Ferrari Luce EV: Jejak Desainer iPhone di Balik Kontroversi ‘Wajah Baru’ Kuda Jingkrak

Bagus Setiawan | Totonews
31 Mei 2026, 10:41 WIB
Ferrari Luce EV: Jejak Desainer iPhone di Balik Kontroversi 'Wajah Baru' Kuda Jingkrak

TotoNews — Maranello, kota yang selama puluhan tahun menjadi kiblat bagi para pemuja kecepatan dan keindahan mesin pembakaran internal, kini sedang berada di tengah pusaran badai diskusi global. Pemicunya adalah Ferrari Luce EV, sebuah mahakarya bertenaga listrik murni pertama dari sang Kuda Jingkrak yang justru menuai reaksi tak terduga. Sejak kain penutupnya dibuka, Luce EV tidak hanya memamerkan kemajuan teknologi, tetapi juga memicu gelombang kritik yang mempertanyakan arah estetika masa depan Ferrari.

Bagi para purist, desain Luce EV dianggap terlalu radikal, bahkan ada yang menyebutnya ‘nyeleneh’ dan keluar dari garis pakem desain eksotis khas Italia. Namun, di balik perdebatan panas tersebut, terungkap fakta menarik mengenai siapa otak di balik visualisasi mobil seharga Rp 12 miliar ini. Ternyata, Ferrari tidak mengandalkan tim internal mereka sepenuhnya, melainkan menggandeng pihak ketiga yang memiliki reputasi mendunia di bidang estetika minimalis.

Baca Juga

Ekspansi Agresif BYD di Jepang: Penjualan Naik Dua Kali Lipat di Tengah Tantangan Subsidi

Ekspansi Agresif BYD di Jepang: Penjualan Naik Dua Kali Lipat di Tengah Tantangan Subsidi

Sentuhan Jony Ive dan Estetika ‘Apple’ di Jalur Cepat

Banyak yang bertanya-tanya mengapa tampilan Luce EV terasa begitu berbeda—begitu bersih, namun bagi sebagian orang, terasa asing. Jawabannya terletak pada keterlibatan LoveFrom, sebuah studio desain kreatif yang didirikan oleh sosok legendaris Jony Ive dan Marc Newson. Jika nama tersebut terdengar familiar, itu karena Jony Ive adalah sosok jenius yang bertanggung jawab atas bahasa desain produk revolusioner seperti iPhone, iPad, hingga Apple Watch.

Langkah Ferrari menggandeng LoveFrom merupakan sebuah anomali sekaligus ambisi untuk menyatukan dua dunia yang berbeda: teknologi konsumen kelas atas dan otomotif ultra-mewah. Hasil kolaborasi ini melahirkan konsep glass house yang super bersih, di mana transisi antara bodi dan kaca terasa nyaris tanpa celah. Namun, bagi para penggemar yang terbiasa dengan lekukan emosional Ferrari tradisional, sentuhan minimalis ini justru dianggap menghilangkan ‘jiwa’ dari sebuah supercar listrik.

Baca Juga

Panduan Lengkap Pelat Nomor Cantik 4 Angka: Daftar Pilihan, Prosedur Resmi, dan Rincian Biaya Terbaru

Panduan Lengkap Pelat Nomor Cantik 4 Angka: Daftar Pilihan, Prosedur Resmi, dan Rincian Biaya Terbaru

Detail Desain yang Mengguncang Tradisi Maranello

Luce EV hadir dengan sejumlah fitur eksterior yang belum pernah terlihat sebelumnya di lini produksi Ferrari mana pun. Salah satu yang paling mencolok adalah penggunaan sayap aerodinamis yang tampak ‘melayang’ di bagian depan dan belakang. Desain ini bukan sekadar pemanis, melainkan hasil perhitungan aerodinamika tingkat tinggi untuk memastikan efisiensi baterai dan stabilitas saat dipacu dalam kecepatan tinggi.

Selain itu, Ferrari Luce EV mengadopsi sistem pintu baris kedua dengan gaya suicide doors, sebuah fitur yang biasanya menjadi ciri khas kemewahan Rolls-Royce. Kehadiran pintu ini memberikan akses yang lebih luas ke kabin, namun di sisi lain, dianggap terlalu ‘sopan’ untuk sebuah mobil yang membawa emblem Kuda Jingkrak. Sektor kaki-kaki pun tak luput dari perhatian ekstrem; Luce menggunakan velg raksasa berukuran 23 inci di bagian depan dan 24 inci di belakang. Ini tercatat sebagai velg terbesar yang pernah dipasang secara resmi pada mobil jalan raya produksi Ferrari.

Baca Juga

Sinyal Kuat Kedatangan Yangwang: Mobil Super Mewah BYD Resmi Terdaftar di Indonesia, Intip Bocoran Harganya

Sinyal Kuat Kedatangan Yangwang: Mobil Super Mewah BYD Resmi Terdaftar di Indonesia, Intip Bocoran Harganya

Kritik Pedas dari Para ‘Penjaga Tradisi’ Italia

Reaksi negatif terhadap desain Luce EV tidak hanya datang dari netizen di media sosial, tetapi juga dari tokoh-tokoh berpengaruh di industri otomotif. Mantan bos Ferrari, Luca Di Montezemolo, dikabarkan menjadi salah satu pihak yang paling vokal memberikan kritik. Baginya, Ferrari adalah tentang emosi, raungan mesin yang buas, dan bentuk yang membangkitkan gairah—elemen-elemen yang menurutnya sulit ditemukan dalam Luce EV yang terlampau futuristik.

Tidak ketinggalan, Wakil Perdana Menteri Italia, Matteo Salvini, juga turut menyuarakan pendapatnya. Ia menilai bahwa peralihan ke mobil listrik dengan desain yang meninggalkan identitas nasional Italia berisiko melunturkan warisan budaya yang telah dibangun selama berdekade-dekade. Sentimen ‘design hate’ ini rupanya berdampak nyata secara finansial; sesaat setelah peluncuran resminya, saham Ferrari di bursa Milan dilaporkan sempat anjlok hingga 8 persen.

Baca Juga

Update Harga BBM Pertamina 1 Juni 2026: Kejutan Penurunan Harga Diesel Hingga Rp 3.000 per Liter

Update Harga BBM Pertamina 1 Juni 2026: Kejutan Penurunan Harga Diesel Hingga Rp 3.000 per Liter

Di Balik Estetika: Komitmen pada Nilai Jual Kembali

Meskipun desain eksteriornya dikerjakan oleh tim eksternal, Ferrari memastikan bahwa seluruh komponen teknis dan jeroan kendaraan ini tetap murni buatan sendiri (in-house). Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Ferrari menyadari bahwa tantangan terbesar mobil listrik adalah depresiasi nilai dan umur pakai baterai serta sistem elektronik.

Dengan memproduksi komponen secara mandiri, Ferrari menjamin bahwa Luce EV dapat terus diperbaiki dan diperbarui oleh pabrikan hingga puluhan tahun ke depan. Ini adalah strategi cerdas untuk melindungi investasi para kolektor dan menjaga nilai jual kembali kendaraan tetap tinggi, sebuah prinsip yang selalu dipegang teguh oleh merek ini. Informasi mengenai investasi otomotif ini menunjukkan bahwa Ferrari tetap fokus pada keberlanjutan merek, meski secara visual mereka sedang bereksperimen.

Masa Depan Ferrari di Era Elektrifikasi

Fenomena Ferrari Luce EV memberikan gambaran betapa sulitnya sebuah merek legendaris melakukan transisi ke era energi baru. Di satu sisi, mereka dituntut untuk terus berinovasi dan mengikuti regulasi global mengenai emisi. Di sisi lain, mereka terbebani oleh ekspektasi penggemar yang ingin tradisi tetap terjaga. Eksperimen bersama LoveFrom mungkin terasa pahit bagi sebagian orang saat ini, namun bisa jadi merupakan fondasi bagi bahasa desain masa depan yang belum bisa diterima secara luas sekarang.

Apakah desain ‘nyeleneh’ ini akan menjadi standar baru atau hanya sekadar anomali dalam sejarah panjang Ferrari? Hanya waktu yang bisa menjawab. Namun satu hal yang pasti, teknologi terbaru yang diusung Luce EV telah membuktikan bahwa Ferrari tidak takut untuk keluar dari zona nyaman, meski harus menghadapi badai kritikan dan fluktuasi pasar modal.

Bagi Anda yang ingin mengikuti perkembangan lebih lanjut mengenai dunia otomotif dan tren teknologi global, pastikan untuk terus memantau pembaruan terkini. Perjalanan Luce EV baru saja dimulai, dan pasar dunia akan terus menyoroti apakah sang Kuda Jingkrak mampu tetap berlari kencang tanpa suara mesin bensin yang selama ini menjadi detak jantungnya.

Bagus Setiawan

Bagus Setiawan

Jurnalis senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di industri media. Spesialis dalam mengupas isu kebijakan publik dan investigasi peristiwa di kanal Feed News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *