Rupiah Terperosok ke Level Rp 17.300: Menilik Dilema Bank Indonesia di Tengah Badai Global

Siti Aminah | Totonews
24 Apr 2026, 06:42 WIB
Rupiah Terperosok ke Level Rp 17.300: Menilik Dilema Bank Indonesia di Tengah Badai Global

TotoNews — Awan mendung kian pekat menyelimuti nilai tukar rupiah dalam perjalanannya melawan kedigdayaan dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda kini terpaksa menyerah kalah dan harus mencicipi pahitnya level psikologis baru di angka Rp 17.300-an per dolar AS, sebuah posisi yang memicu alarm kewaspadaan bagi stabilitas ekonomi nasional.

Mengutip data Bloomberg pada Kamis (23/4/2025), pergerakan mata uang Paman Sam sempat melonjak tajam ke level Rp 17.310 pada pukul 09.35 WIB. Meski sempat terjadi sedikit koreksi yang membawa rupiah ke posisi Rp 17.286 di akhir perdagangan, tren pelemahan ini tetap menjadi sinyal serius bagi pasar keuangan domestik.

Tekanan Global dan Strategi Pertahanan BI

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa fenomena ini bukanlah masalah tunggal Indonesia. Ketidakpastian global yang kian eskalatif telah menyeret mata uang regional ke zona merah. “Pergerakan rupiah sejauh ini masih selaras dengan dinamika di kawasan, dengan depresiasi year-to-date tercatat sebesar 3,54%,” jelas Destry dalam pernyataan resminya.

Baca Juga

Optimisme Rosan Roeslani: Target Investasi Kuartal I-2026 Sebesar Rp 497 Triliun Berhasil Dicapai

Optimisme Rosan Roeslani: Target Investasi Kuartal I-2026 Sebesar Rp 497 Triliun Berhasil Dicapai

Menghadapi gempuran ini, BI menegaskan komitmennya untuk tidak membiarkan rupiah liar tanpa kendali. Otoritas moneter ini terus memperkuat “senjata” mereka melalui triple intervention di berbagai lini, mulai dari pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), hingga aksi beli SBN di pasar sekunder. Upaya ini dilakukan demi menjaga daya tarik aset domestik, terutama di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah yang mengganggu stabilitas investasi global.

Hingga akhir Maret 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat masih cukup tangguh di angka US$ 148,2 miliar. Angka ini menjadi bantalan krusial bagi BI untuk tetap hadir di pasar secara terukur dan konsisten.

Dilema Kebijakan: Antara Moneter dan Struktural

Namun, kebijakan moneter saja dinilai tidak cukup. Peneliti senior dari CSIS, Deni Friawan, melihat BI kini berada dalam posisi yang sulit atau “serba salah”. Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah kali ini berakar pada masalah struktural yang tidak bisa dibereskan hanya dengan menaikkan suku bunga atau melakukan intervensi pasar.

Baca Juga

Kemenperin Patahkan Narasi Deindustrialisasi: Sektor Manufaktur RI Masih Menjadi Tulang Punggung Ekonomi

Kemenperin Patahkan Narasi Deindustrialisasi: Sektor Manufaktur RI Masih Menjadi Tulang Punggung Ekonomi

“Instrumen BI itu terbatas. Jika terus melakukan intervensi langsung, cadangan devisa kita taruhannya. Di sisi lain, menaikkan suku bunga secara agresif justru berisiko mencekik pertumbuhan ekonomi dan memperparah situasi domestik,” ungkap Deni. Ia menekankan bahwa pasar saat ini tengah mengamati kesehatan fiskal Indonesia, terutama terkait besarnya beban subsidi BBM di tengah lonjakan harga minyak dunia dan tingginya angka utang negara.

Menanti Solusi Permanen dari Sektor Fiskal

Senada dengan hal tersebut, Rizal Taufikurahman dari INDEF menilai bahwa intervensi BI saat ini bersifat defensif alias sekadar menahan kejatuhan yang lebih dalam. Tanpa dukungan kebijakan fiskal yang berani dan penguatan sektor riil, upaya stabilisasi hanya akan terasa seperti berjalan di tempat.

Baca Juga

Reformasi Transparansi BEI: BREN dan DSSA Terancam Terdepak dari Barisan Indeks Elit

Reformasi Transparansi BEI: BREN dan DSSA Terancam Terdepak dari Barisan Indeks Elit

Beberapa poin krusial yang perlu segera dibenahi antara lain:

  • Implementasi DHE: Percepatan penarikan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dari sektor SDA untuk mempertebal suplai valas di dalam negeri.
  • Kredibilitas Fiskal: Menjaga kepercayaan pasar agar defisit anggaran tidak membengkak di tengah tekanan subsidi energi.
  • Kemandirian Energi: Mengurangi ketergantungan pada impor energi yang selama ini menjadi beban kronis bagi neraca pembayaran.

Ke depan, koordinasi antara otoritas moneter dan pemerintah menjadi kunci utama. Tanpa adanya sinkronisasi kebijakan yang solid, rupiah akan terus menjadi sandera sentimen global, dan intervensi yang dilakukan hanya akan menjadi obat penawar sementara bagi dolar AS yang terus menguat.

Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *