah terbakar, api dengan sangat cepat membesar dan merembet ke bagian lain,” ujar Zulkifli saat memberikan keterangan kepada media. Kecepatan api merambat memang menjadi tantangan utama dalam peristiwa kebakaran ini, sehingga dalam hitungan menit, bagian atas bangunan sudah tertutup api sepenuhnya.
Tragedi Gas Beracun di Perkemahan Posong: Menguak Misteri Kematian Sekeluarga Asal Ambarawa
Kesaksian Warga dan Misteri Remaja Berbaju Hijau
Di balik musibah ini, terselip sebuah cerita yang memicu kecurigaan terkait penyebab kebakaran. Beberapa saksi mata di lokasi kejadian memberikan keterangan yang cukup mengejutkan. Sebelum api berkobar, terlihat aktivitas yang tidak biasa di atas pendopo rumah adat tersebut. Ada dugaan bahwa kebakaran ini bukan sekadar kecelakaan murni akibat korsleting listrik atau faktor alam lainnya.
Zulkifli menuturkan bahwa seorang juru parkir di sekitar lokasi sempat melihat beberapa remaja yang sedang berada di area terlarang bangunan. “Ada informasi dari warga bahwa sempat terlihat anak-anak tanggung atau remaja di atas pendopo. Mereka terdengar sedang mengetok-ngetok sesuatu, entah apa yang mereka kerjakan di sana,” ungkapnya. Yang menarik perhatian adalah laporan bahwa setelah ditegur oleh juru parkir, remaja tersebut langsung melarikan diri dari lokasi dengan mengenakan baju berwarna hijau.
KPK Hibahkan Aset Mewah Rp 3,52 Miliar ke Lemhannas: Dari Hasil Korupsi Menjadi Manfaat Negara
Informasi mengenai keberadaan remaja ini kini menjadi salah satu poin penting dalam penyelidikan pihak kepolisian. Masyarakat berharap pihak berwenang dapat segera mengidentifikasi oknum tersebut untuk memastikan apakah ada unsur kesengajaan atau kelalaian yang menyebabkan hilangnya salah satu landmark kota Medan ini.
Respons Cepat Petugas dan Upaya Pemadaman
Lokasi Monumen Sisingamangaraja XII yang berada tepat di depan kantor Polsek Medan Kota memberikan keuntungan dalam hal respons awal. Petugas kepolisian yang menyadari adanya api langsung berhamburan keluar untuk mencoba memadamkan api dengan peralatan seadanya sembari menghubungi dinas pemadam kebakaran. Tindakan preventif dilakukan untuk memastikan api tidak merembet ke bangunan lain di sekitarnya.
Niat Baik Berujung Petaka: Anggota TNI AD Dikeroyok di Stasiun Depok Baru Usai Tegur Ibu yang Kasar ke Anak
Tak lama berselang, dua unit mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi kejadian. Petugas Damkar berjibaku dengan panasnya api untuk menjinakkan si jago merah. Meskipun kobaran api berhasil dipadamkan sepenuhnya, namun kerusakan pada struktur utama pendopo rumah adat tersebut sudah tidak dapat terhindarkan lagi. Bagian atap dan tiang-tiang kayu khas arsitektur Batak ludes menjadi arang.
Kanit Reskrim Polsek Medan Kota, Iptu Poltak Tambunan, menyatakan bahwa pihaknya saat ini sedang melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) secara mendalam. “Kami sedang mengumpulkan keterangan dari para saksi dan mengamankan barang bukti di lokasi. Penyebab pasti kebakaran masih dalam tahap penyelidikan intensif,” tegasnya.
Menilik Nilai Sejarah Monumen Sisingamangaraja XII
Kehilangan bangunan ini bukan sekadar kehilangan materi, melainkan kehilangan potongan sejarah yang sangat berharga. Monumen Tugu Nasional Sisingamangaraja XII didirikan pada tahun 1979 sebagai bentuk penghormatan kepada pahlawan nasional asal Tanah Batak yang gigih melawan penjajahan Belanda. Sisingamangaraja XII dikenal sebagai sosok pemimpin religius dan militer yang tak kenal menyerah hingga titik darah penghabisan.
Peresmian monumen ini dilakukan secara resmi oleh Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, pada tahun 1992. Sejak saat itu, monumen ini menjadi salah satu ikon pariwisata dan edukasi sejarah di Kota Medan. Keberadaan rumah adat di dalam kompleks monumen tersebut bertujuan untuk memperkenalkan kekayaan arsitektur tradisional Batak kepada generasi muda dan wisatawan mancanegara.
“Sangat menyedihkan melihat tempat bersejarah ini terbakar. Monumen ini adalah pengingat akan perjuangan leluhur kita. Rumah adat itu adalah simbol dari identitas budaya yang harusnya kita jaga bersama,” ujar salah satu warga yang sering mengunjungi taman di area monumen tersebut.
Pentingnya Pelestarian Cagar Budaya dari Risiko Kebakaran
Insiden ini menjadi alarm keras bagi pemerintah kota dan instansi terkait mengenai pentingnya sistem proteksi kebakaran pada bangunan-bangunan bersejarah. Bangunan tradisional yang mayoritas berbahan kayu memang memiliki risiko kebakaran yang sangat tinggi, apalagi jika sistem kelistrikan tidak rutin diperiksa atau jika pengawasan di area publik masih minim.
Ke depannya, publik berharap adanya langkah restorasi yang cepat dari Pemerintah Kota Medan untuk membangun kembali rumah adat tersebut sesuai dengan bentuk aslinya. Selain itu, peningkatan pengamanan di sekitar cagar budaya perlu dilakukan agar kejadian serupa yang melibatkan oknum tidak bertanggung jawab tidak terulang kembali.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa menjaga warisan budaya adalah tanggung jawab kolektif. Tanpa pengawasan dan rasa memiliki dari masyarakat, simbol-simbol sejarah kita akan mudah sirna dimakan waktu, atau dalam kasus ini, habis dalam hitungan jam oleh kobaran api. Mari kita tunggu hasil penyelidikan lebih lanjut dari pihak kepolisian untuk mengungkap kebenaran di balik tragedi ini.