Trump Klaim Menang Diplomasi: Xi Jinping Janji Setop Pasokan Senjata ke Iran
TotoNews — Panggung politik internasional kembali diguncang oleh pernyataan berani Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam sebuah klaim terbaru yang menarik perhatian publik global, Trump menyatakan bahwa dirinya telah mengantongi komitmen dari Presiden China, Xi Jinping, untuk menghentikan total pengiriman persenjataan ke Iran. Langkah ini dianggap sebagai manuver diplomatik krusial di tengah memanasnya suhu geopolitik global.
Komitmen di Balik Layar Truth Social
Melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump mengungkapkan rasa optimisme yang tinggi menjelang pertemuan puncak yang dijadwalkan berlangsung di Beijing pada 14-15 Mei 2026 mendatang. Menurutnya, Xi Jinping telah memberikan jaminan yang cukup personal kepadanya.
“Mereka telah sepakat untuk tidak mengirim senjata ke Iran. Presiden Xi akan menyambut saya dengan pelukan hangat ketika saya tiba di Beijing dalam beberapa minggu ke depan,” tulis Trump, merujuk pada agenda diplomasi besar yang sempat tertunda tersebut.
Gus Kikin Serukan Perdamaian Global: Kunci Keamanan dan Kekhusyukan Haji 2026
Korespondensi Rahasia Dua Pemimpin Dunia
Dalam wawancara eksklusif dengan Fox Business, Trump membeberkan kronologi bagaimana kesepakatan informal ini terjalin. Ia mengaku sempat mencurigai adanya aliran pasokan militer dari Beijing ke Teheran yang terlihat di berbagai titik konflik. Menanggapi hal itu, Trump mengambil langkah persuasif dengan mengirimkan surat langsung kepada Xi Jinping.
“Saya mendengar bahwa China memberikan senjata kepada Iran—maksud saya, Anda bisa melihatnya di mana-mana. Dan saya menulis surat kepadanya meminta agar dia tidak melakukan itu. Dia kemudian membalas surat saya yang isinya pada dasarnya menjamin bahwa dia tidak akan melakukan hal tersebut lagi,” ungkap Trump dengan nada percaya diri.
Stok Obat Nasional Dijamin Aman 6 Bulan, BPOM Siapkan Jurus Jitu Hadapi Gejolak Harga Global
Ketegangan di Selat Hormuz dan Isu Keamanan Siber
Hubungan AS dan China memang sempat mengalami pasang surut yang ekstrem, terutama dipicu oleh dinamika di Timur Tengah. Sebelumnya, rencana pertemuan kedua pemimpin ini sempat tertunda lantaran keputusan Trump untuk meningkatkan eskalasi militer. China bahkan sempat mengecam tindakan AS yang memblokade pelabuhan Iran di Selat Hormuz sebagai perilaku yang “berbahaya dan tidak bertanggung jawab.”
Namun, Trump justru memutarbalikkan narasi tersebut. Ia menegaskan bahwa langkahnya membuka Selat Hormuz secara permanen adalah sebuah keuntungan besar, tidak hanya bagi dunia, tetapi juga bagi China sendiri. Sementara itu, ketika disinggung mengenai isu sensitif terkait dugaan serangan siber besar-besaran terhadap FBI yang melibatkan peretas dari China, Trump memberikan jawaban pragmatis yang mencerminkan realitas spionase modern.
Misi Kemanusiaan di Selat Hormuz: Donald Trump Kerahkan Kekuatan AS untuk Bebaskan Kapal yang Terblokir
“China tetaplah China. Tidak pernah ada kata mudah saat berurusan dengan mereka, tetapi kami berhasil menanganinya dengan baik. Kami melakukan (aksi siber) kepada mereka, dan mereka melakukannya kepada kami,” pungkas Trump, sembari menegaskan posisinya sebagai pemimpin AS yang paling keras dalam menghadapi pengaruh Negeri Tirai Bambu tersebut.
Pertemuan di Beijing mendatang diharapkan menjadi titik balik bagi stabilitas keamanan internasional, terutama dalam menekan ambisi militer Iran melalui diplomasi internasional yang lebih ketat.