Refleksi HNW: Menilik Pancasila Sebagai Perisai Tangguh Indonesia Hadapi Badai Krisis Global
TotoNews — Sejarah telah membuktikan bahwa Indonesia bukanlah bangsa yang mudah goyah. Dari badai krisis ekonomi hingga gejolak politik yang mengancam persatuan, negeri ini selalu punya cara untuk bangkit. Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (HNW), menegaskan bahwa kunci di balik ketangguhan tersebut tidak lain adalah pengamalan ideologi Pancasila secara murni dan konsekuen.
Dalam pandangan HNW, deretan ujian yang menerjang Indonesia bukanlah hal baru. Mulai dari krisis kepercayaan, ancaman komunisme, konflik pusat-daerah, hingga hantaman krisis global telah berkali-kali mencoba merobek tenun kebangsaan kita. Namun, Indonesia tetap berdiri tegak. Hal ini menjadi refleksi penting di tengah bayang-bayang ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berpotensi memicu ketidakpastian dunia.
Menagih Janji Emansipasi: Lestari Moerdijat Tekankan Kebebasan Berpikir Perempuan Belum Sepenuhnya Terwujud
Belajar dari Runtuhnya Raksasa Dunia
HNW memberikan narasi komparatif yang menarik saat berbicara dalam Forum Diskusi Aktual Berbangsa dan Bernegara di Pangkalpinang. Beliau membandingkan nasib Indonesia dengan Uni Soviet dan Yugoslavia. Uni Soviet, yang dulunya adalah kekuatan adidaya dengan militer dan intelijen yang sangat disegani, justru hancur berkeping-keping menjadi 15 negara pada tahun 1991. Mengapa?
Menurut HNW, kehancuran tersebut terjadi karena ideologi bangsa mereka—komunisme—adalah produk impor yang tidak berakar pada nilai-nilai asli masyarakat setempat. Nasib serupa menimpa Yugoslavia yang kini hanya tinggal sejarah, terpecah menjadi tujuh negara merdeka akibat ego nasionalisme kedaerahan yang tak terbendung.
“Indonesia adalah negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, ratusan suku, dan beragam agama. Tanpa ideologi yang tumbuh dari rahim bumi sendiri, kita bisa saja bernasib sama seperti mereka. Namun, Pancasila hadir sebagai pemersatu yang digali oleh para pendiri bangsa dari akar budaya kita sendiri,” ujar HNW menekankan pentingnya ketahanan nasional.
Wajah Baru Polsek Panipahan: Transformasi Pelayanan Humanis dan Komitmen Total Bebas Narkoba
Pengorbanan Tokoh Bangsa Demi Persatuan
Menilik ke belakang, HNW mengingatkan kembali peran vital para tokoh agama dan nasionalis dalam Panitia Sembilan. Nama-nama besar seperti KH Wahid Hasyim, Agus Salim, hingga tokoh Kristiani AA Maramis, bekerja bahu-membahu menyusun Piagam Jakarta. Kedewasaan politik para tokoh Islam kala itu patut diteladani; mereka dengan lapang dada menghapus tujuh kata dalam sila pertama demi menjaga keutuhan NKRI, yang kemudian kita kenal sebagai ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’.
Kontribusi ini membuktikan bahwa umat Islam dan para ulamanya sejak awal berada di garis terdepan dalam menjaga eksistensi negara. HNW juga menyebutkan bagaimana diksi-diksi Al-Qur’an seperti ‘Adil’ dan ‘Rakyat’ diserap ke dalam sila-sila Pancasila, menandakan harmoni antara nilai agama dan kebangsaan.
Mendes Yandri Susanto Pacu Potensi Ekonomi Luwuk Utara Lewat Pengembangan Desa Tematik Buah Naga
Mekanisme Bertahan di Tengah Krisis Modern
Menghadapi tantangan ekonomi saat ini, seperti fluktuasi harga BBM dan komoditas pangan, HNW optimis masyarakat Indonesia memiliki insting bertahan hidup yang luar biasa. Beliau mencontohkan bagaimana pedagang tempe mensiasati kenaikan harga kedelai dengan mengecilkan ukuran tanpa menghilangkan ketersediaan barang. Ini adalah simbol kecil dari mekanisme pertahanan sosial kita.
Oleh karena itu, HNW mendorong agar partai politik, khususnya partai Islam, terus konsisten menjadi solusi bagi krisis bangsa. Sebagaimana rekam jejak tokoh Islam seperti Mohammad Natsir melalui Mosi Integral-nya yang berhasil mengembalikan bentuk negara dari RIS kembali ke NKRI pada tahun 1950.
“Sudah sewajarnya jika umat Islam dan organisasi kebangsaan tidak dipinggirkan. Justru, mereka harus dipercaya kembali menjadi garda terdepan untuk menyelesaikan berbagai krisis, termasuk dampak dari ketegangan di Timur Tengah yang mulai terasa di tanah air,” pungkasnya dalam acara yang digelar bersama DPW PKS Bangka Belitung tersebut.
Tragedi Longsor Ambon: Talud TPU Galunggung Ambruk, 10 Kerangka Jenazah Tersapu ke Halaman Masjid
Melalui penguatan nilai-nilai sejarah Indonesia dan Pancasila, diharapkan generasi muda memahami bahwa NKRI bukan sekadar warisan, melainkan amanah yang harus dijaga dengan komitmen kebangsaan yang utuh.