Transformasi Inspiratif: Kisah Eks Terapis Spa yang Menjelma Jadi Ratu Jamu Berkat Sentuhan Digital

Siti Aminah | Totonews
27 Jun 2026, 00:42 WIB
Transformasi Inspiratif: Kisah Eks Terapis Spa yang Menjelma Jadi Ratu Jamu Berkat Sentuhan Digital

TotoNews — Di balik aroma segar kunyit dan hangatnya jahe yang menyerbak, terselip sebuah kisah ketangguhan seorang wanita bernama Nurhaeda. Siapa sangka, sosok di balik merek ‘Jamu Haeda’ yang kini mulai dikenal luas ini dulunya adalah seorang terapis spa mandiri. Namun, badai pandemi COVID-19 yang sempat melumpuhkan berbagai sektor usaha justru menjadi titik balik bagi wanita berusia 51 tahun ini untuk meramu ulang masa depannya.

Titik Balik dari Sentuhan Pijat ke Racikan Rempah

Langkah kaki Haeda tampak mantap saat menuruni tangga lantai dua Rumah BUMN BRI di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Di tangannya, sebuah termos es kecil berisi botol-botol kaca bening yang memperlihatkan warna-warna cerah alami: kuning pekat dari kunyit asam hingga cokelat hangat dari bir pletok. Sore itu, ia baru saja menyelesaikan kelas pelatihan rutin—sebuah ritual baru yang ia jalani demi meng-upgrade peluang usaha miliknya.

Baca Juga

Menguak Misteri Harga Keekonomian Pertalite Rp 18.040: Strategi Pemerintah di Balik Subsidi BBM

Menguak Misteri Harga Keekonomian Pertalite Rp 18.040: Strategi Pemerintah di Balik Subsidi BBM

Kepada tim redaksi TotoNews, Haeda mengenang kembali masa-masa sebelum ia dikenal sebagai peracik jamu. Selama bertahun-tahun, ia mengelola bisnis home spa di rumahnya yang terletak di Ciracas, Jakarta Timur. Saat itu, jamu hanyalah ‘pelengkap’ atau bonus yang ia berikan secara gratis kepada pelanggan setianya, terutama para calon pengantin yang baru saja menikmati layanan pijat dan lulur darinya.

“Dulu, jamu itu cuma suguhan. Setelah saya pijat dan lulur, pelanggan biasanya saya kasih minum jamu buatan sendiri supaya badan mereka terasa lebih segar dari dalam. Saya tidak pernah terpikir kalau suatu saat suguhan gratis ini malah jadi sumber penghasilan utama,” kenang Haeda dengan senyum ramah.

Baca Juga

Strategi Belanja Cerdas: Tangga Multifungsi Kini Dibanderol Murah di Transmart Full Day Sale

Strategi Belanja Cerdas: Tangga Multifungsi Kini Dibanderol Murah di Transmart Full Day Sale

Menjawab Tantangan di Tengah Zona Merah

Ketika pandemi menghantam pada tahun 2020, bisnis home spa milik Haeda terhenti total. Kebijakan pembatasan sosial membuat interaksi fisik—yang merupakan inti dari bisnis spa—menjadi sesuatu yang dilarang. Terlebih lagi, kawasan tempat tinggalnya di Kampung Rambutan sempat menyandang status zona merah. Omzetnya terjun bebas ke titik nol.

Namun, di tengah keputusasaan itu, sebuah peluang muncul dari arah yang tidak terduga. Para pelanggan lamanya, yang tersebar di lima RT di lingkungannya, justru menantang Haeda untuk memproduksi jamu secara komersial. Mereka percaya pada khasiat racikan Haeda untuk menjaga imunitas tubuh di tengah ancaman virus.

“Waktu itu semua orang takut tertular, dan mereka tahu saya biasa bikin jamu. Akhirnya mereka ‘menantang’ saya, ‘Bu Haeda, bikin dong jamu empon-empon atau bir pletok supaya imun kita kuat’. Dari tantangan itulah, saya memberanikan diri untuk mulai serius,” tuturnya. Dengan modal awal yang sangat minim, yakni hanya Rp 100 ribu, ia membeli bahan baku rempah di pasar lokal dan botol kemasan plastik sederhana.

Baca Juga

Tensi Global Memanas: AS Resmi Blokade Selat Hormuz, Trump Beri Peringatan Keras ke Iran

Tensi Global Memanas: AS Resmi Blokade Selat Hormuz, Trump Beri Peringatan Keras ke Iran

Strategi ‘Door-to-Door’ di Balik Pagar

Perjalanan awal UMKM lokal ini tidaklah mudah. Karena protokol kesehatan yang ketat, Haeda tidak bisa berjualan secara tatap muka. Ia pun memutar otak. Setiap hari, ia memproduksi puluhan botol jamu dan menjajakannya secara door-to-door dengan cara yang unik.

Ia meletakkan botol-botol jamu pesanan warga di atas pagar rumah atau di depan pintu, lalu memberi tahu pemesan lewat pesan singkat. Metode transaksi tanpa kontak ini menjadi kunci keberhasilannya bertahan di masa-masa sulit. Dari modal Rp 100 ribu, perlahan ia mampu memutar modalnya hingga menjadi Rp 300 ribu, dengan kapasitas produksi mencapai 50 botol berukuran 250 ml yang dijual seharga Rp 15 ribu per botol.

Baca Juga

Teka-teki Kepemilikan Terpusat WBSA: Baru Sebulan Melantai, OJK dan BEI Beri Peringatan Keras bagi Investor

Teka-teki Kepemilikan Terpusat WBSA: Baru Sebulan Melantai, OJK dan BEI Beri Peringatan Keras bagi Investor

Naik Kelas Bersama Rumah BUMN BRI

Seiring meredanya pandemi, Haeda menyadari bahwa ia tidak bisa terus-menerus mengandalkan penjualan konvensional. Ia merasa perlu membawa produknya ke level yang lebih tinggi. Pada tahun 2025, ia memutuskan untuk bergabung dengan Rumah BUMN BRI, sebuah wadah inkubasi yang dirancang untuk membantu para pelaku usaha agar bisa UMKM naik kelas.

Di sinilah cakrawala bisnis Haeda terbuka lebar. Ia tidak lagi sekadar ibu rumah tangga yang jualan jamu, tetapi mulai bertransformasi menjadi seorang pengusaha yang melek teknologi. Melalui serangkaian pelatihan, ia belajar banyak hal yang sebelumnya terasa asing, mulai dari manajemen keuangan, digital marketing, hingga penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk kebutuhan promosi.

“Dulu saya cuma tahu posting di status WhatsApp. Itu pun fotonya seadanya. Tapi setelah ikut pelatihan di Rumah BUMN BRI, saya jadi tahu kalau bahasa visual itu sangat penting. Bagaimana cara mengambil foto produk agar terlihat mewah, bagaimana membuat caption yang memikat, sampai cara mengelola akun Instagram secara profesional,” jelasnya dengan penuh semangat.

Kekuatan Visual dan Branding Digital

Transformasi digital yang dijalani Haeda membuahkan hasil nyata. Ia mengakui bahwa strategi brand selling di media sosial memberikan efek yang jauh lebih besar dibandingkan hanya sekadar membuka sistem pre-order di grup chat warga. Dengan kemasan yang lebih estetis dan narasi yang menarik, produknya mulai dilirik oleh pasar yang lebih luas di luar wilayah Ciracas.

“Nilai jualnya jadi berbeda. Dulu orang lihat jamu saya biasa saja, tapi sekarang dengan kemasan dan konten yang lebih rapi, orang jadi lebih percaya. Efeknya langsung terasa ke omzet penjualan saya,” tambah Haeda. Penggunaan digital marketing yang efektif terbukti menjadi katalisator bagi pertumbuhan bisnisnya.

Modernisasi Pembayaran dengan QRIS BRI

Tidak hanya dari sisi pemasaran, Haeda juga memodernisasi sistem operasionalnya. Salah satunya adalah dengan mengadopsi sistem pembayaran nontunai melalui QRIS BRI. Bagi Haeda, transparansi keuangan adalah kunci utama dalam mengelola bisnis agar tetap sehat.

“Pakai QRIS BRI itu memudahkan banget. Transaksinya transparan, tidak ada potongan biaya yang memberatkan, dan uangnya langsung masuk ke rekening dalam waktu singkat. Ini sangat membantu saya dalam memutar modal harian,” ujarnya. Selain itu, menjadi nasabah setia BRI juga membukakan pintu bagi Haeda untuk mengikuti berbagai bazar bergengsi secara gratis, seperti pameran di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta dan Stadion Persita Tangerang.

Capaian Fantastis: Omzet Melambung Tinggi

Hasil dari ketekunan dan kemauan untuk belajar itu kini mulai terlihat jelas pada angka-angka di laporan keuangannya. Dari modal operasional harian yang hanya berkisar di angka Rp 300 ribu, kini Haeda mampu mencatatkan omzet hingga Rp 6 juta per bulan. Sebuah lonjakan yang luar biasa bagi sebuah usaha yang berawal dari dapur rumah.

Keberhasilan ini tidak lantas membuat Haeda jemawa. Ia justru semakin rajin mengajak rekan-rekan sesama pelaku UMKM untuk tidak takut belajar dan memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah maupun lembaga perbankan seperti Rumah BUMN BRI.

“Sangat disayangkan kalau ada teman-teman UMKM yang tidak mau ikut pelatihan. Di luar sana, seminar seperti ini bayarnya mahal. Di sini, kita dikasih ilmu gratis, narasumbernya hebat-hebat, bahkan disediakan camilan juga. Semuanya kembali ke kemauan kita sendiri. Kalau kita mau maju, jalannya sudah dibuka lebar,” pungkasnya mengakhiri obrolan dengan TotoNews.

Kisah Nurhaeda adalah bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkembang. Dengan sentuhan inovasi produk dan keterbukaan terhadap teknologi, jamu tradisional yang kuno pun bisa tampil modern dan kompetitif di pasar digital yang kian dinamis.

Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *