Kisah Inspiratif Pempek Rafi 81: Mengubah Kerinduan Menjadi Cuan Melalui Strategi Bazar ke Bazar

Siti Aminah | Totonews
22 Jun 2026, 00:41 WIB
Kisah Inspiratif Pempek Rafi 81: Mengubah Kerinduan Menjadi Cuan Melalui Strategi Bazar ke Bazar

TotoNews — Bagi para perantau, Jakarta sering kali terasa seperti rimba beton yang menuntut adaptasi cepat, terutama dalam hal selera lidah. Namun, bagi Nyayu Maryati, seorang perempuan asal Palembang yang menginjakkan kaki di ibu kota pada tahun 2010, kerinduan akan rasa otentik kampung halaman justru menjadi pintu gerbang menuju kemandirian ekonomi. Bermodalkan semangat dan resep keluarga, ia berhasil membangun jenama Pempek Rafi 81, sebuah bisnis UMKM yang kini namanya kian santer terdengar dari satu panggung pameran ke panggung pameran lainnya.

Titik Balik di Tengah Krisis Ekonomi Keluarga

Perjalanan Nyayu tidaklah bertabur bunga sejak awal. Kisah sukses ini lahir dari sebuah urgensi pada pertengahan tahun 2014. Saat itu, sang suami memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya, meninggalkan keluarga tanpa pendapatan tetap selama berbulan-bulan. Tabungan yang kian menipis memaksa Nyayu untuk memutar otak demi menyambung hidup di tengah kerasnya Jakarta.

Baca Juga

BGN Patok Target Ambisius: Seluruh Dapur Makan Bergizi Gratis Wajib Tersertifikasi Higiene pada Agustus

BGN Patok Target Ambisius: Seluruh Dapur Makan Bergizi Gratis Wajib Tersertifikasi Higiene pada Agustus

“Dalam rentang waktu Juli hingga Desember 2014, kami benar-benar tidak punya penghasilan. Akhirnya saya memberanikan diri bicara kepada suami, bagaimana jika kita mencoba peruntungan dengan usaha pempek saja?” kenang Nyayu saat ditemui tim TotoNews di area bazar Universitas Sahid, Jakarta Selatan.

Keputusannya bukan tanpa alasan. Nyayu sering kali merasa kecewa saat membeli pempek di Jakarta; pilihannya hanya dua, yakni harga murah dengan rasa yang jauh dari kata otentik, atau rasa yang enak namun dengan harga restoran yang tidak ramah di kantong. Ia melihat celah tersebut sebagai peluang untuk menghadirkan pempek asli Palembang kelas kaki lima dengan kualitas bintang lima.

Filosofi di Balik Nama Pempek Rafi 81

Dengan modal nekat sebesar Rp 2 juta, Nyayu menyewa sebuah kios sederhana. Nama “Pempek Rafi 81” dipilih bukan tanpa makna yang mendalam. Rafi diambil dari nama putra sulungnya yang berarti ‘meninggikan’ atau ‘derajat yang tinggi’. Sementara angka 81 merujuk pada tanggal dan bulan kelahiran suaminya, 8 Januari.

Baca Juga

Waspada Penipuan! TotoNews Ungkap Fakta di Balik Maraknya Lowongan Kerja Palsu Otorita IKN

Waspada Penipuan! TotoNews Ungkap Fakta di Balik Maraknya Lowongan Kerja Palsu Otorita IKN

“Secara numerologi, 8 dan 1 jika dijumlahkan menjadi 9, yang sering dianggap sebagai angka kesempurnaan. Harapannya, dengan angka 8 yang garisnya tidak terputus, rezeki kami juga akan terus mengalir tanpa henti,” tuturnya dengan binar mata penuh harap. Strategi ini menjadi fondasi awal branding yang ia usung hingga hari ini.

Transformasi Lewat Pendampingan Rumah BUMN BRI

Langkah Nyayu semakin mantap saat ia bergabung dengan Rumah BUMN BRI pada tahun 2018. Di sinilah ia mendapatkan ‘amunisi’ intelektual mulai dari pelatihan pembukuan, strategi pemasaran digital, hingga manajemen operasional. Para mentor di sana mendorong Nyayu untuk tidak meninggalkan akar keotentikan rasa Palembang meski pasar Jakarta memiliki preferensi yang berbeda.

Baca Juga

Pesta Diskon Transmart Full Day Sale: Perlengkapan Makan Cantik Mulai 12 Ribuan, Cek Strategi Belanja Hematnya!

Pesta Diskon Transmart Full Day Sale: Perlengkapan Makan Cantik Mulai 12 Ribuan, Cek Strategi Belanja Hematnya!

Nyayu mengakui bahwa konsumen Jakarta awalnya agak sensitif dengan aroma ikan yang terlalu tajam. Namun, melalui bimbingan Rumah BUMN BRI, ia belajar untuk melakukan segmentasi produk guna mengakomodasi berbagai kalangan tanpa harus mengorbankan kualitas bahan bakunya.

Strategi Tiga Lapis: Menjangkau Semua Kantong

Salah satu kunci sukses Pempek Rafi 81 adalah inovasi produk yang sangat adaptif. Nyayu tidak memaksakan satu jenis produk untuk semua orang, melainkan menciptakan tiga varian yang disesuaikan dengan daya beli masyarakat:

  • Varian Premium: Menggunakan Ikan Tenggiri asli dengan rasio daging ikan yang jauh lebih banyak daripada tepung (2:1). Varian ini ditujukan bagi para penikmat kuliner sejati.
  • Varian Harian: Menggunakan bahan dasar Ikan Kakap yang lebih terjangkau namun tetap lezat, menyasar masyarakat kelas menengah di lingkungan tempat tinggalnya.
  • Varian Ekonomis: Inovasi unik menggunakan udang rebon sebagai pengganti ikan, memberikan rasa gurih yang khas dengan harga yang sangat bersahabat, mirip dengan konsep pempek gerobakan.

“Saya harus tahu di mana saya berdiri. Jika saya ikut bazar UMKM kelas atas, saya bawa varian Tenggiri yang paling otentik. Jika di lingkungan rumah, saya sediakan yang lebih ekonomis,” jelasnya memaparkan strategi adaptasi pasarnya.

Baca Juga

Tagihan Listrik Mendadak Melejit? Simak Penjelasan Resmi PLN dan Cara Jitu Mengontrol Penggunaan Energi Anda

Tagihan Listrik Mendadak Melejit? Simak Penjelasan Resmi PLN dan Cara Jitu Mengontrol Penggunaan Energi Anda

Bertahan dari Pandemi dan Menjadi ‘Nomaden’ Sukses

Badai COVID-19 sempat memaksa Nyayu menutup gerai fisiknya. Namun, ilmu dari pelatihan digital marketing yang ia dapatkan membuatnya tidak lantas gulung tikar. Ia beralih total ke sistem Pre-Order (PO) online dan fokus mengikuti berbagai event pameran besar. Menariknya, strategi ‘nomaden’ ini justru mendatangkan omzet yang lebih fantastis dibandingkan saat memiliki toko permanen.

Dalam gelaran Indonesia Open yang berlangsung selama 6 hari saja, Nyayu berhasil mengantongi omzet di atas Rp 12 juta. Tidak hanya itu, saat merambah pasar kampus seperti di Binus University, ia mampu meraup Rp 6-7 juta hanya dalam waktu 3 hari. “Jika dalam sebulan ada empat kali bazar, minimal omzet saya mencapai Rp 20 juta. Bahkan kalau sedang padat jadwal, bisa menembus Rp 25 juta lebih,” ungkap Nyayu.

Digitalisasi Transaksi dengan QRIS BRI

Di era modern ini, Nyayu menyadari bahwa kecepatan dan kemudahan adalah kunci pelayanan. Ia kini sepenuhnya mengandalkan QRIS BRI untuk memfasilitasi transaksi non-tunai pelanggan. Baginya, teknologi ini adalah penyelamat dari keribetan menyediakan uang kembalian.

“Pakai QRIS itu sangat membantu. Pelanggan sekarang malas bawa uang tunai, dan bagi saya sebagai penjual, saya tidak perlu pusing cari recehan untuk kembalian. Semuanya masuk otomatis ke rekening,” jelasnya. Selain itu, fitur notifikasi real-time yang terhubung ke WhatsApp memudahkannya memantau arus kas di tengah kesibukan melayani pembeli di stan bazar.

Suara Konsumen: Rasa yang Berbicara

Keberhasilan Pempek Rafi 81 bukan sekadar klaim sepihak. Rian, seorang mahasiswa yang menjadi pelanggan setianya, memberikan testimoni jujur. “Awalnya cuma tertarik karena aroma cukonya yang kuat. Pas dicoba, beda banget sama pempek biasa. Rasa ikannya sangat dominan dan teksturnya padat, bukan cuma kenyal tepung saja,” akunya.

Kini, produk Nyayu tidak hanya terbatas pada pempek. Ia telah mengekspansi menu dengan menghadirkan tekwan, celimpungan, hingga pindang patin, yang semuanya diproduksi dengan standar kualitas yang tetap terjaga. Dengan kapasitas produksi mencapai 2.500 pcs pempek frozen per bulan, Nyayu Maryati membuktikan bahwa dengan semangat wirausaha yang tepat dan dukungan ekosistem perbankan yang kuat, usaha kecil pun bisa terbang tinggi melampaui ekspektasi.

Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *