Misteri 39 Kali Kebakaran di Sleman Terungkap: Jejak Gas Metana Purba di Balik Fenomena Alam Seyegan

Rizky Ramadhan | Totonews
31 Mei 2026, 02:41 WIB
Misteri 39 Kali Kebakaran di Sleman Terungkap: Jejak Gas Metana Purba di Balik Fenomena Alam Seyegan

TotoNews — Fenomena yang sempat menggemparkan warga Padukuhan Mriyan X, Kelurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, akhirnya menemukan titik terang secara ilmiah. Rentetan peristiwa kebakaran yang terjadi secara berulang hingga 39 kali di sebuah rumah warga tersebut bukan lagi menjadi misteri yang diselimuti kabut mistis, melainkan sebuah fenomena geologi yang nyata. Tim ahli dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta secara resmi turun tangan untuk membedah penyebab di balik munculnya api yang seolah-olah menyerang secara acak tersebut.

Kasus yang menimpa kediaman milik Bapak Agus ini memang tergolong luar biasa. Bagaimana tidak, api dilaporkan muncul di berbagai sudut rumah tanpa pemicu yang jelas, seperti korsleting listrik maupun kompor gas. Ketakutan warga sempat memuncak, bahkan memicu berbagai spekulasi di tengah masyarakat mengenai adanya kekuatan supranatural. Namun, bagi para akademisi, setiap fenomena alam pasti meninggalkan jejak yang bisa dijelaskan. Investigasi geologi pun dilakukan secara mendalam untuk memetakan kondisi bawah permukaan tanah di wilayah tersebut.

Baca Juga

Malam Kelabu di Bogor: Rivalitas Tak Sehat Berujung Bentrok Berdarah Dua Kelompok Suporter di Jalan Sholis

Malam Kelabu di Bogor: Rivalitas Tak Sehat Berujung Bentrok Berdarah Dua Kelompok Suporter di Jalan Sholis

Analisis Tim Ahli UPN Jogja: Jejak Gas dari Masa Lalu

Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN Jogja, Basuki Rahmad, memimpin langsung tim penyelidik untuk menyisir lokasi kejadian. Berdasarkan observasi lapangan yang dilakukan, tim menemukan indikasi kuat bahwa penyebab utama dari kebakaran misterius tersebut adalah akumulasi gas metana (CH4). Gas ini diduga berasal dari lapisan tanah yang pada masa purba merupakan kawasan rawa-rawa.

“Kami menemukan adanya konsentrasi semburan gas yang terdeteksi di dalam rumah dan area sekitarnya. Setelah kami perluas area pencarian, indikasi terkuat mengarah pada sebuah lokasi di kawasan sungai yang berjarak sekitar 300 meter dari kediaman korban,” ungkap Basuki Rahmad. Penemuan ini menjadi kunci penting dalam memecahkan teka-teki yang selama ini menghantui warga Seyegan.

Baca Juga

Update Tarif Transjabodetabek Blok M-Bandara Soetta: Pramono Anung Segera Umumkan Harga Baru Pasca Evaluasi

Update Tarif Transjabodetabek Blok M-Bandara Soetta: Pramono Anung Segera Umumkan Harga Baru Pasca Evaluasi

Di lokasi yang dicurigai, tepatnya di bawah jembatan Jalan Nepen, tim menemukan singkapan batuan berwarna gelap yang tergenang air. Menariknya, dari genangan tersebut muncul gelembung-gelembung gas secara konsisten. Fenomena gelembung ini merupakan tanda visual yang jelas adanya pelepasan gas dari dalam bumi ke permukaan. Batuan gelap tersebut diidentifikasi sebagai batuan sedimen yang kaya akan material organik, tipikal dari formasi bekas rawa yang terkubur selama ribuan tahun.

Mekanisme Migrasi Gas Metana Melalui Retakan Geologi

Muncul pertanyaan besar: bagaimana gas yang berada di sungai bisa memicu kebakaran di sebuah rumah yang berjarak ratusan meter? Basuki menjelaskan bahwa gas metana memiliki sifat yang sangat ringan dan mudah bermigrasi melalui celah-celah sekecil apa pun. Dalam konteks kasus di Sleman ini, tim geologi menemukan adanya jalur retakan atau struktur patahan mikro yang mengarah tepat ke arah utara, menuju lokasi rumah warga.

Baca Juga

Mendes Yandri Susanto Pacu Potensi Ekonomi Luwuk Utara Lewat Pengembangan Desa Tematik Buah Naga

Mendes Yandri Susanto Pacu Potensi Ekonomi Luwuk Utara Lewat Pengembangan Desa Tematik Buah Naga

“Kami mendapati indikasi adanya jalur patahan atau retakan-retakan di bawah permukaan. Jalur ini berfungsi layaknya pipa alami yang mengalirkan gas dari sumbernya di sungai menuju pemukiman. Migrasi gas ini secara kebetulan ‘nyasar’ ke bawah lantai rumah Pak Agus,” jelas Basuki. Struktur geologi Sleman yang kompleks memang memungkinkan terjadinya fenomena migrasi gas semacam ini, terutama di wilayah yang memiliki sejarah sedimentasi rawa.

Meskipun tekanan gas yang ditemukan relatif lemah, akumulasi gas di ruang tertutup atau di bawah ubin lantai dapat mencapai konsentrasi yang cukup untuk tersulut api. Hal inilah yang menjelaskan mengapa api bisa muncul secara tiba-tiba di berbagai titik di dalam rumah. Oksigen yang cukup dan adanya pemicu panas sekecil apa pun di permukaan lantai bisa mengakibatkan gas metana yang terjebak tersebut terbakar secara spontan atau semi-spontan.

Baca Juga

Gagal Beraksi di Toko Beras Tasikmalaya, Wanita Ini Malah Nekat Lepas Celana Saat Terdesak

Gagal Beraksi di Toko Beras Tasikmalaya, Wanita Ini Malah Nekat Lepas Celana Saat Terdesak

Mengapa Begitu Banyak Api Muncul Sekaligus?

Jumlah 39 kali kebakaran dalam waktu singkat tentu memicu tanda tanya mengenai volume gas yang tersimpan. Namun, menurut analisis awal, gas metana rawa atau yang sering disebut sebagai ‘swamp gas’ biasanya bersifat kantong-kantong kecil. Tekanannya tidak setinggi gas bumi yang dieksploitasi untuk industri, namun cukup konstan untuk menciptakan gangguan pada hunian manusia. Gas metana ini terbentuk dari dekomposisi bahan organik seperti tumbuhan dan sisa hewan purba yang terperangkap dalam kondisi tanpa oksigen (anaerobik) di dasar rawa.

Basuki Rahmad menegaskan bahwa meskipun terlihat menakutkan, kondisi saat ini sudah mulai stabil. “Indikasi pertama, karena ini masih investigasi awal, menunjukkan bahwa tekanan gas ini cenderung menurun. Namun, kita tidak boleh lengah karena migrasi gas sangat dipengaruhi oleh perubahan tekanan udara dan kondisi geologi di bawah tanah,” tambahnya. Hilangnya semburan api dalam beberapa waktu terakhir menjadi sinyal positif bagi warga sekitar.

Langkah Mitigasi dan Pemantauan Jangka Panjang

Guna memastikan keamanan warga secara total, tim gabungan dari berbagai instansi, termasuk BPBD Sleman dan akademisi, akan melakukan pemantauan intensif selama satu bulan ke depan. Langkah ini diambil untuk melihat apakah ada fluktuasi tekanan gas atau munculnya retakan baru yang bisa menjadi jalur migrasi tambahan. Warga diminta untuk tetap tenang namun tetap waspada terhadap bau gas yang menyengat atau adanya retakan baru di lantai rumah mereka.

Pemeriksaan awal menunjukkan bahwa secara umum gas tersebut tidak memiliki tekanan tinggi yang berisiko menyebabkan ledakan besar. Namun, risiko kebakaran tetap ada jika ventilasi rumah tidak memadai. Oleh karena itu, para ahli menyarankan agar rumah-rumah yang berada di jalur potensi gas memiliki sirkulasi udara yang sangat baik untuk mencegah penumpukan konsentrasi metana di dalam ruangan. Mitigasi bencana berbasis sains menjadi kunci utama dalam menangani fenomena langka ini.

Kasus di Seyegan ini juga menjadi pengingat bagi pemerintah daerah untuk lebih memperhatikan pemetaan geologi sebelum memberikan izin pembangunan pemukiman. Identifikasi kawasan bekas rawa atau jalur patahan aktif sangat krusial untuk menghindari kerugian materiil maupun psikis bagi warga di masa depan. Kini, dengan penjelasan ilmiah yang masuk akal, diharapkan masyarakat tidak lagi terjebak dalam mitos dan bisa mengambil langkah preventif yang tepat berdasarkan arahan para ahli geologi.

Kesimpulan dari Fenomena Seyegan

Peristiwa kebakaran 39 kali di Sleman ini adalah bukti nyata betapa dinamisnya kondisi geologi di bawah kaki kita. Apa yang kita bangun di atas permukaan seringkali bersinggungan dengan sejarah bumi yang terkubur jauh di bawah tanah. Berkat respon cepat dari tim geologi UPN Jogja, tabir misteri ini berhasil disingkap. Sains kembali membuktikan perannya dalam memberikan solusi dan ketenangan di tengah masyarakat yang dilanda kecemasan akibat fenomena alam unik.

Untuk saat ini, fokus utama adalah memastikan bahwa jalur migrasi gas tersebut benar-benar telah tertutup atau setidaknya tekanan gasnya habis secara alami. Pemantauan berkala akan terus dilakukan demi menjamin keamanan warga di Padukuhan Mriyan X. Kejadian ini menambah catatan penting dalam studi geologi di Yogyakarta, khususnya mengenai potensi gas dangkal yang berasal dari sedimen organik masa lampau.

Rizky Ramadhan

Rizky Ramadhan

Mantan mekanik yang beralih menjadi jurnalis otomotif. Tulisannya dikenal tajam dalam mengulas performa mesin dan tren kendaraan masa depan di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *