Eksplorasi Teknologi Wuling Eksion: Kupas Tuntas Empat Mode Energi SUV Plug-in Hybrid Tercanggih

Bagus Setiawan | Totonews
04 Jun 2026, 16:41 WIB
Eksplorasi Teknologi Wuling Eksion: Kupas Tuntas Empat Mode Energi SUV Plug-in Hybrid Tercanggih

TotoNews — Kehadiran Wuling Eksion di kancah otomotif nasional bukan sekadar menambah daftar pilihan kendaraan ramah lingkungan, melainkan sebuah pernyataan berani tentang masa depan mobilitas yang fleksibel. Sebagai SUV berbasis Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), Eksion menawarkan solusi cerdas bagi konsumen yang menginginkan efisiensi mobil listrik tanpa harus terkekang oleh kekhawatiran jarak tempuh atau yang akrab disebut range anxiety.

Di balik desainnya yang modern, Wuling Eksion menggendong teknologi yang kompleks namun dikemas sedemikian rupa agar tetap intuitif bagi penggunanya. Inti dari performanya terletak pada kombinasi harmonis antara mesin bensin 1.5L Dedicated Hybrid Engine dan sistem transmisi canggih bernama Dedicated Hybrid Transmission (DHT). Tak lupa, baterai berkapasitas 20,5 kWh menjadi jantung elektrik yang memungkinkan kendaraan ini melaju tanpa emisi dalam jarak yang cukup signifikan untuk penggunaan harian.

Baca Juga

Menguak Penyebab Teknis Taksi Listrik Mogok di Rel Bekasi yang Berujung Tragedi Kereta Api

Menguak Penyebab Teknis Taksi Listrik Mogok di Rel Bekasi yang Berujung Tragedi Kereta Api

Sinergi Mesin dan Baterai: Melampaui Batas Jarak

Bagi para pencinta teknologi hybrid, Wuling Eksion menawarkan angka yang cukup fantastis di atas kertas. Dalam mode listrik murni, SUV ini mampu menempuh jarak hingga 125 km. Namun, daya tarik utamanya muncul ketika sistem hybrid bekerja secara penuh, di mana total jarak tempuh yang bisa dicapai menembus angka 1.000 km berdasarkan standar pengujian CLTC. Angka ini seolah menjawab tantangan infrastruktur pengisian daya yang belum merata di seluruh pelosok Indonesia.

Sistem penggerak Eksion dirancang untuk bekerja secara adaptif. Melalui intelegensi buatan dalam sistem kendalinya, mobil ini dapat berpindah mode secara otomatis antara sistem seri, paralel, hingga mode EV murni. “Pengendara sebenarnya tidak perlu pusing memilih secara manual dari mana tenaga berasal,” ungkap Danang Wiratmoko, Product Communication Manager Wuling Motors, dalam sebuah sesi edukasi teknologi.

Baca Juga

Tragedi Maut Probolinggo: Saat ‘Mesin Pencabut Nyawa’ Berwujud Truk Tanpa Uji KIR Kembali Beraksi

Tragedi Maut Probolinggo: Saat ‘Mesin Pencabut Nyawa’ Berwujud Truk Tanpa Uji KIR Kembali Beraksi

Danang menjelaskan bahwa transisi antara sistem seri dan paralel terjadi secara real-time mengikuti parameter berkendara seperti kecepatan, beban kendaraan, dan tekanan pada pedal gas. Semua perhitungan ini dilakukan oleh komputer mobil dalam hitungan milidetik guna memastikan efisiensi bahan bakar tetap berada di titik optimal tanpa mengorbankan performa SUV elektrifikasi ini.

Membedah Empat Mode Energi Utama

Meski sistem cerdasnya mampu bekerja secara mandiri, Wuling tetap memberikan kontrol penuh kepada pengemudi melalui empat mode penggunaan energi yang dapat diakses lewat head unit. Keempat mode tersebut adalah EV Max, EV First, Hybrid, dan Fuel Priority. Setiap mode memiliki karakteristik unik yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perjalanan pengguna.

Baca Juga

Aksi Heroik di Sepang: Pebalap Astra Honda Racing Team Dominasi Podium ARRC 2026

Aksi Heroik di Sepang: Pebalap Astra Honda Racing Team Dominasi Podium ARRC 2026

1. Mode EV Max: Maksimalisasi Daya Listrik

Mode EV Max diciptakan bagi mereka yang ingin merasakan pengalaman berkendara layaknya mobil listrik murni sepenuhnya. Dalam mode ini, sistem akan memprioritaskan penggunaan daya dari baterai 20,5 kWh hingga batas minimum yang diizinkan, yaitu sekitar 12 persen.

Selama daya baterai masih berada di atas ambang batas tersebut, mesin bensin tidak akan menyala sama sekali, bahkan jika pengemudi membutuhkan akselerasi spontan. Filosofinya adalah menghabiskan energi listrik yang lebih murah dan bersih terlebih dahulu sebelum beralih ke bahan bakar fosil. Begitu baterai menyentuh angka 12 persen, sistem secara otomatis akan beralih ke mode hybrid untuk menjaga kelangsungan perjalanan dan melindungi kesehatan sel baterai.

Baca Juga

Langkah Besar Toyota di Indonesia: Gandeng CATL, Produksi Baterai Hybrid Lokal dengan TKDN Capai 80 Persen

Langkah Besar Toyota di Indonesia: Gandeng CATL, Produksi Baterai Hybrid Lokal dengan TKDN Capai 80 Persen

2. Mode EV First: Keseimbangan Dinamis

Berbeda sedikit dengan EV Max, mode EV First bertindak sebagai penjaga keseimbangan. Mode ini akan mempertahankan daya baterai agar tidak merosot lebih rendah dari angka 35 persen. Ini adalah pilihan ideal bagi pengemudi yang ingin tetap memiliki cadangan daya listrik yang cukup untuk bermanuver di dalam kota setelah menempuh perjalanan jarak menengah.

Ketika level baterai mencapai batas 35 persen, mesin bensin 1.5L akan mulai aktif secara halus untuk membantu menggerakkan roda atau mengisi ulang daya baterai. Mode ini memberikan ketenangan pikiran bagi pengemudi yang ingin tetap efisien namun tetap waspada terhadap ketersediaan daya untuk kondisi jalan yang tak terduga.

3. Mode Hybrid: Performa yang Responsif

Jika Anda mencari sensasi berkendara yang halus namun bertenaga, mode Hybrid adalah jawabannya. Dalam pengaturan ini, sistem akan secara dinamis menyeimbangkan pasokan tenaga dari mesin bensin dan motor listrik berdasarkan beban kerja. Transisi antara keduanya hampir tidak terasa, memberikan driving experience yang serupa dengan mobil mewah.

Mode ini sangat cocok digunakan untuk perjalanan luar kota atau kondisi stop-and-go di kemacetan Jakarta. Efisiensi bahan bakar akan terjaga secara otomatis karena sistem selalu mencari celah untuk mematikan mesin bensin saat kendaraan melaju konstan atau saat melakukan deselerasi, di mana energi kinetik akan diubah kembali menjadi listrik melalui sistem regenerative braking.

4. Mode Fuel Priority: Strategi Cadangan Energi

Mode Fuel Priority adalah kebalikan dari filosofi EV Max. Di sini, sistem akan memprioritaskan penggunaan mesin bensin sejak awal perjalanan dimulai. Tujuannya bukan untuk mengabaikan efisiensi, melainkan untuk menjaga agar baterai tetap penuh atau berada di level yang tinggi.

Strategi ini sangat berguna jika Anda memulai perjalanan dari pinggiran kota menuju pusat kota yang macet. Dengan menggunakan mesin bensin di jalan tol (di mana mesin bensin bekerja paling efisien), Anda menyimpan daya baterai yang melimpah untuk digunakan saat memasuki zona kemacetan parah di pusat kota. Dengan begitu, Anda bisa melewati kemacetan dengan mode EV yang senyap dan bebas emisi.

Kelebihan Sistem Plug-in yang Fleksibel

Salah satu pembeda utama Wuling Eksion dibandingkan mobil hybrid konvensional adalah kemampuannya untuk diisi daya melalui colokan listrik (plug). Pengguna tidak hanya bergantung pada mesin bensin atau pengereman regeneratif untuk mengisi baterai. Eksion dilengkapi dengan charging port yang memungkinkan pengisian daya di rumah melalui home charging atau di stasiun pengisian daya umum (SPKLU).

Fleksibilitas ini menjadikan Eksion sebagai kendaraan transisi yang sempurna. Di hari kerja, pengguna bisa menggunakannya sebagai mobil listrik murni untuk pulang-pergi kantor dengan biaya operasional yang sangat rendah. Sementara di akhir pekan, mobil ini siap diajak bertualang lintas provinsi tanpa perlu khawatir mencari tempat pengisian daya di tengah jalan.

Kesimpulan: Masa Depan yang Praktis

Wuling Eksion melalui empat mode energinya membuktikan bahwa teknologi tinggi tidak harus merepotkan. Dengan pilihan yang beragam, pengemudi diberikan kebebasan untuk menentukan sendiri bagaimana mereka ingin mengonsumsi energi. Apakah ingin menjadi purist listrik dengan EV Max, atau menjadi pengatur strategi dengan Fuel Priority, semuanya tersedia dalam satu paket SUV yang tangguh.

Bagi konsumen yang menginginkan kepraktisan, Danang Wiratmoko menyarankan untuk cukup menggunakan mode EV First atau Hybrid. Kedua mode tersebut dinilai sudah lebih dari cukup untuk mengakomodasi sebagian besar kondisi jalanan di Indonesia. Kehadiran Wuling Eksion diharapkan mampu mempercepat adopsi kendaraan ramah lingkungan di tanah air, sekaligus memberikan standar baru bagi teknologi PHEV yang terjangkau dan fungsional.

Bagus Setiawan

Bagus Setiawan

Jurnalis senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di industri media. Spesialis dalam mengupas isu kebijakan publik dan investigasi peristiwa di kanal Feed News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *