Mentan Amran Sulaiman Ungkap Kejanggalan Tata Niaga Gula: Impor Melimpah, Produksi Lokal Justru Tak Terserap
TotoNews — Sektor pangan Indonesia tengah berada dalam sorotan tajam setelah Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengungkap sebuah anomali besar yang mencekik tata niaga gula nasional. Di tengah arus impor gula yang terus mengalir deras, ironisnya, stok gula hasil produksi petani lokal justru menemui jalan buntu dan sulit terserap oleh pasar domestik.
Berbicara di hadapan DPR RI, Jakarta Pusat, pada Rabu (8/4/2026), Amran Sulaiman tidak dapat menyembunyikan keheranannya terhadap situasi pasar yang tidak masuk akal ini. Ia menyoroti bagaimana komoditas pendukung seperti molase atau tetes tebu pun mengalami kejatuhan harga yang sangat drastis, dari Rp 1.900 per liter menjadi hanya Rp 1.000 per liter pada Maret 2026.
Langkah Strategis Pemerintah Amankan Devisa: Revisi Aturan DHE SDA di Bank BUMN Segera Rampung
Skandal Rembesan Gula Rafinasi ke Pasar Konsumsi
Penyelidikan mendalam yang dilakukan Kementerian Pertanian mengungkap adanya praktik penyimpangan distribusi yang sistematis. Amran membeberkan bahwa gula rafinasi—yang seharusnya hanya diperuntukkan bagi kebutuhan industri—ditemukan bocor dan merembes ke pasar konsumsi rumah tangga sebagai gula putih (white sugar).
“Kami menemukan rembesan ini di berbagai titik krusial, mulai dari Jawa Tengah hingga Kalimantan Selatan. Gula rafinasi dikategorikan secara ilegal sebagai gula konsumsi. Ini adalah praktik yang membahayakan stabilitas harga dan merugikan petani tebu kita secara langsung,” tegas Amran dengan nada serius. Dampak dari kekacauan tata niaga ini sangat nyata, di mana Sugar Co dilaporkan mengalami kerugian fantastis mencapai Rp 680 miliar.
Operasional KRL Bekasi-Cikarang Pulih, Menhub Dudy Purwagandhi Tinjau Langsung Jalur Pasca-Insiden
Langkah Tegas Presiden Prabowo: Kebijakan Lartas
Merespons situasi darurat ini, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan langkah konkret melalui penerapan kebijakan Larangan dan Pembatasan (Lartas). Kebijakan ini dirancang untuk menyumbat celah penyimpangan distribusi dan memberikan perlindungan kepada industri gula dalam negeri. Menurut Amran, keterlibatan BUMN dalam pengawasan distribusi menjadi kunci agar sistem pengendalian berjalan lebih efektif dari hulu ke hilir.
Revitalisasi Hulu: Program Bongkar Ratun Rp 1,7 Triliun
Selain persoalan distribusi di sektor hilir, pemerintah juga mengidentifikasi masalah fundamental di sektor hulu. Hasil evaluasi nasional menunjukkan bahwa sekitar 70% hingga 80% tanaman tebu di Indonesia sudah tidak dalam kondisi produktif karena faktor usia tanaman yang terlalu tua. Dari total 500 ribu hektare lahan tebu nasional, lebih dari 300 ribu hektare memerlukan peremajaan segera.
Diplomasi Energi di Kremlin: Misi Strategis Prabowo Amankan Pasokan BBM Murah dari Rusia
Sebagai solusi, pemerintah meluncurkan program subsidi “Bongkar Ratun” dengan komitmen anggaran yang masif. Beberapa poin utama dari strategi ini antara lain:
- Pengalokasian anggaran sebesar Rp 1,7 triliun yang dimulai sejak 2025 dan berlanjut di 2026.
- Target peremajaan lahan atau bongkar ratun seluas 100 ribu hektare per tahun.
- Penyelesaian revitalisasi lahan tebu secara menyeluruh dalam jangka waktu tiga tahun.
Optimisme Swasembada Gula Konsumsi
Meski menghadapi tantangan berat, Mentan Amran Sulaiman tetap optimis terhadap masa depan ketahanan pangan nasional. Saat ini, produksi gula nasional berada pada kisaran 2,6 hingga 2,7 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi berada di angka 2,8 hingga 2,9 juta ton.
Dengan defisit yang hanya berkisar antara 100 ribu hingga 200 ribu ton, pemerintah yakin bahwa Indonesia bisa segera mencapai swasembada gula konsumsi dalam waktu dekat. “Jika kita konsisten memperbaiki tanaman tebu selama tiga tahun berturut-turut, insya Allah swasembada gula putih bisa kita tuntaskan paling lambat tahun depan,” pungkasnya menutup paparan mengenai visi besar swasembada gula Indonesia.
Rahasia Staycation Mewah Tanpa Bikin Kantong Jebol di Trans Hotel Group: Simak Trik Hematnya!