Benteng Digital Bareskrim: Mengupas Strategi Canggih Polri Melawan Teror Deepfake dan Akal Imitasi
TotoNews — Di tengah lonjakan pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI) atau akal imitasi, lanskap keamanan digital di Indonesia menghadapi tantangan yang kian pelik. Menanggapi fenomena ini, Dittipidsiber Bareskrim Polri tidak tinggal diam. Korps Bhayangkara tersebut secara konsisten memperkuat strategi untuk membongkar sindikat kriminal yang memanfaatkan kecanggihan teknologi demi keuntungan ilegal.
Dalam sebuah diskusi publik bertajuk ‘Tantangan Hukum di Era Artificial Intelligence’ yang digelar oleh Divisi Humas Polri di Kemang, Jakarta Selatan, Kasubdit II Dittipidsiber Bareskrim Polri, Kombes Andrian Pramudianto, membedah secara mendalam peta jalan kepolisian dalam memburu para aktor di balik layar kejahatan siber. Setidaknya, ada empat pilar utama atau metode ‘follow’ yang menjadi landasan operasional mereka.
Tragedi Kereta Bekasi Timur: Update Kondisi Korban dan Babak Baru Penyidikan Kasus KA Argo Bromo
Empat Pilar Perburuan Siber
Strategi pertama adalah Follow the People. Menurut Kombes Andrian, penyidik berfokus pada pelacakan profil pelaku melalui berbagai metode digital profiling yang presisi. Kedua, Follow the Machine, di mana polisi menelusuri sarana dan prasarana teknologi yang digunakan pelaku. Untuk mendukung hal ini, Bareskrim memiliki laboratorium forensik di Subdit 3 Dittipidsiber yang menjadi satu-satunya laboratorium siber yang diakui secara resmi oleh Kominfo.
“Ketiga adalah Follow the Material. Kita harus bergerak cepat karena pergerakan aset hasil kejahatan di dunia digital sangat dinamis. Hanya dalam hitungan menit, uang hasil kejahatan bisa langsung dikonversi menjadi aset kripto,” ujar Andrian menekankan urgensi kecepatan dalam penanganan kasus.
Skandal Korupsi Dana CSR Rp 9,6 Miliar: Plt Kades Tamainusi Morowali Utara Resmi Jadi Tersangka
Terakhir, Follow the Technology. Bareskrim menyadari bahwa teknologi tidak mengenal batas negara. Oleh karena itu, kolaborasi internasional menjadi harga mati. Dittipidsiber aktif menjalin kerja sama dengan lembaga investigasi ternama dunia seperti Federal Bureau of Investigation (FBI) dari Amerika Serikat dan Australian Federal Police (AFP) untuk saling bertukar informasi dan teknologi.
Mengingat Kembali Skandal Deepfake Tokoh Negara
Salah satu pencapaian yang digarisbawahi oleh Andrian adalah keberhasilan timnya dalam membongkar kasus deepfake yang mencatut nama besar Presiden Prabowo Subianto dan mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani pada Januari 2025 lalu. Modus yang digunakan tergolong sangat rapi, yakni memanipulasi audio dan video pejabat negara seolah-olah menawarkan program bantuan pemerintah untuk menjaring korban.
Fadli Zon Pasang Badan, Sebut Seruan Saiful Mujani Jatuhkan Prabowo Sebagai Tindakan Inkonstitusional
“Berkat metode pelacakan yang sistematis, kami berhasil mengungkap perkara ini dalam waktu singkat. Para pelakunya sudah ditangkap dan saat ini sudah mendapatkan vonis dari pengadilan,” tegasnya. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa meski teknologi manipulasi wajah semakin halus, jejak digital tetap tidak bisa sepenuhnya dihapuskan.
Cara Mengenali Video Manipulasi AI
Agar masyarakat tidak mudah terjebak, Bareskrim juga membagikan tips praktis untuk mengidentifikasi konten deepfake. Andrian menjelaskan bahwa setidaknya ada beberapa anomali yang bisa diperhatikan secara kasat mata:
- Anomali Ekspresi: Perhatikan gerakan mulut dan kedipan mata yang seringkali terasa tidak alami atau kaku.
- Kualitas Visual dan Cahaya: Deepfake seringkali memiliki distorsi pada bayangan di wajah atau pencahayaan yang tidak konsisten dengan latar belakang.
- Distorsi Anatomi: Kadang terdapat keanehan pada bentuk telinga, tepian rambut, atau benda mati di sekitar wajah yang tampak buram.
- Indikator Audio: Suara hasil AI terkadang memiliki intonasi yang datar atau terdapat ‘glitch’ suara yang tidak sinkron dengan gerakan bibir.
Melalui kombinasi antara kecanggihan teknologi forensik dan kewaspadaan publik, Bareskrim Polri optimistis dapat menekan angka kriminalitas di ruang siber, sembari memastikan bahwa perkembangan teknologi tetap membawa kemaslahatan bagi masyarakat, bukan justru menjadi alat pemecah belah.
Ketegangan Memuncak di Timur Tengah: AS Siap Luncurkan Serangan Udara Masif ke Iran Pasca Ultimatum Trump